Di Tengah Banjir Informasi, Kita Justru Perlu Belajar untuk Tidak Terburu-Buru Percaya

Ada zaman ketika mendapatkan informasi adalah sebuah kemewahan.

Orang harus membeli koran.

Menunggu berita di radio.

Menonton televisi pada jam tertentu.

Mencari buku di perpustakaan.

Bertanya kepada seseorang yang dianggap lebih tahu.

Sekarang semuanya berubah.

Informasi datang kepada kita bahkan ketika kita tidak mencarinya.

Bangun tidur, ada notifikasi.

Membuka media sosial, ada berita.

Masuk grup percakapan, ada pesan berantai.

Menonton video, ada seseorang yang menjelaskan sesuatu dengan sangat yakin.

Membuka mesin pencari, muncul ribuan jawaban.

Dan dengan kecerdasan buatan, bahkan pertanyaan yang dahulu membutuhkan berjam-jam penelitian kini dapat menghasilkan jawaban dalam hitungan detik.

Kita hidup dalam zaman yang secara teknis sangat kaya informasi.

Tetapi ada sebuah paradoks yang semakin terasa:

semakin mudah kita mendapatkan informasi, semakin sulit kita memastikan mana yang layak dipercaya.

Mungkin masalah manusia modern bukan lagi kekurangan informasi.

Masalahnya adalah kelebihan informasi tanpa cukup kebijaksanaan untuk mengolahnya.


Kita Bisa Mengetahui Banyak Hal Tanpa Benar-Benar Memahaminya

Ada perbedaan besar antara mengetahui dan memahami.

Kita bisa tahu bahwa sebuah berita sedang viral.

Tetapi belum tentu tahu apakah berita itu benar.

Kita bisa tahu sebuah istilah.

Tetapi belum tentu memahami maknanya.

Kita bisa membaca pendapat seorang tokoh.

Tetapi belum tentu memahami konteks pemikirannya.

Kita bisa mengetahui hasil sebuah penelitian.

Tetapi belum tentu mengerti bagaimana penelitian itu dilakukan.

Kita bahkan bisa menghafal banyak fakta tanpa pernah memiliki kemampuan untuk menghubungkan fakta-fakta tersebut menjadi pemahaman yang utuh.

Inilah mengapa informasi tidak otomatis menghasilkan kebijaksanaan.

Informasi memberi kita bahan.

Kebijaksanaan menentukan bagaimana bahan itu digunakan.


Mengapa Kita Begitu Mudah Percaya?

Mungkin karena kita memang ingin percaya.

Kita senang menemukan informasi yang sesuai dengan apa yang sudah kita yakini.

Jika kita menyukai seseorang, kita cenderung lebih mudah menerima berita baik tentangnya.

Jika kita tidak menyukai seseorang, berita buruk tentangnya terasa lebih masuk akal.

Jika kita sudah memiliki keyakinan tertentu, informasi yang mendukung keyakinan itu terasa seperti bukti.

Sementara informasi yang bertentangan terasa seperti serangan.

Di sinilah manusia menghadapi persoalan lama dalam bentuk baru.

Teknologinya baru.

Tetapi kelemahan manusianya sudah sangat tua.


Kita Tidak Selalu Mencari Kebenaran

Kadang-kadang kita sebenarnya tidak sedang mencari kebenaran.

Kita sedang mencari pembenaran.

Keduanya tampak mirip.

Tetapi sangat berbeda.

Orang yang mencari kebenaran bersedia mengatakan:

"Kalau bukti menunjukkan saya salah, saya harus mempertimbangkan kembali pendapat saya."

Orang yang mencari pembenaran berkata:

"Saya sudah yakin. Sekarang saya hanya mencari sesuatu yang mendukung keyakinan saya."

Yang pertama membutuhkan kerendahan hati.

Yang kedua membutuhkan mesin pencari.

Dan zaman digital membuat pencarian pembenaran menjadi sangat mudah.

Kita dapat menemukan ribuan orang yang mengatakan hal yang sama dengan kita.

Akibatnya, kita bisa merasa benar bukan karena argumen kita kuat, tetapi karena kita menemukan cukup banyak orang yang sepakat.

Padahal jumlah orang yang percaya sesuatu tidak otomatis membuat sesuatu itu benar.


