Belajar Menjadi Manusia dari Membaca Buku

Ada satu kebiasaan yang perlahan mulai tergeser di zaman modern: duduk tenang bersama sebuah buku.

Bukan karena buku sudah tidak ada. Justru jumlah buku hari ini mungkin lebih banyak daripada masa-masa sebelumnya. Namun perhatian manusia semakin pendek. Kita terbiasa membaca potongan-potongan informasi, ringkasan cepat, kutipan singkat, dan video berdurasi beberapa detik.

Akibatnya, banyak orang mengetahui banyak hal, tetapi sedikit yang benar-benar dipahami secara mendalam.

Padahal sejak lama, buku bukan sekadar sumber pengetahuan. Buku adalah ruang percakapan panjang antara manusia dengan pengalaman hidup orang lain.

Melalui buku, kita bisa duduk bersama orang-orang yang bahkan telah meninggal puluhan tahun lalu.

Kita bisa belajar dari kegelisahan mereka.

Dari kebijaksanaan mereka.

Dari kesalahan yang pernah mereka buat.

Dan dari cara mereka memahami kehidupan.

Budayawan Indonesia Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) pernah mengingatkan bahwa manusia tidak cukup hanya menjadi pintar, tetapi harus belajar menjadi manusia yang utuh. Sebab ilmu yang tidak melahirkan kebijaksanaan sering kali hanya menambah kesombongan.

Kalimat itu terasa semakin relevan hari ini.

Karena dunia modern menghasilkan banyak orang yang kaya informasi, tetapi tidak selalu kaya pemahaman.

Kita mengetahui berita terbaru.

Mengikuti tren terbaru.

Menguasai teknologi terbaru.

Tetapi belum tentu memahami diri sendiri.

Belum tentu memahami orang lain.

Belum tentu memahami makna hidup yang sedang dijalani.

Mungkin itu sebabnya membaca buku memiliki nilai yang berbeda.

Buku memaksa kita melambat.

Membuat kita tinggal lebih lama pada satu gagasan.

Mengajak kita mendengar pemikiran seseorang secara utuh sebelum menyimpulkan sesuatu.

Dan di zaman yang serba cepat, kemampuan untuk melambat justru menjadi semakin berharga.

Sastrawan besar Indonesia Pramoedya Ananta Toer pernah menulis:

"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan sejarah."

Banyak orang mengutip kalimat itu untuk membicarakan pentingnya menulis. Namun bagi saya, ada makna lain yang juga menarik.

Bahwa manusia meninggalkan jejak melalui gagasan.

Melalui pemikiran.

Melalui cerita.

Dan buku adalah salah satu cara terbaik untuk mewariskan pengalaman kemanusiaan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Karena itulah membaca sebenarnya bukan sekadar aktivitas intelektual.

Ia adalah latihan menjadi manusia.

Ketika membaca novel, kita belajar memahami perasaan orang lain.

Ketika membaca sejarah, kita belajar rendah hati terhadap waktu.

Ketika membaca filsafat, kita belajar mempertanyakan keyakinan kita sendiri.

Ketika membaca karya-karya keagamaan, kita belajar menempatkan diri dalam perspektif yang lebih luas daripada sekadar kepentingan pribadi.

Buya Hamka, salah satu ulama, sastrawan, dan intelektual terbesar Indonesia, pernah menunjukkan melalui karya-karyanya bahwa ilmu pengetahuan dan kebeningan hati tidak perlu dipertentangkan.

Dalam Tenggelamnya Kapal Van der Wijck maupun Tasawuf Modern, Hamka mengajarkan bahwa manusia tidak hanya membutuhkan kecerdasan berpikir, tetapi juga kejernihan batin.

Dan mungkin inilah yang mulai langka hari ini.

Kita sibuk mengumpulkan informasi.

Tetapi jarang memberi waktu bagi informasi itu untuk berubah menjadi kebijaksanaan.

Kita terus membaca layar.

Tetapi semakin sedikit membaca kehidupan.

Padahal buku yang baik sering kali tidak memberikan jawaban.

Ia memberikan pertanyaan yang lebih baik.

Ia membuat kita melihat dunia dari sudut yang berbeda.

Membuat kita sadar bahwa hidup jauh lebih luas daripada pengalaman pribadi kita sendiri.

Mungkin itu sebabnya orang-orang besar hampir selalu dekat dengan buku.

Bukan karena mereka ingin terlihat pintar.

Tetapi karena mereka memahami bahwa manusia yang berhenti belajar perlahan akan kehilangan kedalaman.

Dan kedalaman tidak lahir dari kecepatan.

Ia tumbuh dari perenungan.

Dari kesediaan mendengar.

Dari keberanian membuka pikiran terhadap gagasan-gagasan yang berbeda.

Pada akhirnya, membaca buku bukan tentang berapa banyak halaman yang selesai.

Bukan tentang berapa banyak judul yang dikoleksi.

Melainkan tentang bagaimana setiap bacaan sedikit demi sedikit membentuk cara kita memandang kehidupan.

Karena bisa jadi, di tengah dunia yang semakin bising dan tergesa-gesa, salah satu bentuk perlawanan paling sunyi adalah menyediakan waktu untuk duduk bersama sebuah buku, lalu belajar kembali menjadi manusia.

Post a Comment for "Belajar Menjadi Manusia dari Membaca Buku"