Di Zaman Semua Orang Ingin Didengar, Belajarlah Menjadi Orang yang Mau Mendengarkan
Ada sebuah hal yang semakin jarang kita lakukan.
Bukan berbicara.
Bukan menulis.
Bukan berpendapat.
Bukan membagikan sesuatu.
Melainkan mendengarkan.
Kita hidup di zaman ketika hampir semua orang memiliki ruang untuk berbicara.
Media sosial memberi kita panggung.
Kolom komentar memberi kita mikrofon.
Grup percakapan memberi kita tempat untuk menyampaikan pendapat.
Bahkan ketika seseorang sedang bercerita tentang masalahnya, kita sering kali sudah sibuk menyiapkan jawaban sebelum ia selesai berbicara.
Ia belum selesai menjelaskan.
Kita sudah menyela.
Ia belum selesai mengeluh.
Kita sudah memberikan solusi.
Ia belum selesai bercerita.
Kita sudah mengatakan:
"Kalau saya jadi kamu..."
Mungkin kita memang bermaksud baik.
Tetapi ada saat ketika seseorang tidak membutuhkan solusi.
Ia hanya membutuhkan seseorang yang bersedia hadir dan mendengarkan.
Dan semakin saya memikirkan hal itu, semakin saya merasa bahwa kemampuan mendengarkan bukan sekadar keterampilan komunikasi.
Ia adalah bentuk penghormatan kepada manusia lain.
Kita Terlalu Sibuk Menunggu Giliran Berbicara
Pernahkah kita berada dalam sebuah percakapan ketika sebenarnya kita tidak benar-benar mendengarkan?
Kita mengangguk.
Mengatakan "iya".
Sesekali tersenyum.
Tetapi pikiran kita sedang sibuk menyusun jawaban.
"Nanti kalau dia selesai, saya akan mengatakan ini."
"Saya punya pengalaman yang lebih menarik."
"Saya tahu cara menyelesaikan masalahnya."
"Saya pernah mengalami sesuatu yang lebih berat."
Secara fisik kita berada di sana.
Tetapi secara mental kita sedang berada di tempat lain.
Ini mungkin salah satu alasan mengapa banyak percakapan terasa melelahkan.
Dua orang berbicara.
Tetapi tidak ada yang benar-benar mendengarkan.
Keduanya hanya menunggu kesempatan untuk mengambil alih percakapan.
Mendengarkan Bukan Berarti Setuju
Ini penting.
Mendengarkan tidak berarti kita harus menyetujui semua yang dikatakan seseorang.
Kita bisa mendengarkan tanpa menyetujui.
Bisa memahami tanpa membenarkan.
Bisa menghargai perasaan seseorang tanpa menerima semua kesimpulannya.
Misalnya seseorang sedang bercerita bahwa ia kecewa kepada atasannya.
Kita dapat memahami rasa kecewanya tanpa harus langsung menyimpulkan bahwa atasannya memang salah.
Atau seseorang menceritakan pandangan politik yang berbeda dari kita.
Kita bisa mendengarkan alasan di balik pandangannya tanpa harus mengubah pilihan kita.
Di sinilah mendengarkan membutuhkan kedewasaan.
Kita harus mampu mengatakan dalam hati:
"Saya tidak harus setuju untuk memahami mengapa kamu berpikir seperti itu."
Kalimat sederhana tersebut dapat mengubah banyak percakapan.
Erich Fromm dan Seni Mendengarkan
Psikoanalis dan pemikir humanis Erich Fromm secara khusus membahas persoalan mendengarkan dalam The Art of Listening.
Buku tersebut merupakan karya yang membahas pengalaman Fromm sebagai psikoanalis dan pendekatannya dalam memahami manusia melalui proses mendengarkan. Edisi terbaru yang diterbitkan Little, Brown Book Group pada 2024 mencatat karya ini sebagai buku Fromm mengenai seni mendengarkan dan praktik analitisnya.
Yang menarik adalah istilahnya:
the art of listening.
Seni mendengarkan.
Artinya, mendengarkan bukan aktivitas mekanis.
Bukan sekadar membiarkan suara seseorang masuk ke telinga.
Ada perhatian.
Ada kesabaran.
Ada usaha memahami.
Ada kesediaan untuk tidak buru-buru mengambil alih.
Dan mungkin yang paling penting:
ada kerendahan hati untuk menyadari bahwa pengalaman orang lain tidak selalu dapat kita pahami hanya dengan melihatnya dari sudut pandang kita sendiri.