Carl Sagan dan Pentingnya Keraguan yang Sehat

Astronom dan penulis Carl Sagan menghabiskan banyak perhatian dalam The Demon-Haunted World: Science as a Candle in the Dark untuk membahas pentingnya berpikir kritis, menguji klaim, dan membedakan antara sesuatu yang memiliki bukti dengan sesuatu yang hanya tampak meyakinkan.

Buku tersebut pertama kali terbit pada 1995 dan edisi Indonesia diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia pada 2018. Deskripsi bibliografisnya menekankan penggunaan cara berpikir ilmiah, bukti, dan pemeriksaan kritis sebagai alat menghadapi klaim yang menyesatkan.

Ada sesuatu yang menarik dari pendekatan seperti ini.

Keraguan tidak selalu berarti sinisme.

Meragukan sebuah klaim bukan berarti menganggap semua orang berbohong.

Bertanya bukan berarti tidak percaya kepada siapa pun.

Justru sebaliknya.

Keraguan yang sehat adalah cara kita menghormati kebenaran.

Kita tidak ingin mempercayai sesuatu hanya karena terdengar menarik.

Kita ingin memiliki alasan yang cukup untuk mempercayainya.


Bertanya "Dari Mana Informasi Ini?" Adalah Kebiasaan Kecil yang Penting

Ada satu kebiasaan sederhana yang menurut saya layak dimiliki setiap orang:

selalu bertanya dari mana sebuah informasi berasal.

Bukan:

"Siapa yang mengirim?"

Tetapi:

"Apa sumber pertamanya?"

Kalau seseorang mengirim sebuah berita melalui grup WhatsApp, kita bisa bertanya:

Apakah ada sumber resmi?

Apakah ada dokumen?

Apakah media yang kredibel memberitakannya?

Apakah pernyataan tersebut lengkap atau hanya potongan?

Apakah tanggalnya masih relevan?

Apakah judulnya sesuai dengan isi?

Apakah gambar yang digunakan memang berkaitan dengan peristiwa tersebut?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti ini mungkin terdengar merepotkan.

Tetapi jauh lebih murah daripada menyebarkan sesuatu yang ternyata salah.


Masalahnya Bukan Hanya Hoaks

Kita sering menganggap masalah informasi hanya berkaitan dengan berita palsu.

Padahal persoalannya lebih luas.

Ada informasi yang benar tetapi disajikan tanpa konteks.

Ada statistik yang benar tetapi digunakan untuk menyimpulkan sesuatu yang salah.

Ada foto yang benar tetapi diberi keterangan yang keliru.

Ada kutipan asli tetapi dipotong sehingga maknanya berubah.

Ada penelitian yang benar tetapi hasilnya dibesar-besarkan.

Ada pendapat seseorang yang kemudian disebarkan seolah-olah merupakan fakta.

Semua itu menunjukkan bahwa kebenaran informasi tidak hanya bergantung pada apakah satu kalimat benar atau salah.

Konteks juga penting.


Jangan Percaya Hanya Karena Ada Nama Besar di Belakangnya

Ini sangat relevan dengan standar editorial yang sedang kita bangun di adib.my.id.

Di internet, kita sering menemukan kalimat bijaksana yang dikaitkan dengan tokoh terkenal.

Socrates.

Rumi.

Einstein.

Hamka.

Nurcholish Madjid.

Soekarno.

Hatta.

Dan banyak tokoh lainnya.

Kalimatnya indah.

Terdengar dalam.

Mudah dibagikan.

Tetapi ketika dicari sumber aslinya, kadang tidak ditemukan.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak.

Kalimat yang terdengar seperti seorang tokoh belum tentu pernah diucapkan tokoh tersebut.

Dan atribusi yang salah tetap merupakan kesalahan, meskipun kalimatnya sangat bagus.

Karena itu, dalam artikel-artikel adib.my.id kita perlu membiasakan diri membedakan:

kutipan langsung, parafrasa pemikiran, dan interpretasi penulis.

Ketiganya bukan hal yang sama.


Hamka: Ilmu Harus Bertemu dengan Budi

Pemikiran Hamka sangat menarik jika ditempatkan dalam persoalan ini.

