Rumah Bukan Bangunan, Tapi Perasaan
Ketika kita masih kecil, rumah terasa sangat sederhana.
Empat dinding.
Atap yang kadang bocor saat hujan.
Halaman kecil tempat bermain.
Namun anehnya, di tempat sesederhana itu kita merasa sangat aman.
Di situlah kita pulang setelah seharian sekolah.
Di situlah kita makan tanpa banyak aturan.
Di situlah kita bisa menjadi diri sendiri tanpa perlu berpura-pura.
Rumah dulu tidak harus luas.
Tidak harus mewah.
Yang penting ada orang yang menyambut.
Ada suara ibu dari dapur.
Ada ayah yang duduk di ruang depan.
Ada tawa saudara yang kadang berubah jadi pertengkaran kecil.
Semua terasa hidup.
Lalu waktu berjalan.
Kita tumbuh dewasa.
Sebagian dari kita pergi jauh dari rumah itu.
Ada yang pindah kota.
Ada yang merantau demi pekerjaan.
Ada yang membangun kehidupan baru di tempat lain.
Pelan-pelan kita mulai menyadari sesuatu.
Ternyata rumah bukan hanya bangunan tempat kita dulu tinggal.
Rumah adalah perasaan yang sulit dijelaskan.
Kadang kita tinggal di apartemen modern,
dengan furnitur rapi dan fasilitas lengkap.
Namun tetap terasa sepi.
Kadang kita berada di kota besar yang penuh cahaya,
namun tetap ada ruang kosong di dalam diri.
Lalu suatu hari kita pulang.
Mungkin hanya sebentar.
Mungkin hanya beberapa hari.
Begitu pintu rumah lama terbuka, ada perasaan yang sulit dijelaskan.
Udara terasa akrab.
Suara-suara terasa dikenal.
Bahkan bau dapur pun membawa kenangan.
Kita sadar, yang kita rindukan bukan dindingnya.
Bukan atapnya.
Bukan alamatnya.
Yang kita rindukan adalah perasaan diterima tanpa syarat.
Tempat di mana kita tidak perlu terlihat berhasil.
Tidak perlu terlihat kuat.
Tidak perlu menjelaskan siapa diri kita.
Karena orang-orang di dalamnya sudah mengenal kita jauh sebelum dunia mulai menilai.
Seiring waktu, sebagian dari kita akan membangun rumah baru.
Rumah dengan keluarga baru.
Dengan cerita yang berbeda.
Namun rumah yang pertama selalu punya tempat khusus di hati.
Sebab pada akhirnya kita mengerti satu hal sederhana:
rumah bukan tempat yang paling indah,
tetapi tempat di mana hati kita merasa paling pulang.

Post a Comment for "Rumah Bukan Bangunan, Tapi Perasaan"