Mengapa Kita Semakin Sulit Mendengarkan?
"Barangkali persoalan terbesar manusia hari ini bukan karena tidak ada yang berbicara. Persoalannya, hampir semua orang ingin didengar, tetapi semakin sedikit yang benar-benar mau mendengarkan."
Beberapa tahun terakhir, saya mulai menyadari satu perubahan kecil yang ternyata membawa dampak besar.
Percakapan menjadi semakin pendek.
Bukan karena kita kekurangan waktu.
Melainkan karena kita kekurangan perhatian.
Sering kali, ketika seseorang sedang bercerita, kita sebenarnya tidak benar-benar mendengarkan.
Kita hanya menunggu giliran berbicara.
Kita sudah menyiapkan jawaban sebelum lawan bicara selesai menyampaikan pikirannya.
Kita ingin segera memberikan solusi.
Segera mengoreksi.
Segera menunjukkan bahwa kita juga pernah mengalami hal yang sama.
Padahal mungkin, yang dibutuhkan orang di hadapan kita bukanlah jawaban.
Melainkan seseorang yang bersedia hadir sepenuhnya.
Yang mendengarkan tanpa terburu-buru.
Yang tidak segera menghakimi.
Yang tidak merasa harus memenangkan percakapan.
Dan semakin lama saya mengamati kehidupan hari ini, semakin terasa bahwa kemampuan mendengarkan sedang menjadi sesuatu yang langka.
Dunia yang Dipenuhi Suara
Belum pernah dalam sejarah manusia ada zaman yang menghasilkan begitu banyak suara seperti hari ini.
Media sosial membuat semua orang bisa berbicara.
Podcast bermunculan setiap hari.
Video pendek diproduksi setiap menit.
Komentar mengalir tanpa henti.
Semua orang memiliki panggung.
Semua orang memiliki mikrofon.
Semua orang memiliki kesempatan menyampaikan pendapat.
Ini adalah kemajuan yang patut disyukuri.
Demokratisasi informasi memberi ruang bagi lebih banyak suara untuk didengar.
Namun di balik itu muncul pertanyaan lain.
Apakah semakin banyak suara juga berarti semakin banyak orang yang saling memahami?
Jawabannya belum tentu.
Justru di tengah melimpahnya komunikasi, kita sering merasa semakin sulit dipahami.
Mengapa?
Karena komunikasi bukan hanya soal berbicara.
Komunikasi adalah tentang mendengar.
Mendengar Adalah Bentuk Penghormatan
Saya pernah membaca sebuah esai Goenawan Mohamad yang tidak secara langsung berbicara tentang mendengarkan, tetapi banyak mengulas pentingnya memberi ruang kepada orang lain.
Saya menangkap satu pesan yang sangat menarik.
Bahwa memahami seseorang membutuhkan kerendahan hati.
Kerendahan hati untuk menerima bahwa pengalaman hidup orang lain mungkin berbeda dengan pengalaman kita.
Hari ini, kerendahan hati seperti itu semakin sulit ditemukan.
Kita lebih cepat memberi label.
Lebih cepat mengambil kesimpulan.
Lebih cepat menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah.
Padahal setiap manusia membawa cerita yang tidak selalu tampak di permukaan.
Seseorang mungkin terlihat keras karena terlalu sering disakiti.
Seseorang mungkin terlihat pendiam karena pernah diabaikan.
Seseorang mungkin terlihat mudah marah karena sedang memikul beban yang tidak kita ketahui.
Kalau kita berhenti hanya lima menit untuk benar-benar mendengarkan, mungkin cara kita memandang orang itu akan berubah.
Gus Dur dan Kebesaran Hati untuk Mendengar
Salah satu hal yang selalu saya kagumi dari Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah kesediaannya berdialog dengan siapa saja.
Beliau berbicara dengan ulama.
Dengan seniman.
Dengan aktivis.
Dengan kelompok yang berbeda keyakinan.
Bahkan dengan mereka yang tidak sependapat dengannya.
Mengapa?
Karena Gus Dur memahami bahwa mendengar bukan berarti setuju.
Mendengar adalah bentuk penghormatan terhadap martabat manusia.
Hari ini kita sering salah memahami hal itu.
Kita mengira bahwa kalau mendengar pendapat orang lain berarti kita sedang mengalah.
Padahal tidak.
Kita hanya sedang berusaha memahami.
Dan memahami selalu lebih mulia daripada sekadar memenangkan perdebatan.
Hamka dan Adab Sebelum Ilmu
Dalam banyak karya Buya Hamka, saya menemukan bahwa ilmu selalu berjalan bersama akhlak.
Beliau tidak hanya berbicara tentang kecerdasan.
Beliau berbicara tentang adab.
Tentang cara memperlakukan sesama manusia.
Tentang bagaimana menjaga lisan.
Tentang bagaimana menggunakan ilmu agar tidak melukai orang lain.
