Mengapa Kita Takut Hidup Biasa-Biasa Saja?
"Barangkali yang membuat manusia paling lelah bukanlah pekerjaannya, melainkan keinginannya untuk terus terlihat istimewa."
Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah kalimat yang cukup mengganggu pikiran.
Bunyinya kurang lebih seperti ini:
"Hari ini, banyak orang lebih takut hidup biasa daripada hidup tidak bahagia."
Saya menutup buku itu sejenak.
Kalimat tersebut terasa sederhana, tetapi semakin lama dipikirkan, semakin sulit diabaikan.
Bukankah memang demikian kenyataannya?
Hari ini kita lebih takut dianggap gagal daripada benar-benar gagal.
Lebih takut dianggap tidak sukses daripada hidup tanpa makna.
Lebih takut tidak terlihat hebat daripada tidak menjadi orang baik.
Seolah-olah kehidupan berubah menjadi sebuah panggung besar, dan setiap orang berlomba mempertontonkan versi terbaik dirinya.
Ironisnya, di balik panggung itu, semakin banyak orang mengaku lelah.
Semakin banyak yang kehilangan arah.
Semakin banyak yang bertanya diam-diam kepada dirinya sendiri,
"Apakah hidup memang harus seperti ini?"
Ketika "Biasa" Menjadi Kata yang Menakutkan
Coba perhatikan percakapan sehari-hari.
Jarang ada orang tua yang berkata kepada anaknya,
"Nak, jadilah manusia biasa yang jujur."
Sebaliknya, yang sering kita dengar adalah,
"Kamu harus menjadi orang besar."
"Kamu harus sukses."
"Kamu harus luar biasa."
Tidak ada yang salah dengan harapan itu.
Setiap orang tua tentu ingin anaknya memiliki kehidupan yang baik.
Namun perlahan, kata "biasa" mulai terdengar seperti kegagalan.
Padahal sebagian besar manusia memang akan menjalani kehidupan yang biasa.
Bangun pagi.
Bekerja.
Mengurus keluarga.
Membayar tagihan.
Menemani anak belajar.
Merawat orang tua.
Lalu mengulanginya lagi keesokan hari.
Tidak viral.
Tidak terkenal.
Tidak masuk televisi.
Tidak menjadi pembicaraan banyak orang.
Tetapi justru kehidupan seperti itulah yang menopang sebuah bangsa.
Guru yang mengajar puluhan tahun.
Petani yang setiap musim menanam padi.
Perawat yang bekerja malam.
Sopir yang mengantar orang sampai tujuan.
Penjual kecil di sudut pasar.
Mereka mungkin tidak pernah menjadi tokoh besar.
Tetapi tanpa mereka, kehidupan tidak akan berjalan.
Pramoedya dan Martabat Manusia
Ketika membaca karya-karya Pramoedya Ananta Toer, saya sering menemukan satu hal yang menarik.
Tokoh-tokohnya tidak selalu orang hebat.
Tidak selalu pahlawan.
Tidak selalu menang.
Tetapi mereka memiliki martabat.
Pramoedya tampaknya percaya bahwa nilai manusia tidak ditentukan oleh seberapa terkenal dirinya.
Melainkan oleh keberaniannya mempertahankan kemanusiaannya.
Pandangan ini terasa sangat penting hari ini.
Karena dunia digital sering mengukur manusia dari angka.
Berapa pengikutnya.
Berapa jumlah tayangannya.
Berapa banyak yang menyukai unggahannya.
Padahal angka hanyalah ukuran popularitas.
Bukan ukuran kualitas manusia.
Budaya yang Terus Mendorong Perbandingan
Media sosial tidak menciptakan rasa iri.
Tetapi ia memperbesar peluang manusia untuk terus membandingkan dirinya.
Setiap hari kita melihat orang lain.
Ada yang baru membeli rumah.
Ada yang baru lulus.
Ada yang baru menikah.
Ada yang membuka usaha.
Ada yang menerima penghargaan.
Semua terlihat berhasil.
Semua tampak bahagia.
Yang tidak terlihat adalah kegagalannya.
Ketakutannya.
Tangisnya.
Kesepiannya.
Karena hampir semua orang hanya memperlihatkan bagian terbaik hidupnya.
Lama-kelamaan kita mulai percaya bahwa kehidupan orang lain selalu lebih baik.
Padahal kita sedang membandingkan kehidupan nyata dengan etalase digital.
Perbandingan itu tidak pernah adil.
Gus Dur dan Kemampuan Menertawakan Diri Sendiri
Salah satu hal yang saya kagumi dari Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah kemampuannya melihat kehidupan dengan ringan.
Beliau adalah seorang ulama.
Seorang intelektual.
Seorang presiden.
Tetapi juga seseorang yang tidak takut menjadi bahan tertawaan.
Humor bagi Gus Dur bukan sekadar hiburan.
Humor adalah tanda bahwa manusia tidak boleh terlalu serius memandang dirinya sendiri.
Saya sering berpikir, mungkin sebagian kecemasan manusia modern muncul karena kita terlalu sibuk membangun citra.
Takut terlihat gagal.
Takut dianggap kurang pintar.
Takut dianggap tidak berhasil.
Padahal tidak ada manusia yang sempurna.
Ketika seseorang mampu menerima dirinya dengan segala keterbatasannya, ia tidak lagi membutuhkan tepuk tangan setiap saat.
