Aku Tak Boleh Bersinar

Ada orang-orang yang merasa tenteram ketika halaman hidupku kosong,

tanpa satu pun goresan tinta.
Seakan diamku adalah ketenangan bagi mereka,
seakan ketidak-bergerakanku adalah doa yang mereka panjatkan diam-diam.

Ada orang-orang yang memilih tuli
saat prestasi disebutkan dengan namaku.
Bukan karena telinga mereka rusak,
melainkan karena mendengar keberhasilanku
terlalu bising bagi ruang batin mereka sendiri.

Ada pula yang bersedih—
bukan karena aku jatuh,
melainkan karena aku berdiri lebih tegak dari yang mereka bayangkan.
Kesedihan itu aneh,
lahir bukan dari kehilangan,
melainkan dari perbandingan yang tak pernah kuminta.

Kadang aku merasa kebaikanku
menjadi semacam dosa tak tertulis.
Seolah setiap langkah maju
adalah tuduhan diam terhadap mereka yang memilih diam.
Seolah setiap cahaya yang kupelihara
menyebabkan bayang-bayang panjang di hati orang lain.

Aku bertanya pada malam:
haruskah aku memadamkan diriku
agar orang lain merasa terang?
Haruskah aku mengecil
supaya tak ada yang merasa rendah?

Namun hidup bukan lomba untuk membuat semua orang nyaman.
Ia adalah perjalanan sunyi
antara aku dan nurani.
Aku menulis bukan untuk menyakiti,
aku berprestasi bukan untuk merendahkan,
aku menjadi lebih baik bukan untuk melukai siapa pun.

Jika kebaikanku melahirkan sedih di hati orang lain,
itu bukan kesalahanku,
melainkan undangan bagi mereka
untuk berdamai dengan dirinya sendiri.

Maka biarlah tintaku tetap mengalir,
biarlah namaku tetap disebut oleh usaha,
biarlah aku tumbuh—
meski ada yang memilih berpaling.

Sebab aku tidak diciptakan
untuk menjadi bayangan bagi ketakutan orang lain,
melainkan cahaya bagi jalanku sendiri.


[generate by Chat GPT]

Post a Comment for "Aku Tak Boleh Bersinar"