Beberapa Luka Tidak Perlu Diceritakan ke Siapa-Siapa
Ada luka yang tidak meninggalkan bekas di wajah.
Tidak mengubah cara kita berjalan.
Tidak membuat orang lain sadar bahwa kita sedang tidak baik-baik saja.
Tapi di dalam, rasanya nyata.
Dan sering kali, tidak mudah dijelaskan dengan kata-kata.
Kita hidup di dunia yang terbiasa bertanya,
“Kenapa?”
“Ada apa?”
“Kamu kenapa kelihatan berbeda?”
Kadang pertanyaan itu datang dari kepedulian.
Kadang hanya sekadar ingin tahu.
Tapi tidak semua rasa ingin kita ceritakan.
Bukan karena kita tidak percaya kepada siapa pun.
Tapi karena ada hal-hal yang memang lebih mudah dipahami dalam diam.
Ada luka yang tidak membutuhkan banyak penjelasan.
Ada hal yang cukup kita pahami sendiri.
Bukan berarti kita menutup diri.
Bukan berarti kita tidak butuh siapa-siapa.
Tapi kita sadar, tidak semua orang harus tahu semua cerita.
Karena tidak semua orang bisa mengerti dengan cara yang sama.
Seiring waktu, kita mulai belajar berdamai dengan hal-hal yang tidak bisa diubah.
Belajar menerima bahwa tidak semua kehilangan harus dijelaskan kepada banyak orang.
Ada proses yang hanya bisa dilalui perlahan.
Dalam sunyi.
Dalam refleksi.
Dalam waktu yang berjalan tanpa terburu-buru.
Dan itu bukan tanda kelemahan.
Itu tanda bahwa kita sedang berusaha menjadi lebih kuat dengan cara yang tenang.
Tidak semua luka membutuhkan perhatian banyak orang.
Beberapa luka justru sembuh ketika kita memberi ruang untuk diri sendiri.
Ketika kita berhenti merasa harus terlihat baik-baik saja.
Ketika kita berhenti merasa harus selalu dimengerti.
Karena tidak semua luka perlu diceritakan.
Beberapa cukup dirasakan, dipahami, lalu perlahan dilepaskan.

Post a Comment for "Beberapa Luka Tidak Perlu Diceritakan ke Siapa-Siapa"