Kebahagiaan Tidak Bisa Dibeli
"Semakin maju peradaban manusia, semakin banyak hal yang dapat dibeli. Namun justru pada saat yang sama, kita diingatkan bahwa hampir semua yang paling berharga dalam hidup ternyata tidak pernah memiliki harga."
Ketika Kita Mengira Kebahagiaan Ada di Etalase
Hampir setiap hari kita menerima pesan yang sama.
Ketika membuka media sosial, kita melihat seseorang memamerkan rumah barunya.
Ketika menonton video, muncul iklan yang mengatakan bahwa hidup akan lebih nyaman jika memiliki produk tertentu.
Ketika berjalan di pusat perbelanjaan, etalase toko disusun sedemikian rupa agar kita merasa ada sesuatu yang kurang dari diri kita.
Pesannya selalu halus, tetapi berulang.
"Kalau memiliki ini, hidupmu akan lebih bahagia."
Pesan seperti itu tidak selalu salah.
Sebagian barang memang membuat hidup menjadi lebih mudah.
Lemari es membantu menyimpan makanan.
Komputer memudahkan pekerjaan.
Mobil mempercepat perjalanan.
Rumah memberikan rasa aman.
Masalahnya bukan pada benda-benda itu.
Masalah muncul ketika kita mulai percaya bahwa kebahagiaan dapat dibeli seperti kita membeli barang di kasir.
Di sinilah kita perlu berhenti sejenak.
Karena sejarah manusia menunjukkan sesuatu yang menarik.
Belum pernah dalam sejarah ada generasi yang memiliki akses terhadap barang sebanyak hari ini.
Namun pada saat yang sama, berbagai survei internasional juga menunjukkan meningkatnya kesepian, kecemasan, dan tekanan psikologis di banyak negara modern.
Jika semakin banyak barang otomatis membuat manusia semakin bahagia, seharusnya dunia hari ini menjadi tempat yang paling damai.
Kenyataannya tidak demikian.
Apa yang Sebenarnya Kita Cari?
Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana.
Tetapi jawabannya tidak mudah.
Apakah kita benar-benar menginginkan mobil baru?
Ataukah kita menginginkan rasa dihargai?
Apakah kita benar-benar menginginkan rumah yang lebih besar?
Ataukah kita menginginkan rasa aman?
Apakah kita benar-benar menginginkan gawai terbaru?
Ataukah kita takut dianggap tertinggal?
Sering kali kita membeli sesuatu bukan karena membutuhkannya.
Melainkan karena berharap benda itu menghadirkan perasaan tertentu.
Padahal perasaan dan benda adalah dua hal yang berbeda.
Sebuah rumah dapat dibeli.
Rasa nyaman di dalam rumah tidak selalu ikut terbeli.
Kasur yang mahal dapat dibeli.
Tidur yang nyenyak belum tentu.
Jam tangan mewah dapat dibeli.
Waktu yang telah berlalu tidak.
Semakin lama saya menjalani kehidupan, semakin saya merasa bahwa manusia sering salah mengenali kebutuhannya sendiri.
Hamka: Kekayaan Hati Lebih Penting daripada Kekayaan Harta
Dalam Tasawuf Modern, Buya Hamka menjelaskan bahwa sumber kebahagiaan bukanlah bertambahnya harta, melainkan ketenteraman jiwa (thuma'ninah). Menurut Hamka, manusia yang hanya mengejar kenikmatan dunia akan terus diperbudak oleh keinginan yang tidak pernah selesai. Sebaliknya, hati yang terdidik dengan syukur dan pengendalian diri akan lebih mudah merasakan kebahagiaan meskipun hidup sederhana.*(1)
Pandangan Hamka menarik karena tidak mengajak manusia membenci kekayaan.
Beliau sendiri menghargai kerja keras, perdagangan, dan usaha yang halal.
Yang beliau kritik adalah ketika harta berubah dari alat menjadi tujuan hidup.
Kalimat itu tampaknya sederhana.
Tetapi jika direnungkan, ia menjelaskan banyak hal tentang kehidupan modern.
Hari ini banyak orang memiliki lebih banyak daripada generasi sebelumnya.
Namun mereka juga merasa memiliki lebih sedikit waktu.
Lebih sedikit ketenangan.
Lebih sedikit rasa cukup.
Hamka seolah mengingatkan bahwa yang perlu dididik bukan hanya kemampuan mencari rezeki.
Tetapi juga kemampuan mengatakan,
"Aku sudah cukup."
Erich Fromm: Memiliki atau Menjadi?
Pemikir Jerman-Amerika Erich Fromm mengangkat pertanyaan yang sangat menarik dalam bukunya To Have or To Be? (1976).
Ia membedakan dua cara manusia menjalani hidup.
Yang pertama adalah mode memiliki (having).
Yang kedua adalah mode menjadi (being).*(2)
Dalam mode having, identitas seseorang ditentukan oleh apa yang dimilikinya.
Mobil.
Rumah.