Hamka dan Kekayaan yang Sesungguhnya
Dalam berbagai tulisan Buya Hamka, kita menemukan pesan yang berulang.
Kebahagiaan bukanlah soal memiliki semuanya.
Tetapi mengetahui mana yang benar-benar cukup.
Hari ini kata "cukup" semakin sulit ditemukan.
Karena ekonomi modern hidup dari rasa kurang.
Kalau manusia merasa sudah cukup, ia akan berhenti membeli.
Kalau manusia berhenti membandingkan, banyak industri kehilangan daya tariknya.
Akhirnya kita terus diyakinkan bahwa hidup akan lebih baik jika memiliki satu hal lagi.
Satu kendaraan lagi.
Satu rumah lagi.
Satu jabatan lagi.
Satu penghargaan lagi.
Padahal setelah semuanya didapat, sering muncul keinginan baru.
Tidak ada akhirnya.
Hamka mengingatkan bahwa hati manusia harus dididik.
Karena tanpa pendidikan batin, manusia akan terus merasa miskin meskipun hartanya melimpah.
Ahmad Tohari dan Keindahan Kehidupan Sederhana
Saya selalu menikmati membaca karya Ahmad Tohari.
Bukan karena ceritanya penuh kejutan.
Justru karena ia mampu menemukan keindahan dalam kehidupan yang tampaknya biasa.
Sawah.
Musim hujan.
Percakapan sederhana.
Tetangga.
Pasar.
Anak-anak yang bermain.
Hal-hal kecil itu di tangan Ahmad Tohari berubah menjadi kisah yang menyentuh.
Beliau seolah mengingatkan bahwa kehidupan tidak kehilangan maknanya hanya karena tidak spektakuler.
Justru kebahagiaan sering lahir dari sesuatu yang sederhana.
Dari makan malam bersama keluarga.
Dari pulang sebelum matahari terbenam.
Dari duduk di teras sambil mendengar suara hujan.
Dari secangkir kopi yang dinikmati tanpa terburu-buru.
Mengapa Kita Selalu Ingin Diakui?
Kalau direnungkan lebih jauh, keinginan untuk terlihat luar biasa sering kali berakar dari kebutuhan manusia akan pengakuan.
Kita ingin dihargai.
Itu wajar.
Kita ingin dianggap berarti.
Itu juga manusiawi.
Namun masalah muncul ketika seluruh harga diri bergantung pada penilaian orang lain.
Hari ini dipuji, kita bahagia.
Besok dikritik, kita hancur.
Hari ini banyak yang menyukai kita, kita percaya diri.
Besok perhatian orang berpindah, kita merasa kehilangan nilai.
Padahal harga diri yang sehat tidak dibangun dari tepuk tangan.
Ia dibangun dari keyakinan bahwa hidup kita tetap bernilai meskipun tidak selalu mendapat sorotan.
Nurcholish Madjid dan Keikhlasan Menjadi Diri Sendiri
Nurcholish Madjid pernah banyak berbicara tentang pentingnya keikhlasan.
Keikhlasan bukan berarti pasrah tanpa usaha.
Melainkan melakukan sesuatu karena memang itu benar, bukan semata-mata karena ingin dipuji.
Saya pikir, nilai ini semakin penting di zaman media sosial.
Karena begitu banyak aktivitas dilakukan bukan untuk dirinya sendiri.
Melainkan untuk mendapatkan pengakuan.
Padahal sesuatu yang dilakukan dengan tulus sering memiliki ketenangan yang tidak dimiliki oleh pencapaian yang hanya mengejar pujian.
Mungkin Hidup Biasa Itu Tidak Pernah Biasa
Semakin bertambah usia, saya justru mulai melihat bahwa kehidupan yang disebut "biasa" ternyata luar biasa.
Membangun keluarga yang harmonis bukan perkara mudah.
Menjadi orang yang jujur selama puluhan tahun bukan hal kecil.
Merawat orang tua sampai akhir hayat membutuhkan kekuatan.
Mendidik anak menjadi manusia baik adalah pekerjaan seumur hidup.
Semuanya tampak biasa.
Tetapi justru di situlah kebesaran manusia sering tersembunyi.
Kita terlalu lama diajarkan mencari peristiwa besar.
Padahal kehidupan dibangun oleh ribuan peristiwa kecil yang dilakukan dengan penuh kesetiaan.
Penutup
Mungkin tidak semua dari kita akan dikenang oleh sejarah.
Tidak semua akan menjadi tokoh besar.
Tidak semua akan memiliki nama yang dikenal banyak orang.
Dan mungkin memang tidak harus demikian.
Karena dunia tidak hanya membutuhkan orang-orang yang luar biasa.
Dunia juga membutuhkan orang-orang yang setiap hari melakukan hal-hal sederhana dengan luar biasa baik.
Menjadi guru yang jujur.
Menjadi ayah yang hadir.
Menjadi ibu yang penuh kasih.
Menjadi sahabat yang setia.
Menjadi tetangga yang peduli.
Menjadi manusia yang tidak kehilangan nuraninya.
Barangkali itulah keberhasilan yang sesungguhnya.
Karena pada akhirnya, hidup bukanlah perlombaan untuk menjadi orang yang paling dikenal.
Melainkan perjalanan panjang untuk menjadi manusia yang, meski hidupnya tampak biasa, telah menghadirkan kebaikan yang tidak biasa bagi orang-orang di sekitarnya.

Post a Comment for "Mengapa Kita Takut Hidup Biasa-Biasa Saja?"