Belajar Merasa Cukup di Dunia yang Selalu Berkata "Kurang"
"Barangkali salah satu keterampilan hidup yang paling sulit dipelajari bukanlah cara mendapatkan lebih banyak, melainkan cara mensyukuri apa yang sudah cukup."
Pendahuluan: Kita Hidup di Tengah Industri Ketidakpuasan
Ada satu pertanyaan yang akhir-akhir ini sering muncul di kepala saya.
Mengapa begitu banyak orang yang hidupnya sudah jauh lebih baik dibanding sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu, tetapi justru merasa semakin kurang bahagia?
Rumah lebih layak.
Teknologi lebih canggih.
Akses informasi tidak terbatas.
Transportasi semakin mudah.
Pilihan makanan semakin banyak.
Namun di saat yang sama, kita juga semakin mudah merasa kurang.
Kurang kaya.
Kurang sukses.
Kurang terkenal.
Kurang menarik.
Kurang produktif.
Seolah-olah kehidupan modern selalu membisikkan satu kalimat yang sama:
"Belum cukup."
Padahal, mungkin persoalannya bukan pada apa yang kita miliki.
Melainkan pada cara kita memandang apa yang telah kita miliki.
Mengapa "Cukup" Menjadi Kata yang Langka?
Ekonomi modern bergerak karena manusia terus menginginkan sesuatu.
Itu bukan sesuatu yang salah.
Inovasi lahir karena manusia ingin hidup lebih baik.
Namun ada sisi lain yang perlu kita sadari.
Banyak industri bekerja dengan cara menciptakan rasa kurang.
Sebuah telepon genggam yang masih berfungsi baik tiba-tiba terasa usang karena muncul model terbaru.
Pakaian yang masih layak dipakai terasa ketinggalan zaman karena tren berubah.
Rumah yang nyaman terasa sempit setelah melihat rumah orang lain di media sosial.
Masalahnya bukan pada barang-barang tersebut.
Masalahnya adalah ketika standar kebahagiaan kita selalu ditentukan oleh sesuatu yang berada di luar diri kita.
Kalau ukuran bahagia terus berubah mengikuti pasar, kita akan terus berlari tanpa garis akhir.
Hamka: Syukur adalah Pendidikan Jiwa
Dalam Tasawuf Modern, Buya Hamka menjelaskan bahwa salah satu penyakit hati adalah tidak pernah merasa puas dengan nikmat yang telah diberikan Allah. Sebaliknya, rasa syukur bukan sekadar ucapan, melainkan keadaan batin yang membuat seseorang mampu menikmati rezeki tanpa terus-menerus diperbudak oleh keinginan yang tidak ada habisnya.*(1)
Hamka tidak mengajarkan umat Islam untuk meninggalkan usaha.
Beliau sendiri adalah seorang penulis yang sangat produktif, ulama, wartawan, dan pemimpin masyarakat.
Yang beliau tekankan adalah keseimbangan.
Bekerjalah dengan sungguh-sungguh.
Tetapi jangan biarkan keberhasilan menjadi satu-satunya sumber kebahagiaan.
Karena jika kebahagiaan hanya bergantung pada pencapaian berikutnya, kita tidak akan pernah benar-benar menikmatinya.
Stoisisme dan Dikotomi Kendali
Pemikiran serupa juga muncul dalam filsafat Stoik, khususnya pada Epictetus.
Dalam Enchiridion, ia membuka bukunya dengan satu gagasan sederhana tetapi sangat kuat:
"Some things are up to us and some things are not up to us." (Enchiridion, 1).
*(2)
Artinya, ada hal-hal yang berada dalam kendali kita, dan ada yang tidak.
Kita bisa mengendalikan usaha.
Tetapi tidak selalu hasilnya.
Kita bisa mengendalikan sikap.
Tetapi tidak pendapat orang lain.
Kita bisa mengendalikan cara bekerja.
Tetapi tidak selalu kesempatan yang datang.
Sering kali kita menderita karena menghabiskan energi mengejar sesuatu yang sebenarnya berada di luar kendali kita.
Padahal ketenangan justru lahir ketika kita mampu membedakan keduanya.
Mohammad Hatta: Hidup Bersahaja Bukan Berarti Tidak Berprestasi
Mohammad Hatta adalah contoh menarik.
Beliau merupakan salah satu intelektual terbesar Indonesia.
Lulusan pendidikan tinggi di Belanda.
Pemimpin bangsa.
Ekonom.
Negarawan.
Namun berbagai kesaksian dalam biografi dan otobiografinya menggambarkan kehidupan yang sederhana dan sangat disiplin.*(3)
Kesederhanaan Hatta bukan karena beliau tidak mampu hidup mewah.
Melainkan karena beliau percaya bahwa integritas jauh lebih penting daripada kemewahan.
