Ada Saatnya Diam Adalah Bentuk Kebijaksanaan
"Tidak setiap pendapat harus diucapkan. Tidak setiap perdebatan harus dimenangkan. Kadang, diam adalah cara terbaik menjaga hati, akal, dan hubungan antarmanusia."
Pendahuluan: Pelajaran dari Sebuah Percakapan yang Tidak Terjadi
Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah komentar di media sosial.
Seseorang menulis dengan nada yang tajam.
Ia menyindir.
Merendahkan.
Bahkan menghina orang lain yang berbeda pendapat.
Jujur saja, saya sempat ingin membalas.
Jari saya sudah berada di atas papan ketik.
Kalimat demi kalimat mulai tersusun di kepala.
Saya merasa memiliki argumen yang lebih kuat.
Saya yakin bisa membuktikan bahwa ia keliru.
Namun entah mengapa saya berhenti.
Saya menutup aplikasi itu.
Lalu berjalan keluar rumah.
Beberapa menit kemudian saya bertanya kepada diri sendiri.
"Kalaupun saya menang dalam perdebatan itu, apa yang sebenarnya saya menangkan?"
Pertanyaan itu tidak segera menemukan jawaban.
Tetapi sejak saat itu saya mulai belajar bahwa tidak semua pertempuran layak diikuti.
Dunia yang Menghargai Kecepatan Berbicara
Hari ini kita hidup dalam budaya yang mendorong semua orang untuk segera bereaksi.
Ada berita baru.
Kita diminta berkomentar.
Ada peristiwa.
Kita diminta memilih kubu.
Ada kesalahan seseorang.
Kita diminta ikut menghakimi.
Diam sering dianggap kelemahan.
Seolah-olah seseorang baru dianggap peduli jika ia segera berbicara.
Padahal tidak semua persoalan membutuhkan suara.
Sebagian justru membutuhkan keheningan.
Karena di dalam keheningan, emosi memiliki kesempatan untuk mereda.
Dan akal memperoleh ruang untuk bekerja.
Epictetus: Kita Memiliki Dua Telinga dan Satu Mulut
Filsuf Stoik Epictetus mengingatkan bahwa manusia memiliki dua telinga dan satu mulut agar lebih banyak mendengar daripada berbicara. Dalam Enchiridion dan Discourses, ia berulang kali menekankan pentingnya mengendalikan diri sebelum bereaksi terhadap sesuatu.*(1)
Bagi Epictetus, kebebasan sejati bukanlah mengatakan apa pun yang kita inginkan.
Melainkan mampu menguasai diri sendiri.
Termasuk menguasai dorongan untuk selalu menjawab.
Nasihat ini terasa semakin relevan di era media sosial.
Sering kali masalah bukan muncul karena kita tidak tahu apa yang harus dikatakan.
Masalah muncul karena kita tidak mampu menahan diri untuk tidak mengatakannya.
Buya Hamka: Menjaga Lisan Berarti Menjaga Diri
Dalam Tasawuf Modern, Hamka menjelaskan bahwa salah satu tanda kematangan jiwa adalah kemampuan mengendalikan ucapan.*(2)
Lisan yang tidak terjaga dapat melukai lebih dalam daripada luka fisik.
Karena kata-kata dapat tinggal bertahun-tahun di dalam ingatan seseorang.
Hamka tidak mengajarkan manusia menjadi pasif.
Beliau mengajarkan agar setiap perkataan lahir dari hati yang bersih.
Ada perbedaan besar antara berbicara karena bijaksana dan berbicara karena dorongan emosi.
Blaise Pascal: Kebisingan yang Menghalangi Manusia Mengenal Diri
Filsuf Prancis Blaise Pascal, dalam Pensées, menulis bahwa banyak penderitaan manusia berasal dari ketidakmampuannya duduk tenang sendirian di sebuah ruangan.*(3)
Kalimat itu terasa sangat modern.
Hari ini kita hampir selalu dikelilingi suara.
Notifikasi.
Video.
Podcast.
Percakapan.
Komentar.
Kita takut sepi.
Padahal sering kali justru di dalam kesunyian manusia mulai mengenal dirinya sendiri.
Diam bukan sekadar tidak berbicara.
Diam adalah kesempatan mendengar suara hati yang selama ini tenggelam oleh kebisingan.
Tidak Semua Kebenaran Harus Diucapkan Saat Itu Juga
Semakin bertambah usia, saya mulai memahami bahwa waktu juga merupakan bagian dari kebijaksanaan.
Sebuah kalimat yang benar dapat menjadi menyakitkan jika diucapkan pada saat yang salah.
Sebuah kritik yang baik dapat berubah menjadi penghinaan jika disampaikan tanpa empati.
Karena itu, kebijaksanaan bukan hanya tentang apa yang dikatakan.
Tetapi juga kapan, bagaimana, dan mengapa sesuatu dikatakan.
Kadang-kadang, diam beberapa saat membuat kita mampu berbicara dengan jauh lebih baik.
Diam Bukan Berarti Takut
Ada orang yang diam karena tidak berani.
Tetapi ada pula orang yang diam karena sudah memahami bahwa tidak semua konflik layak dipelihara.
Kita sering mengira keberanian selalu tampak dalam suara yang keras.
Padahal keberanian juga tampak dalam kemampuan menahan diri.
Menahan amarah.
Menahan ego.
Menahan keinginan untuk selalu menjadi orang terakhir yang berbicara.
Diam yang lahir dari kebijaksanaan bukan tanda kelemahan.
Ia adalah bentuk penguasaan diri.
Refleksi Penulis
Dulu saya berpikir bahwa menjadi cerdas berarti selalu memiliki jawaban.
Sekarang saya justru lebih kagum kepada orang-orang yang tahu kapan harus berhenti berbicara.
Saya pernah menyesal karena terlalu cepat menjawab.
Tetapi saya hampir tidak pernah menyesal karena memilih diam beberapa saat untuk berpikir.
Mungkin karena keheningan memberi kita sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh keramaian.
Jarak.
Dan dari jarak itulah kita mulai melihat persoalan dengan lebih jernih.
Penutup
Barangkali kebijaksanaan bukan ditandai oleh banyaknya kata yang kita ucapkan.
Melainkan oleh kemampuan memilih kata yang benar-benar perlu diucapkan.
Karena tidak semua pendapat harus diumumkan.
Tidak semua perdebatan harus dimenangkan.
Tidak semua kesalahan harus segera dibalas.
Kadang, dunia tidak membutuhkan lebih banyak suara.
Dunia membutuhkan lebih banyak manusia yang mampu berpikir sebelum berbicara, mendengar sebelum menjawab, dan berdiam sejenak sebelum mengambil keputusan.
Pada akhirnya, diam bukanlah kekosongan.
Diam adalah ruang.
Dan di dalam ruang itulah, kebijaksanaan sering kali bertumbuh.
Daftar Bacaan
- Epictetus. Enchiridion dan Discourses. Terjemahan Robin Hard. Oxford University Press, 2014.
- Hamka. Tasawuf Modern. Jakarta: Republika Penerbit, berbagai edisi.
- Blaise Pascal. Pensées. Terjemahan A. J. Krailsheimer. Penguin Classics, 1995.

Post a Comment for "Ada Saatnya Diam Adalah Bentuk Kebijaksanaan"