Saya membayangkan, kalau Hamka hidup di era media sosial hari ini, mungkin beliau akan lebih banyak mengingatkan pentingnya menjaga percakapan daripada sekadar memperbanyak komentar.
Karena percakapan yang baik selalu lahir dari dua hal.
Kemampuan berbicara.
Dan kemampuan mendengar.
Kalau salah satunya hilang, yang tersisa hanyalah kebisingan.
Emha Ainun Nadjib: Belajar dari Siapa Saja
Dalam berbagai forum Maiyah, Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) sering memperlihatkan sesuatu yang menurut saya sangat indah.
Beliau tidak selalu menjadi orang yang paling banyak berbicara.
Beliau memberi ruang kepada banyak orang.
Mendengar pertanyaan mereka.
Mendengar keresahan mereka.
Mendengar pengalaman hidup mereka.
Seolah ingin mengatakan bahwa kebijaksanaan tidak selalu datang dari mimbar.
Kadang ia muncul dari percakapan sederhana.
Dari petani.
Dari tukang becak.
Dari mahasiswa.
Dari ibu rumah tangga.
Karena setiap manusia membawa pengalaman yang layak didengar.
Dan mungkin di situlah letak kekayaan sebuah masyarakat.
Bukan ketika semua orang berpikir sama.
Tetapi ketika semua orang bersedia saling mendengarkan.
Mengapa Kita Sulit Mendengar?
Saya pikir penyebabnya bukan karena telinga kita bermasalah.
Masalahnya ada pada ego.
Kita terlalu ingin menjadi orang yang paling benar.
Paling tahu.
Paling didengar.
Paling dianggap penting.
Padahal semakin seseorang benar-benar berilmu, biasanya ia semakin sadar bahwa dirinya masih banyak tidak tahu.
Nurcholish Madjid pernah mengingatkan bahwa keterbukaan berpikir adalah syarat penting bagi masyarakat yang sehat.
Keterbukaan itu dimulai dari kesediaan mendengar.
Kalau pintu telinga sudah tertutup, pintu pikiran biasanya ikut tertutup.
Dan ketika pikiran tertutup, dialog berubah menjadi monolog yang dilakukan secara bergantian.
Semua berbicara.
Tidak ada yang memahami.
Keluarga Pun Membutuhkannya
Saya sering berpikir, mungkin persoalan mendengar ini tidak hanya terjadi di ruang publik.
Ia juga hadir di rumah.
Berapa banyak anak yang sebenarnya hanya ingin didengarkan oleh orang tuanya?
Berapa banyak pasangan yang bertengkar bukan karena masalah besar, tetapi karena merasa tidak pernah dipahami?
Berapa banyak orang tua yang diam-diam berharap anaknya mau duduk lima belas menit saja untuk mendengar cerita mereka?
Kadang masalah keluarga bukan kurangnya cinta.
Tetapi kurangnya perhatian.
Dan perhatian dimulai dari mendengarkan.
Mendengar Adalah Bentuk Cinta
Semakin bertambah usia, saya semakin percaya bahwa mendengarkan adalah salah satu bentuk kasih sayang yang paling sederhana.
Kita tidak selalu harus memiliki jawaban.
Tidak selalu harus menjadi penyelamat.
Tidak selalu harus memberi nasihat.
Kadang cukup duduk.
Menatap mata lawan bicara.
Lalu berkata,
"Aku mendengarkan."
Kalimat itu mungkin tidak mengubah keadaan.
Tetapi bisa mengubah perasaan seseorang.
Karena setiap manusia ingin merasa keberadaannya berarti.
Ingin merasa ceritanya layak didengar.
Ingin merasa dirinya tidak sendirian.
Penutup
Di zaman ketika semua orang berlomba berbicara, mungkin orang yang benar-benar mampu mendengarkan akan menjadi semakin langka.
Padahal dari sanalah banyak hal baik lahir.
Persahabatan tumbuh karena saling mendengar.
Keluarga bertahan karena saling mendengar.
Bangsa menjadi dewasa karena warganya mau saling mendengar.
Dan bahkan hubungan manusia dengan Tuhan pun, dalam banyak tradisi spiritual, dimulai dari kemampuan untuk diam.
Karena hanya dalam keheningan, seseorang benar-benar bisa mendengar.
Mungkin kita tidak akan selalu mampu menyelesaikan persoalan orang lain.
Tetapi kita selalu bisa memberikan sesuatu yang sering kali jauh lebih berharga.
Waktu.
Perhatian.
Dan telinga yang benar-benar mendengarkan.
Sebab pada akhirnya, manusia tidak selalu membutuhkan orang yang paling pandai berbicara.
Sering kali, ia hanya membutuhkan seseorang yang bersedia mendengarkan dengan sepenuh hati.

Post a Comment for "Mengapa Kita Semakin Sulit Mendengarkan?"