Hari ini kita sering menyamakan kesederhanaan dengan kegagalan.
Padahal keduanya sangat berbeda.
Seseorang bisa hidup sederhana karena ia telah menemukan apa yang benar-benar penting.
Media Sosial dan Krisis Rasa Cukup
Saya sering bertanya-tanya.
Apakah kita benar-benar kurang bahagia?
Ataukah kita hanya terlalu sering melihat kebahagiaan orang lain?
Media sosial memberi kita akses melihat ribuan pencapaian setiap hari.
Wisata.
Rumah.
Mobil.
Wisuda.
Pernikahan.
Promosi jabatan.
Usaha baru.
Semua muncul dalam hitungan menit.
Padahal otak manusia tidak dirancang untuk membandingkan dirinya dengan ribuan orang setiap hari.
Akibatnya, rasa syukur yang seharusnya tumbuh dari kehidupan nyata perlahan digantikan oleh rasa iri terhadap kehidupan digital.
Kita lupa bahwa yang kita lihat hanyalah potongan cerita.
Tidak ada media sosial yang memperlihatkan malam-malam penuh kecemasan.
Tidak ada unggahan yang menunjukkan pertengkaran keluarga.
Tidak ada foto yang memperlihatkan rasa takut seseorang kehilangan pekerjaannya.
Kita membandingkan kehidupan utuh kita dengan etalase terbaik milik orang lain.
Perbandingan seperti itu hampir selalu berakhir dengan rasa kurang.
Erich Fromm: Menjadi Lebih Penting daripada Memiliki
Dalam To Have or To Be?, Erich Fromm mengkritik masyarakat modern yang terlalu menilai manusia berdasarkan kepemilikannya.*(4)
Menurut Fromm, manusia akan lebih utuh ketika orientasi hidupnya bergeser dari memiliki (having) menjadi menjadi (being).
Pertanyaannya bukan lagi,
"Apa yang aku miliki?"
melainkan,
"Menjadi manusia seperti apa aku?"
Pertanyaan itu sederhana.
Tetapi jawabannya dapat mengubah cara kita menjalani hidup.
Refleksi Penulis
Semakin bertambah usia, saya mulai menyadari bahwa rasa cukup bukanlah hadiah.
Ia adalah latihan.
Kita melatih diri untuk berhenti sejenak.
Melihat kembali apa yang telah dimiliki.
Mensyukuri orang-orang yang masih menemani kita.
Menikmati secangkir kopi tanpa tergesa-gesa.
Mendengarkan tawa anak-anak.
Menelepon orang tua.
Membaca buku.
Berjalan sore.
Hal-hal seperti itu tampak biasa.
Tetapi justru di sanalah kehidupan berlangsung.
Kalau kita terus menunda bahagia sampai semua target tercapai, mungkin kita akan tiba di penghujung hidup dengan daftar pencapaian yang panjang, tetapi kenangan yang kosong.
Penutup
Barangkali dunia tidak akan pernah berhenti mengatakan bahwa kita masih kurang.
Kurang kaya.
Kurang terkenal.
Kurang berhasil.
Kurang sempurna.
Tetapi kita memiliki pilihan.
Apakah akan terus mengikuti suara itu.
Ataukah belajar mendengarkan suara hati yang lebih tenang.
Suara yang berkata,
"Apa yang kamu miliki hari ini mungkin belum sempurna. Tetapi itu sudah cukup untuk memulai hidup dengan penuh syukur."
Karena pada akhirnya, orang yang paling kaya bukanlah orang yang memiliki paling banyak.
Melainkan orang yang mampu mensyukuri dan menikmati apa yang dimilikinya tanpa kehilangan semangat untuk terus bertumbuh.
Daftar Bacaan
- Hamka. Tasawuf Modern. Jakarta: Penerbit Republika (karya asli terbit 1939).
- Epictetus. Enchiridion. Terjemahan Robin Hard. Oxford University Press, 2014.
- Mohammad Hatta. Untuk Negeriku: Sebuah Otobiografi. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
- Erich Fromm. To Have or To Be? New York: Harper & Row, 1976.
Catatan Penulis
Artikel ini merupakan esai reflektif yang memadukan pengamatan atas kehidupan sehari-hari dengan gagasan para pemikir dari tradisi Islam, filsafat, dan kenegaraan. Bagian yang merujuk kepada karya Hamka, Epictetus, Mohammad Hatta, dan Erich Fromm disusun berdasarkan karya-karya mereka. Adapun analisis, penafsiran, dan refleksi yang menghubungkan gagasan tersebut dengan realitas kehidupan masa kini sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis.

Post a Comment for "Belajar Merasa Cukup di Dunia yang Selalu Berkata "Kurang""