Sujud di Atas Bara

Di pundaknya, dunia pernah terasa seberat batu semesta, Langkah kakinya menapak jejak yang kadang berdarah. Ia berjalan melintasi musim yang tak selalu ramah, Namun wajahnya adalah telaga yang tenang, tanpa amarah.

Ketika badai datang menghantam dinding dadanya, Dan kepahitan menyuguhkan cawan yang harus direguknya, Ia tak berpaling, tak juga mengutuk nasib yang fana, Sebab baginya, setiap perih adalah surat cinta dari Sang Pencipta.

Meski hinaan datang bak debu yang mengotori jubahnya, Dan fitnah mencoba meruntuhkan harga diri di matanya, Ia hanya tersenyum, sebuah lengkung tulus yang magis, Sebab pujian manusia baginya hanyalah fatamorgana yang tipis.

"Tuhanku," bisiknya di keheningan malam yang sunyi, "Jika pilu ini adalah cara-Mu memelukku lebih erat lagi, Maka biarlah aku tenggelam dalam samudera kehendak-Mu, Sebab tak ada yang lebih manis dari keridaan-Mu padaku."

Ia tak lagi melihat masalah sebagai sebuah siksa, Melainkan belaian kasih dari Zat Yang Maha Bijaksana. Setiap duka adalah pembersih karat di dalam jiwa, Setiap luka adalah pintu masuk bagi cahaya-Nya.

Lelaki itu berjalan dengan langkah yang ringan, Melepaskan beban yang selama ini menjadi tanggungan. Dunia boleh merendahkannya hingga ke dasar tanah, Namun hatinya tetap terbang tinggi, bersandar pada Allah.

Ia bahagia, bukan karena hidupnya tanpa air mata, Tapi karena ia tahu, air matanya tak pernah jatuh sia-sia. Dalam senyum leganya, tersimpan rahasia yang dalam: Bahwa bersama Tuhan, kepahitan pun adalah madu yang tentram.

[generate by Gemini & Nano Banana]

Post a Comment for "Sujud di Atas Bara"