Di Ujung Kayu dan Lumpur
Namun malam itu, hutan datang bertamu tanpa permisi Ia tidak membawa ketenangan, ia membawa amarah Air berubah menjadi lidah hitam yang menjilat langit-langit Dan kayu-kayu itu—gelondongan raksasa tanpa jiwa— Datang seperti barisan nisan yang meluncur dari bukit Menghantam dinding, menghancurkan mimpi, Merobek pegangan tangan ibu yang gemetar.
Aku melihat rumah kami lumat
Hanya dalam satu kedipan yang perih Ayah hilang, adik tenggelam dalam riuh Dan aku, dilempar takdir ke dahan yang rapuh Hingga tangan asing menarikku dari maut yang keruh.
Kini, aku berdiri di atas sisa-sisa duniaku Lumpur ini adalah makam bagi boneka dan bajuku Aku tidak punya apa-apa, bahkan namaku sendiri terasa asing Sebab tak ada lagi suara ibu yang memanggilnya saat petang Tak ada lagi tangan ayah yang mengusap debu di kening.
Perutku adalah ruang kosong yang terus berteriak Mengingat aroma nasi hangat yang kini jadi angan Aku menatap jalanan yang lumpuh, jembatan yang patah Di sana, di balik bukit yang longsor, Konvoi bantuan terjebak dalam pelukan tanah.
Aku menunggu uluran tangan yang tak kunjung tiba Melihat helikopter melintas jauh seperti capung besi Mereka membawa harapan, tapi aku di sini masih sendiri Mengenakan baju kebesaran milik orang yang tak kukenal Yang baunya bukan bau rumah, bukan bau pelukan yang kekal.
Siapa aku sekarang?
Hanya sebutir debu di tengah bencana besar Seorang anak yang hartanya hanyalah napas yang tersisa Dikelilingi kayu-kayu hutan yang dulu kucintai Namun kini menjadi pembunuh keluarga yang paling kucaci.
Aku lapar, Tuhan. Tapi lebih dari roti, aku lapar akan sapaan Aku dingin, Tuhan. Tapi lebih dari baju, aku kedinginan karena kesepian. Di jalur transportasi yang mati ini, Aku hanya bisa menunggu, apakah hari esok masih punya hati?
[generate by Gemini & Nano Banana]

Post a Comment for "Di Ujung Kayu dan Lumpur"