Menasihati dengan Kasih Sayang, Bukan Mempermalukan

"Nasihat yang paling tulus sering kali tidak mencari tepuk tangan. Ia hanya mencari jalan agar seseorang menjadi lebih baik."

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah kalimat yang sederhana, tetapi terus terngiang di kepala.

"Siapa pun yang menasihatimu diam-diam tanpa orang lain tahu, sesungguhnya dia menginginkan kebaikan dalam hidupmu. Dan siapa pun yang menasihatimu di hadapan khalayak ramai, sesungguhnya dia ingin mempermalukanmu."

Saya tidak langsung menganggap kalimat itu sebagai kebenaran mutlak.

Sebab hidup tidak sesederhana dua kalimat.

Ada keadaan tertentu ketika kesalahan memang harus dikoreksi di ruang publik, terutama jika kesalahan itu juga dilakukan di ruang publik dan berdampak luas. Seorang pemimpin, pejabat, atau tokoh masyarakat misalnya, tetap harus bersedia menerima kritik terbuka demi kepentingan bersama.

Namun jika kita berbicara tentang hubungan antarmanusia sehari-hari—antara sahabat, keluarga, guru, murid, suami istri, orang tua dan anak—kalimat itu menyimpan kebijaksanaan yang sangat dalam.

Karena inti dari sebuah nasihat bukanlah menunjukkan bahwa kita benar.

Melainkan membantu orang lain menjadi lebih baik.

Dan cara menyampaikan nasihat sering kali sama pentingnya dengan isi nasihat itu sendiri.


Mengapa Nasihat Sering Sulit Diterima?

Kalau kita jujur kepada diri sendiri, hampir tidak ada orang yang senang dikoreksi.

Saya pun demikian.

Ketika ada orang menunjukkan kesalahan kita, reaksi pertama yang muncul sering kali bukan rasa syukur.

Melainkan pembelaan.

Kita segera mencari alasan.

Mencari pembenaran.

Atau diam-diam merasa tersinggung.

Padahal mungkin yang disampaikan memang benar.

Mengapa demikian?

Karena manusia bukan hanya memiliki akal.

Ia juga memiliki harga diri.

Ketika harga diri itu terasa terancam, telinga sering kali ikut tertutup.

Nasihat yang sebenarnya baik akhirnya tidak lagi terdengar sebagai kasih sayang.

Ia terdengar sebagai serangan.


Hamka dan Adab dalam Menasihati

Dalam berbagai tulisan dan ceramahnya, Buya Hamka berulang kali mengingatkan bahwa dakwah dan nasihat tidak cukup hanya benar isinya.

Ia juga harus benar caranya.

Hamka memahami bahwa manusia memiliki hati.

Dan hati tidak bisa dipaksa.

Hati lebih mudah disentuh oleh kelembutan daripada oleh penghinaan.

Beliau pernah menggambarkan bahwa perkataan yang baik ibarat hujan yang turun perlahan. Ia menyuburkan tanah tanpa merusaknya.

Sebaliknya, kata-kata yang kasar mungkin terdengar keras, tetapi sering kali hanya melukai tanpa benar-benar mengubah.

Saya membayangkan, jika seseorang benar-benar menginginkan kebaikan untuk kita, mengapa ia harus memilih cara yang membuat kita kehilangan martabat di hadapan orang lain?

Bukankah kasih sayang justru berusaha menjaga kehormatan orang yang dinasihati?


Kritik atau Pertunjukan?

Di era media sosial, saya melihat fenomena yang cukup mengkhawatirkan.

Semakin banyak orang yang gemar mengoreksi.

Tetapi semakin sedikit yang benar-benar ingin memperbaiki.

Kita melihat seseorang melakukan kesalahan.

Alih-alih menghubunginya secara pribadi, kita membuat unggahan panjang.

Alih-alih berdialog, kita membuat utas.

Alih-alih mencari solusi, kita mengumpulkan penonton.

Lama-kelamaan, kritik berubah menjadi tontonan.

Semakin ramai yang menyaksikan, semakin merasa berhasil.

Padahal pertanyaannya sederhana.

Apakah tujuan kita memperbaiki seseorang, atau memperlihatkan bahwa kita lebih benar darinya?

Pertanyaan itu penting.

Karena niat sering kali tersembunyi di balik kata-kata yang tampak mulia.


Gus Dur dan Menjaga Martabat Manusia

Salah satu pelajaran besar yang saya dapatkan dari Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah bahwa menghormati manusia berarti menjaga martabatnya.

Gus Dur dikenal sebagai pribadi yang mampu mengkritik dengan tajam, tetapi jarang merendahkan orang yang dikritiknya sebagai manusia.

Beliau memisahkan antara perbuatan dan pelakunya.

Kesalahan boleh dikoreksi.

Kebijakan boleh diperdebatkan.

Tetapi martabat manusia tetap harus dihormati.

Pandangan ini terasa semakin penting hari ini.

Karena kita hidup di zaman ketika mempermalukan orang sering dianggap hiburan.

Video seseorang yang terpeleset menjadi viral.

Kesalahan kecil segera disebarluaskan.

Aib seseorang menjadi bahan candaan bersama.

Padahal kita tidak pernah tahu seberapa berat beban yang sedang dipikulnya.