Jabatan.
Koleksi.
Rekening.
Sedangkan dalam mode being, nilai seseorang ditentukan oleh siapa dirinya.
Apakah ia jujur.
Apakah ia mampu mencintai.
Apakah ia bijaksana.
Apakah ia berguna bagi orang lain.
Fromm tidak mengatakan bahwa kepemilikan itu buruk.
Ia hanya mengingatkan bahwa manusia yang seluruh identitasnya bergantung pada kepemilikan akan selalu hidup dalam ketakutan.
Takut kehilangan.
Takut tersaingi.
Takut tertinggal.
Bukankah itu yang sering kita lihat hari ini?
Mohammad Hatta dan Martabat Kesederhanaan
Salah satu teladan yang selalu menarik untuk dibicarakan adalah Mohammad Hatta.
Dalam berbagai catatan biografi maupun otobiografinya, Hatta dikenal menjalani kehidupan yang sederhana dan sangat menjaga integritas.
Bagi Hatta, kekuasaan bukanlah sarana memperkaya diri.
Ia memandang jabatan sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan.*(3)
Kisah mengenai kesederhanaan Hatta sering diceritakan sebagai inspirasi etika pejabat publik di Indonesia.
Terlepas dari beberapa kisah populer yang kadang berkembang tanpa sumber primer yang jelas, satu hal yang dapat dipastikan dari tulisan dan kesaksian orang-orang terdekatnya adalah komitmen Hatta terhadap hidup bersahaja dan kejujuran.
Warisan terbesar Hatta bukanlah rumah mewah.
Bukan pula kekayaan.
Melainkan nama baik.
Dan nama baik memang tidak pernah bisa dibeli.
Ada Hal-Hal yang Tidak Pernah Dijual
Semakin saya memikirkannya, semakin panjang daftar hal yang tidak bisa dibeli.
Kepercayaan.
Persahabatan.
Kasih sayang seorang ibu.
Pelukan seorang anak.
Tidur yang tenang.
Hati yang damai.
Doa yang tulus.
Integritas.
Reputasi.
Waktu.
Semua itu tidak memiliki label harga.
Seorang miliarder dapat membeli rumah terbesar.
Tetapi tidak bisa membeli masa kecil yang telah lewat.
Ia bisa membeli obat terbaik.
Tetapi tidak selalu bisa membeli kesehatan.
Ia bisa membayar pesta paling megah.
Tetapi tidak bisa memaksa seseorang mencintainya dengan tulus.
Pada titik tertentu, manusia akan menyadari bahwa kehidupan ternyata memiliki mata uang yang berbeda.
Dan mata uang itu bukan rupiah.
Melainkan kasih sayang.
Kepercayaan.
Dan waktu.
Refleksi Penulis
Semakin dewasa, saya tidak lagi bertanya,
"Berapa banyak yang sudah aku miliki?"
Saya lebih sering bertanya,
"Apakah sesuatu yang aku miliki membuatku menjadi manusia yang lebih baik?"
Karena memiliki banyak tidak selalu salah.
Yang berbahaya adalah ketika seluruh harga diri bergantung pada apa yang dimiliki.
Saat itulah kehilangan satu benda terasa seperti kehilangan diri sendiri.
Mungkin kebahagiaan bukan tentang memiliki lebih banyak.
Mungkin kebahagiaan adalah kemampuan menikmati apa yang sudah ada tanpa berhenti bertumbuh sebagai manusia.
Penutup
Peradaban modern telah memberi kita banyak kemudahan.
Dan itu patut disyukuri.
Namun kemajuan teknologi tidak boleh membuat kita lupa bahwa nilai manusia tidak pernah diukur oleh isi garasinya, ukuran rumahnya, atau saldo rekeningnya.
Pada akhirnya, hidup akan selalu mengajarkan satu pelajaran yang sama.
Banyak hal dapat dibeli.
Tetapi yang paling berharga justru tidak.
Kepercayaan harus dibangun.
Cinta harus dipelihara.
Persahabatan harus dirawat.
Integritas harus dijaga.
Dan hati yang damai hanya dapat diperoleh ketika manusia berhenti menjadikan kepemilikan sebagai pusat hidupnya.
Barangkali di situlah letak kebahagiaan yang sesungguhnya.
Bukan pada apa yang kita genggam.
Melainkan pada siapa kita ketika semua yang kita genggam suatu hari harus kita lepaskan.
Daftar Bacaan
- Hamka. Tasawuf Modern. Jakarta: Republika Penerbit (berbagai edisi; karya asli diterbitkan pada 1939).
- Erich Fromm. To Have or To Be? New York: Harper & Row, 1976.
- Mohammad Hatta. Untuk Negeriku: Sebuah Otobiografi. Jakarta: Penerbit Buku Kompas (edisi modern); lihat juga Mohammad Hatta Memoir dan tulisan-tulisan Hatta tentang etika serta koperasi.

Post a Comment for "Kebahagiaan Tidak Bisa Dibeli"