Kita Sering Mendengarkan dengan Kacamata Diri Sendiri
Ini masalah yang sangat manusiawi.
Ketika seseorang bercerita tentang kehilangan, kita langsung mengingat kehilangan kita.
Ketika seseorang bercerita tentang kegagalan, kita mengingat kegagalan kita.
Ketika seseorang bercerita tentang pekerjaannya, kita mulai membandingkannya dengan pekerjaan kita.
Akhirnya percakapan berubah menjadi:
"Saya juga pernah."
"Saya malah lebih parah."
"Kalau pengalaman saya..."
Padahal orang tersebut mungkin tidak sedang meminta kita membandingkan pengalaman.
Ia sedang mencoba menceritakan hidupnya.
Mungkin ia hanya ingin didengar.
Ada perbedaan antara mengatakan:
"Saya mengerti karena saya pernah mengalami hal yang sama."
dengan:
"Saya juga pernah, bahkan saya lebih berat."
Kalimat pertama membuka ruang.
Kalimat kedua mengambil ruang.
Mendengarkan Adalah Bentuk Kerendahan Hati
Kita telah beberapa kali membahas kerendahan hati di adib.my.id.
Dan semakin lama saya melihat bahwa kerendahan hati tidak hanya tampak ketika seseorang mengatakan:
"Saya tidak tahu."
Kerendahan hati juga terlihat ketika seseorang bersedia mendengarkan.
Karena ketika kita benar-benar mendengarkan, kita mengakui sesuatu:
orang lain mungkin memiliki pengalaman yang tidak kita miliki.
Orang lain mungkin mengetahui sesuatu yang belum kita ketahui.
Orang lain mungkin melihat sesuatu yang tidak kita lihat.
Orang lain mungkin memiliki alasan yang belum kita pahami.
Kesadaran itu membuat kita berhenti merasa sebagai pusat dunia.
Hamka: Akal, Budi, dan Cara Kita Memperlakukan Manusia
Dalam Falsafah Hidup, Hamka membahas berbagai persoalan mengenai manusia, akal, budi, kehidupan sosial, agama, kemerdekaan, dan hubungan manusia dengan sesamanya. Edisi Republika Penerbit tahun 2015 tercatat memiliki 484 halaman.
Salah satu hal penting yang dapat kita tarik dari kerangka pemikiran Hamka adalah bahwa kecerdasan tidak seharusnya berdiri sendiri.
Akal perlu berjalan bersama budi.
Sebab orang yang pintar belum tentu bijaksana.
Orang yang mampu menyusun argumen belum tentu mampu memahami manusia.
Orang yang cepat menjawab belum tentu memahami persoalan.
Dan orang yang banyak berbicara belum tentu memiliki sesuatu yang lebih penting untuk dikatakan.
Mungkin karena itu, kemampuan mendengarkan juga merupakan bagian dari kecerdasan.
Bukan kecerdasan untuk memenangkan percakapan.
Tetapi kecerdasan untuk memahami kehidupan.
Tidak Semua Masalah Membutuhkan Nasihat
Ini mungkin salah satu pelajaran yang paling sulit bagi orang yang merasa dirinya suka membantu.
Ketika seseorang bercerita, kita langsung ingin menyelesaikan masalahnya.
"Kamu harus begini."
"Coba lakukan itu."
"Kalau saya jadi kamu..."
Padahal terkadang nasihat yang terlalu cepat justru membuat seseorang merasa tidak didengar.
Bayangkan seseorang berkata:
"Saya sedang sangat lelah."
Kemudian kita menjawab:
"Kamu harus lebih bersyukur."
Secara teori, mungkin benar.
Tetapi secara emosional, kalimat itu mungkin tidak membantu.
Ia belum meminta kuliah tentang rasa syukur.
Ia mungkin hanya ingin mengatakan:
"Hari ini saya benar-benar lelah."
Mungkin respons yang lebih manusiawi adalah:
"Kedengarannya memang berat. Kamu mau cerita?"
Sederhana.
Tidak canggih.
Tidak filosofis.
Tetapi membuka pintu.
Mendengarkan Anak
Orang dewasa sering merasa bahwa masalah anak-anak adalah masalah kecil.
Anak menangis karena mainannya rusak.
Kita berkata:
"Cuma mainan."
Anak kecewa karena tidak diajak bermain.
