Ramadhan: Sebuah "Tombol Jeda" untuk Jiwa yang Berisik
Ramadhan: Sebuah "Tombol Jeda" untuk Jiwa yang Berisik
Dunia kita hari ini sangatlah bising. Sejak mata terbuka hingga terpejam lagi, kita terus dikejar oleh detak jam, tumpukan tagihan, notifikasi ponsel, hingga ambisi yang tidak ada habisnya. Kita seringkali merasa seperti mesin yang dipaksa bekerja lembur tanpa pernah dimatikan.
Lalu, datanglah Ramadhan.
Banyak orang melihat Ramadhan sebagai bulan "larangan"—tidak boleh makan, tidak boleh minum, tidak boleh ini dan itu. Namun, jika kita sedikit bergeser sudut pandang, Ramadhan sebenarnya adalah sebuah hadiah berupa jeda.
Bukan Tentang Mengosongkan Perut, Tapi Mengisi Hati
Selama sebelas bulan, kita sibuk memberi makan raga kita. Kita memanjakan lidah dengan berbagai rasa, namun seringkali lupa memberi "makan" pada batin kita yang lapar akan ketenangan.
Saat kita berhenti makan dan minum di siang hari, sebenarnya kita sedang berkata pada tubuh kita: "Ssst, tenanglah sebentar. Berhentilah menuntut." Di saat raga melemah karena lapar, di situlah batin kita punya kesempatan untuk menguat. Kita dipaksa untuk sadar bahwa kita bukan sekadar daging dan tulang, tapi ada ruh yang butuh disapa.
Belajar Menjadi "Manusia" Kembali
Ramadhan adalah momen di mana kita semua—baik si kaya maupun si miskin, pejabat maupun rakyat jelata—berdiri di garis start yang sama. Kita sama-sama merasakan perihnya haus dan lemasnya lapar.
Sudut pandang ini mengajarkan kita kerendahan hati. Di depan sepiring takjil saat Maghrib tiba, semua gelar dan harta menjadi tidak relevan. Yang ada hanyalah rasa syukur yang murni atas seteguk air putih. Ramadhan mengajari kita untuk kembali menjadi manusia yang sederhana, yang sadar bahwa kebahagiaan sejati seringkali datang dari hal-hal kecil yang selama ini kita anggap biasa.
Sebuah Perjalanan Pulang
Jika hidup adalah sebuah perjalanan panjang yang melelahkan, maka Ramadhan adalah rest area atau tempat persinggahan.
Kita berhenti sejenak dari amarah yang meledak-ledak.
Kita mengerem lisan dari kata-kata yang menyakiti.
Kita menjeda ego yang selalu ingin menang sendiri.
Ramadhan bukan datang untuk menyiksa kita dengan rasa lapar, melainkan untuk mencuci kaca mata batin kita yang sudah buram oleh debu-debu duniawi. Agar setelah bulan ini berlalu, kita bisa melihat hidup dengan lebih jernih, lebih sabar, dan lebih penuh kasih..
Selamat datang Ramadhan 1447 H
[generate by Gemini & Nano Banana]

Post a Comment for "Ramadhan: Sebuah "Tombol Jeda" untuk Jiwa yang Berisik"