Menjaga Akal Sehat di Tengah Kebisingan Zaman
Bukan suara kendaraan.
Bukan suara pasar.
Bukan suara keramaian kota.
Melainkan suara opini.
Setiap hari kita dibanjiri pendapat. Dari media sosial, grup percakapan, video pendek, berita, komentar, podcast, hingga orang-orang yang bahkan tidak pernah kita temui secara langsung.
Semua berbicara.
Semua merasa perlu didengar.
Semua merasa memiliki kebenaran.
Dan di tengah kebisingan itu, semakin banyak manusia kehilangan kemampuan untuk berpikir dengan tenang.
Kita menjadi cepat bereaksi.
Cepat marah.
Cepat menghakimi.
Cepat mengambil kesimpulan.
Padahal belum tentu memahami persoalannya secara utuh.
Budayawan Indonesia Nurcholish Madjid (Cak Nur) pernah mengingatkan bahwa salah satu ciri masyarakat yang sehat adalah kemampuan berpikir terbuka tanpa kehilangan prinsip.
Kalimat itu terasa sangat penting hari ini.
Karena banyak orang justru terjebak pada dua kutub yang sama-sama berbahaya.
Ada yang menutup diri dari semua pandangan berbeda.
Ada pula yang menerima semua informasi tanpa proses berpikir kritis.
Keduanya membuat manusia mudah terseret arus.
Padahal akal sehat tumbuh dari keseimbangan.
Mau mendengar.
Mau belajar.
Tetapi juga mau berpikir.
Sastrawan besar Indonesia Pramoedya Ananta Toer pernah menulis:
"Dalam hidup, orang boleh kehilangan apa saja, tetapi jangan kehilangan keberanian berpikir."
Kalimat itu mungkin sederhana.
Namun justru di era digital, keberanian berpikir menjadi semakin mahal.
Karena berpikir membutuhkan waktu.
Sedangkan algoritma menyukai kecepatan.
Berpikir membutuhkan ketenangan.
Sedangkan media sosial tumbuh dari emosi.
Berpikir membutuhkan keraguan yang sehat.
Sedangkan dunia digital sering meminta manusia segera memilih kubu.
Akibatnya banyak orang lebih sibuk mencari pembenaran daripada mencari pemahaman.
Yang dicari bukan kebenaran.
Melainkan kemenangan.
Dan ketika kemenangan menjadi tujuan utama, percakapan berubah menjadi pertarungan.
Bukan lagi ruang belajar.
Penulis dan ulama besar Indonesia Buya Hamka pernah menulis bahwa orang yang berilmu seharusnya menjadi semakin rendah hati, karena semakin banyak pengetahuan yang diperoleh, semakin ia menyadari luasnya hal-hal yang belum diketahuinya.
Pandangan ini terasa kontras dengan keadaan hari ini.
Sedikit membaca.
Merasa paling tahu.
Sedikit memahami.
Merasa paling benar.
Padahal ilmu yang sejati sering membuat seseorang lebih berhati-hati dalam berbicara.
Karena ia memahami bahwa kenyataan tidak selalu sesederhana yang terlihat.
Mungkin itulah yang mulai hilang dari kehidupan modern.
Kemampuan untuk diam sebelum bereaksi.
Kemampuan untuk mendengar sebelum menilai.
Kemampuan untuk memahami sebelum menyimpulkan.
Padahal banyak konflik lahir bukan karena perbedaan pendapat.
Melainkan karena manusia tidak lagi memiliki kesabaran untuk saling memahami.
Kalau dipikirkan lebih dalam, akal sehat sebenarnya bukan kemampuan mengetahui semua hal.
Akal sehat adalah kemampuan menempatkan sesuatu secara proporsional.
Tidak mudah panik.
Tidak mudah terprovokasi.
Tidak mudah terbawa keramaian.
Tetap mampu melihat persoalan dengan jernih meskipun suasana sedang panas.
Dan kemampuan seperti itu tidak lahir dari banyaknya informasi.
Ia lahir dari kedalaman berpikir.
Dari kebiasaan membaca.
Dari kesediaan mendengar berbagai sudut pandang.
Dari keberanian mengakui bahwa kita mungkin belum sepenuhnya benar.
Mungkin itu sebabnya para budayawan, sastrawan, dan ulama besar Indonesia selalu menekankan pentingnya pendidikan batin selain pendidikan intelektual.
Karena manusia tidak hanya membutuhkan pengetahuan.
Ia juga membutuhkan kebijaksanaan.
Pengetahuan membantu kita memahami dunia.
Tetapi kebijaksanaan membantu kita memahami bagaimana seharusnya hidup di dalam dunia itu.
Dan bisa jadi, di tengah zaman yang semakin bising ini, salah satu bentuk kemerdekaan yang paling berharga adalah kemampuan menjaga akal sehat ketika semua orang sedang sibuk berteriak.

Post a Comment for "Menjaga Akal Sehat di Tengah Kebisingan Zaman"