Kita berkata:
"Masih kecil sudah banyak drama."
Anak takut menghadapi sesuatu.
Kita berkata:
"Jangan takut."
Padahal bagi anak itu mungkin memang besar.
Kita tidak harus menyelesaikan semuanya.
Tetapi kita dapat menunjukkan bahwa perasaannya tidak ditertawakan.
Mendengarkan anak bukan berarti menuruti semua keinginannya.
Justru dengan mendengarkan, kita mengajarkan bahwa perasaan boleh disampaikan dan masalah dapat dibicarakan.
Anak yang merasa didengar juga memiliki kesempatan lebih besar untuk belajar mendengarkan orang lain.
Mendengarkan Orang Tua
Ketika masih muda, kita sering merasa orang tua tidak memahami zaman.
Mereka dianggap terlalu kuno.
Terlalu banyak nasihat.
Terlalu banyak kekhawatiran.
Tetapi ada saat ketika kita menyadari bahwa di balik banyak nasihat itu terdapat pengalaman yang tidak kita miliki.
Tidak semua nasihat mereka harus kita ikuti.
Tetapi mungkin kita bisa mendengarkan lebih lama.
Bukan hanya karena mereka selalu benar.
Melainkan karena waktu mereka bersama kita tidak akan berlangsung selamanya.
Suatu hari nanti, kita mungkin akan merindukan suara yang dahulu terasa terlalu banyak bicara.
Dan penyesalan semacam itu tidak dapat diperbaiki dengan teknologi apa pun.
Mendengarkan Pasangan
Dalam hubungan, banyak konflik sebenarnya bukan karena seseorang tidak memiliki jawaban.
Tetapi karena seseorang merasa tidak didengar.
Seseorang berkata:
"Aku merasa kamu tidak memperhatikanku."
Kita menjawab:
"Saya kan sibuk bekerja."
Ia berkata:
"Aku kecewa."
Kita menjawab:
"Kamu terlalu sensitif."
Ia berkata:
"Aku butuh kamu."
Kita menjawab:
"Memangnya selama ini saya tidak melakukan apa?"
Semua jawaban itu mungkin memiliki alasan.
Tetapi kita sedang menjawab sebelum memahami.
Kadang yang dibutuhkan adalah:
"Aku ingin memahami. Coba ceritakan dari awal."
Itu tidak langsung menyelesaikan masalah.
Tetapi setidaknya membuat percakapan menjadi mungkin.
Mendengarkan Orang yang Berbeda dengan Kita
Ini bahkan lebih penting dalam kehidupan sosial.
Kita mungkin berbeda agama.
Berbeda politik.
Berbeda generasi.
Berbeda pendidikan.
Berbeda budaya.
Berbeda pengalaman.
Perbedaan tersebut membuat kita mudah berasumsi.
Kita melihat seseorang melakukan sesuatu yang berbeda.
Kemudian menyimpulkan:
"Dia memang seperti itu."
Padahal kita tidak tahu ceritanya.
Mendengarkan memberi kesempatan untuk melihat manusia di balik label.
Nurcholish Madjid, dalam Islam Agama Kemanusiaan, membahas hubungan antara tradisi, visi Islam Indonesia, dan dimensi kemanusiaan yang lebih luas. Buku tersebut pertama kali terbit pada 1995 dan kemudian hadir dalam berbagai edisi.
Dalam konteks kehidupan bersama, gagasan mengenai kemanusiaan tersebut mengingatkan kita bahwa manusia tidak semestinya direduksi menjadi satu label.
Seseorang bukan hanya pilihan politiknya.
Bukan hanya agamanya.
Bukan hanya pekerjaannya.
Bukan hanya kelompok sosialnya.
Ia memiliki kehidupan yang jauh lebih kompleks.
Dan untuk memahami kompleksitas itu, kita membutuhkan kemampuan mendengarkan.
Media Sosial Membuat Kita Semakin Sulit Mendengarkan
Ada ironi di zaman digital.
Kita memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengetahui apa yang dipikirkan orang lain.
Tetapi semakin sering kita justru tidak benar-benar mendengarkan.
Kita membaca komentar hanya untuk membalas.
Membaca berita hanya untuk mencari bagian yang bisa kita serang.
Menonton video hanya untuk menemukan kesalahan.
Mengikuti orang lain hanya karena ingin membuktikan bahwa mereka salah.
