Terlalu Melihat Hidup Orang, Lupa Paham Hidup Sendiri

Ada satu kebiasaan modern yang perlahan menjadi sangat normal, padahal dampaknya cukup dalam terhadap cara manusia menjalani hidup: kita terlalu sering melihat kehidupan orang lain, sampai lupa memahami kehidupan sendiri.

Media sosial awalnya hadir untuk mendekatkan manusia. Dan dalam banyak hal, itu memang terjadi. Kita bisa terhubung dengan teman lama, mengetahui kabar keluarga, belajar banyak hal baru, bahkan membangun peluang ekonomi dari sana.

Tapi seperti banyak hal lain dalam kehidupan modern, sesuatu yang awalnya membantu perlahan berubah menjadi ruang yang membentuk cara manusia memandang dirinya sendiri.

Hari ini, banyak orang tidak lagi sekadar menggunakan media sosial. Mereka hidup di dalamnya.

Bangun tidur membuka media sosial.
Makan sambil melihat media sosial.
Merasa bosan sedikit, kembali membuka media sosial.

Lama-lama, batas antara kehidupan nyata dan kehidupan digital mulai kabur.

Masalahnya, media sosial bukan ruang yang netral. Ia bekerja dengan logika perhatian. Semakin sesuatu memancing emosi, semakin besar kemungkinan ditampilkan. Semakin menarik tampilan hidup seseorang, semakin besar kemungkinan mendapat respons. Akibatnya, manusia perlahan terbiasa melihat kehidupan dalam versi yang sudah dipilih, dipoles, dan ditampilkan sebaik mungkin.

Dan tanpa sadar, kita mulai membandingkan kehidupan nyata dengan potongan-potongan kehidupan orang lain yang sebenarnya tidak pernah utuh.

Kita melihat orang lain liburan, lalu merasa hidup kita membosankan.
Melihat pencapaian orang lain, lalu merasa tertinggal.
Melihat hubungan orang lain terlihat harmonis, lalu mulai meragukan hidup sendiri.

Padahal yang dibandingkan sering bukan realitas dengan realitas, tapi realitas dengan pencitraan.

Ironisnya, semakin sering manusia melihat “kehidupan ideal” di layar, semakin sulit ia menerima kehidupan normal yang sebenarnya sedang ia jalani sendiri.

Yang sederhana terasa kurang menarik.
Yang biasa terasa gagal.
Yang tenang terasa tidak cukup bernilai untuk ditampilkan.

Padahal sebagian besar kehidupan nyata memang berjalan biasa-biasa saja. Tidak selalu estetik. Tidak selalu produktif. Tidak selalu penuh pencapaian besar. Dan itu normal.

Tapi media sosial perlahan menggeser standar itu. Hidup seperti harus selalu menarik, selalu berkembang, selalu terlihat bahagia. Akibatnya banyak orang akhirnya merasa lelah mempertahankan citra yang bahkan tidak selalu sesuai dengan keadaan dirinya sendiri.

Di titik tertentu, manusia modern mulai lebih sibuk terlihat hidup daripada benar-benar menjalani hidup.

Yang lebih mengkhawatirkan, keadaan ini tidak selalu terasa berbahaya karena terjadi secara halus. Sedikit demi sedikit. Sampai akhirnya manusia terbiasa hidup dalam perbandingan tanpa sadar.

Dan ketika hidup terlalu dipenuhi perbandingan, rasa syukur biasanya mulai melemah.

Kita jadi sulit menikmati apa yang sudah dimiliki karena perhatian terus diarahkan pada apa yang dimiliki orang lain. Akhirnya hidup terasa seperti perlombaan tanpa garis akhir. Selalu ada seseorang yang terlihat lebih berhasil, lebih menarik, lebih mapan, atau lebih bahagia.

Padahal ketenangan hidup tidak selalu lahir dari memiliki lebih banyak, tapi dari kemampuan menerima hidup dengan lebih utuh.

Bukan berarti media sosial sepenuhnya buruk. Masalahnya mungkin bukan pada teknologinya, tapi pada cara manusia menggunakannya tanpa kesadaran yang cukup. Ketika media sosial digunakan terus-menerus tanpa jarak, manusia mudah kehilangan ruang untuk benar-benar hadir dalam hidupnya sendiri.

Mungkin sebab itu banyak orang hari ini sulit merasa tenang meskipun hidupnya sebenarnya tidak buruk. Karena pikirannya terlalu penuh oleh kehidupan orang lain.

Dan bisa jadi, salah satu bentuk kebebasan modern yang mulai langka sekarang adalah kemampuan untuk hidup tanpa terus-menerus merasa harus dibandingkan.

Post a Comment for "Terlalu Melihat Hidup Orang, Lupa Paham Hidup Sendiri"