Nurcholish Madjid dan Etika Berdialog

Nurcholish Madjid (Cak Nur) banyak berbicara tentang pentingnya etika dalam kehidupan demokratis.

Beliau mengingatkan bahwa perbedaan pendapat adalah sesuatu yang wajar.

Yang menentukan kualitas sebuah masyarakat bukan ada atau tidaknya perbedaan.

Melainkan bagaimana perbedaan itu dikelola.

Kalau setiap kritik disampaikan dengan kemarahan dan penghinaan, yang lahir bukan dialog.

Yang lahir adalah permusuhan.

Sebaliknya, ketika kritik lahir dari rasa hormat, peluang perubahan menjadi jauh lebih besar.

Karena manusia lebih mudah menerima koreksi dari orang yang membuatnya merasa dihargai.


Menegur Secara Diam-Diam adalah Bentuk Penghormatan

Saya teringat sebuah pengalaman sederhana.

Suatu ketika seorang teman mendatangi saya setelah sebuah acara selesai.

Ia berkata pelan,

"Ada satu hal yang tadi mungkin bisa diperbaiki untuk acara berikutnya."

Tidak ada orang lain di sana.

Tidak ada yang mendengar.

Ia bisa saja mengatakannya di depan banyak orang.

Tetapi ia memilih menjaga perasaan saya.

Anehnya, justru karena cara itulah saya lebih mudah menerima masukannya.

Saya tidak merasa dipermalukan.

Saya merasa dihargai.

Dan saya belajar.

Mungkin inilah yang dimaksud oleh para ulama klasik ketika mengatakan bahwa nasihat yang paling baik adalah nasihat yang menjaga kehormatan saudaramu.

Karena tujuan nasihat bukan menjatuhkan.

Tujuannya mengangkat.


Imam Asy-Syafi'i dan Keindahan Menasihati

Ada sebuah syair yang sangat terkenal dari Imam Asy-Syafi'i:

"Nasihatilah aku ketika aku sendiri, dan jangan menasihatiku di tengah keramaian. Sebab nasihat di hadapan banyak orang adalah bentuk celaan yang tidak aku sukai."

Syair ini telah dikutip selama berabad-abad.

Bukan karena mengajarkan manusia anti kritik.

Tetapi karena memahami psikologi manusia.

Nasihat yang menjaga kehormatan lebih mudah diterima daripada nasihat yang mempertontonkan kesalahan.

Dan menariknya, kebijaksanaan ini juga sangat selaras dengan budaya Indonesia yang sejak lama menjunjung tinggi tata krama dan rasa hormat.


Tetapi Bagaimana Jika Kesalahannya Dilakukan di Ruang Publik?

Di sinilah saya merasa kita perlu bersikap adil.

Kalimat yang menjadi inspirasi tulisan ini mengandung hikmah, tetapi tidak boleh dipahami secara mutlak.

Ada keadaan ketika kritik terbuka memang diperlukan.

Misalnya ketika seseorang menyebarkan informasi yang salah kepada masyarakat.

Ketika seorang pejabat menyalahgunakan kewenangannya.

Ketika tindakan seseorang merugikan banyak orang.

Dalam keadaan seperti itu, kritik terbuka bisa menjadi bentuk tanggung jawab sosial.

Namun sekalipun demikian, kritik tetap tidak harus berubah menjadi penghinaan.

Kita bisa mengkritik tindakan tanpa menghancurkan martabat pelakunya.

Kita bisa tegas tanpa menjadi kasar.

Kita bisa berbeda pendapat tanpa kehilangan adab.


Sebelum Menasihati Orang Lain

Tulisan ini akhirnya membawa saya kepada pertanyaan yang lebih pribadi.

Berapa kali saya menasihati orang lain karena benar-benar ingin membantunya?

Dan berapa kali saya melakukannya hanya karena ingin terlihat lebih tahu?

Pertanyaan itu tidak nyaman.

Tetapi mungkin memang perlu.

Karena setiap kali kita hendak mengoreksi seseorang, ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri:

"Kalau tidak ada seorang pun yang melihatku menasihatinya, apakah aku masih akan melakukannya?"

Kalau jawabannya ya, mungkin niat kita memang tulus.

Tetapi kalau kita merasa kehilangan kepuasan karena tidak ada yang menyaksikan, mungkin ada ego yang sedang mencari panggung.


Penutup

Semakin bertambah usia, saya semakin percaya bahwa dunia ini tidak kekurangan orang yang pandai berbicara.

Yang masih langka adalah orang yang mampu menasihati dengan kasih sayang.

Orang yang berani berkata benar tanpa melukai.

Orang yang mengoreksi tanpa merendahkan.

Orang yang menjaga kehormatan saudaranya, bahkan ketika saudaranya sedang melakukan kesalahan.

Karena pada akhirnya, nasihat bukanlah tentang menunjukkan siapa yang paling benar.

Nasihat adalah tentang menghadirkan harapan bahwa seseorang masih memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik.

Dan mungkin, ukuran ketulusan sebuah nasihat bukan terletak pada seberapa keras suara kita ketika menyampaikannya.

Melainkan pada seberapa besar kasih sayang yang tetap dapat dirasakan oleh orang yang menerimanya.

Post a Comment for "Menasihati dengan Kasih Sayang, Bukan Mempermalukan"