Kita tidak lagi berinteraksi dengan manusia.
Kita berinteraksi dengan representasi mereka di layar.
Akibatnya, empati mudah hilang.
Ketika seseorang berada di depan kita, kita melihat wajahnya.
Mendengar suaranya.
Melihat ekspresinya.
Di internet, seseorang hanya menjadi nama akun.
Avatar.
Kalimat.
Komentar.
Dan jauh lebih mudah menyakiti sesuatu yang kita anggap hanya sebagai akun.
Tidak Semua Percakapan Harus Dimenangkan
Ada kebiasaan yang menurut saya sangat melelahkan:
keinginan untuk selalu menang dalam percakapan.
Kita ingin memiliki kata terakhir.
Ingin lawan bicara mengakui bahwa kita benar.
Ingin komentar kita mendapatkan paling banyak dukungan.
Ingin orang lain mengatakan:
"Kamu benar."
Tetapi hidup bukan kompetisi debat.
Kadang kita tidak perlu menang.
Kita hanya perlu memahami.
Kadang dua orang memang tetap berbeda setelah berbicara.
Dan itu tidak selalu berarti percakapan tersebut gagal.
Jika setelah percakapan kita memahami mengapa seseorang berpikir berbeda, mungkin kita sudah memperoleh sesuatu yang berharga.
Ada Saatnya Kita Harus Diam
Mendengarkan tidak selalu berarti mengatakan sesuatu setelah orang lain selesai berbicara.
Kadang respons terbaik adalah diam.
Bukan diam karena tidak peduli.
Tetapi diam karena kita tahu tidak semua kesedihan membutuhkan kalimat.
Ketika seseorang kehilangan orang yang dicintainya, tidak selalu ada kalimat yang dapat memperbaiki keadaan.
Ketika seseorang sedang menangis, tidak selalu ada nasihat yang tepat.
Kadang kehadiran sudah cukup.
Duduk di sampingnya.
Membiarkannya menangis.
Mengulurkan tangan.
Mengatakan:
"Saya di sini."
Sederhana.
Tetapi manusia sering kali tidak membutuhkan jawaban yang sempurna.
Ia membutuhkan seseorang yang tidak pergi ketika hidup sedang tidak sempurna.
Mendengarkan Diri Sendiri
Ada satu jenis mendengarkan yang bahkan lebih sulit.
Mendengarkan diri sendiri.
Kita begitu sibuk mendengar suara dunia:
pendapat orang tua,
harapan pasangan,
komentar teman,
standar masyarakat,
tren media sosial,
tuntutan pekerjaan,
dan berbagai suara lainnya.
Sampai kita lupa bertanya:
"Sebenarnya saya sedang bagaimana?"
Apakah saya lelah?
Apakah saya kecewa?
Apakah saya takut?
Apakah saya sedang memaksakan sesuatu?
Apakah kehidupan yang saya jalani memang saya inginkan?
Apakah saya sedang mengejar sesuatu hanya karena orang lain menganggapnya penting?
Mendengarkan diri sendiri membutuhkan keberanian.
Karena jawabannya kadang tidak menyenangkan.
Tetapi tanpa mendengarkan diri sendiri, kita akan terus menjalani hidup berdasarkan suara orang lain.
Bagaimana Cara Belajar Mendengarkan?
Mungkin kita tidak membutuhkan teknik yang rumit.
Kita bisa mulai dari beberapa kebiasaan sederhana.
Ketika seseorang berbicara, jangan langsung memotong.
Letakkan telepon jika percakapan itu penting.
Tanyakan pertanyaan yang membantu orang tersebut menjelaskan.
Jangan buru-buru memberikan nasihat.
Cobalah mengulangi inti perkataannya untuk memastikan kita memahami.
Jika tidak mengerti, katakan:
"Maksudmu seperti ini?"
Dan yang paling penting:
dengarkan untuk memahami, bukan untuk mencari kesempatan membalas.
Kebiasaan kecil itu dapat mengubah kualitas hubungan kita.
Refleksi Penulis
Saya semakin menyadari bahwa saya sendiri belum selalu menjadi pendengar yang baik.
Kadang terlalu cepat memberi jawaban.
Kadang merasa sudah memahami sebelum seseorang selesai bercerita.
Kadang membawa pengalaman sendiri ke dalam cerita orang lain.
Kadang ingin memperbaiki sesuatu yang sebenarnya hanya membutuhkan didengarkan.
Dan mungkin banyak dari kita seperti itu.
Kita ingin menjadi orang yang bijaksana.
Membaca banyak buku.
Memahami banyak pemikiran.
Menulis banyak hal.
Tetapi mungkin salah satu latihan kebijaksanaan yang paling sederhana justru:
duduk dan mendengarkan seseorang tanpa merasa harus menjadi orang paling pintar di ruangan itu.
Ada kerendahan hati di sana.
Ada kasih sayang.
Ada penghormatan.
Dan ada pengakuan bahwa kehidupan orang lain sama rumitnya dengan kehidupan kita.
Mungkin Orang yang Paling Kita Butuhkan Bukan yang Paling Banyak Bicara
Kita semua pernah bertemu seseorang yang ketika kita berbicara membuat kita merasa aman.
Ia tidak buru-buru menghakimi.
Tidak selalu memberikan nasihat.
Tidak memotong.
Tidak menjadikan cerita kita sebagai kesempatan untuk membicarakan dirinya.
Ia hanya mendengarkan.
Dan anehnya, setelah berbicara dengannya, masalah yang sama kadang terasa sedikit lebih ringan.
Bukan karena masalahnya hilang.
Tetapi karena kita tidak lagi merasa menghadapinya sendirian.
Mungkin itulah kekuatan mendengarkan.
Ia tidak selalu mengubah keadaan.
Tetapi dapat mengubah cara seseorang mengalami keadaan tersebut.
Penutup: Sebelum Ingin Didengar, Belajarlah Mendengar
Kita hidup dalam zaman ketika semua orang ingin didengar.
Semua orang ingin pendapatnya dihargai.
Semua orang ingin ceritanya diperhatikan.
Semua orang ingin dianggap penting.
Dan itu manusiawi.
Tetapi mungkin ada pertanyaan yang perlu kita balikkan kepada diri sendiri:
Sudahkah kita memberikan kepada orang lain apa yang kita inginkan dari mereka?
Kita ingin didengarkan.
Apakah kita mendengarkan?
Kita ingin dipahami.
Apakah kita berusaha memahami?
Kita ingin pendapat kita dihargai.
Apakah kita menghargai pendapat orang lain?
Kita ingin diberi kesempatan menjelaskan.
Apakah kita memberikan kesempatan yang sama?
Mungkin kehidupan akan menjadi sedikit lebih manusiawi jika kita berhenti sebentar dari perlombaan untuk berbicara.
Jika kita belajar mendengarkan.
Bukan untuk mencari kelemahan.
Bukan untuk menyiapkan bantahan.
Bukan untuk menunjukkan bahwa kita lebih pintar.
Tetapi untuk benar-benar memahami.
Sebab terkadang seseorang tidak membutuhkan kita untuk memperbaiki kehidupannya.
Ia hanya membutuhkan seseorang yang bersedia duduk di sampingnya dan berkata:
"Ceritakan. Saya dengarkan."
Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin bising, kalimat sederhana itu justru menjadi salah satu bentuk kebaikan yang paling langka.
Daftar Bacaan
- Fromm, Erich. The Art of Listening. New York: Continuum, 1994. Edisi terbaru diterbitkan Little, Brown Book Group pada 2024. Deskripsi bibliografis dan penerbit menempatkan karya ini sebagai pembahasan Fromm mengenai seni mendengarkan dan praktik analitisnya.
- Hamka. Falsafah Hidup. Jakarta: Republika Penerbit, 2015. ISBN 978-623-279-034-6. Edisi tersebut tercatat dalam Google Books dengan 484 halaman dan memuat pembahasan mengenai kehidupan, manusia, akal, budi, agama, serta kehidupan sosial.
- Madjid, Nurcholish. Islam Agama Kemanusiaan: Membangun Tradisi dan Visi Baru Islam Indonesia. Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, 1995. Edisi berikutnya diterbitkan oleh Dian Rakyat pada 2010. Katalog UIN Bukittinggi mencatat edisi 1995 sebanyak 224 halaman.
- Hamka. Lembaga Hidup. Jakarta: Republika Penerbit, 2015. Karya ini membahas kewajiban manusia terhadap diri, keluarga, masyarakat, ilmu pengetahuan, tanah air, harta, dan terutama kepada Allah.

Post a Comment for "Di Zaman Semua Orang Ingin Didengar, Belajarlah Menjadi Orang yang Mau Mendengarkan"