Dalam Falsafah Hidup, Hamka membicarakan manusia, akal, budi, ilmu, agama, kehidupan sosial, dan berbagai persoalan yang berkaitan dengan cara manusia menjalani kehidupan. Edisi Republika 2015 tercatat memiliki 484 halaman dan ISBN 9786232790346.

Yang menarik adalah hubungan antara akal dan budi.

Pengetahuan saja tidak otomatis membuat seseorang bijaksana.

Seseorang bisa sangat pintar tetapi menggunakan kepintarannya untuk menipu.

Bisa sangat terdidik tetapi merendahkan orang lain.

Bisa menguasai teknologi tetapi menyebarkan informasi palsu.

Bisa memiliki kemampuan berbicara luar biasa tetapi menggunakan kata-kata untuk memecah belah.

Maka pertanyaannya bukan hanya:

"Seberapa banyak yang kita tahu?"

Tetapi:

"Untuk apa pengetahuan itu kita gunakan?"

Itulah titik ketika ilmu bertemu dengan etika.


Orang Pintar Bisa Salah

Ini mungkin terdengar sederhana.

Tetapi sulit diterima.

Kita sering memberikan kepercayaan besar kepada orang yang terlihat pintar.

Memiliki gelar.

Berbicara dengan percaya diri.

Menggunakan istilah yang rumit.

Memiliki banyak pengikut.

Tampil di televisi.

Memiliki jabatan.

Semua itu dapat menjadi pertimbangan.

Tetapi tidak satu pun otomatis menjamin bahwa setiap perkataannya benar.

Seorang ahli bisa salah.

Seorang profesor bisa keliru.

Seorang tokoh terkenal bisa salah memahami sesuatu.

Seorang pemimpin bisa mengambil keputusan buruk.

Bahkan kita sendiri bisa salah.

Menyadari hal ini bukan berarti menjadi tidak percaya kepada siapa pun.

Justru membuat kita belajar menilai argumen berdasarkan alasan dan bukti, bukan semata-mata berdasarkan siapa yang mengucapkannya.


Namun Jangan Juga Menjadi Orang yang Meragukan Segalanya

Ada bahaya di sisi lain.

Setelah mengetahui banyak informasi palsu, seseorang bisa jatuh ke ekstrem lain:

"Semua berita bohong."

"Semua media tidak bisa dipercaya."

"Semua ahli punya kepentingan."

"Tidak ada kebenaran."

Ini juga bermasalah.

Skeptisisme yang sehat tidak mengatakan bahwa semua hal salah.

Ia mengatakan:

"Mari kita periksa."

Kita tetap membutuhkan ilmu.

Tetap membutuhkan jurnalisme.

Tetap membutuhkan penelitian.

Tetap membutuhkan lembaga pendidikan.

Tetap membutuhkan pengalaman para ahli.

Tetapi kita juga membutuhkan mekanisme untuk menguji klaim.

Jadi pilihannya bukan antara percaya kepada semuanya atau tidak percaya kepada siapa pun.

Ada jalan ketiga:

percaya secara proporsional terhadap kualitas bukti.


Mengapa Orang Mudah Terseret Algoritma?

Media sosial bekerja dengan cara yang membuat kita terus mendapatkan sesuatu yang menarik perhatian.

Konten yang membuat marah.

Takut.

Tertawa.

Terkejut.

Tersinggung.

Semua itu sangat mudah mendapatkan perhatian.

Akibatnya, dunia yang kita lihat di layar tidak selalu merupakan gambaran lengkap tentang dunia nyata.

Kita mungkin melihat sepuluh video yang membicarakan masalah tertentu.

Lalu merasa:

"Semua orang sedang membicarakan ini."

Belum tentu.

Mungkin algoritma hanya mengetahui bahwa kita berhenti menonton konten semacam itu.

Lalu ia memberikan lebih banyak.

Akhirnya kita hidup dalam sebuah ruang informasi yang terasa seperti kenyataan utuh.

Padahal mungkin hanya sebagian kecil.


Kita Perlu Sesekali Keluar dari Ruang yang Kita Bangun Sendiri

Ada manfaat besar dari berbicara dengan orang yang berbeda dari kita.

Membaca buku yang tidak selalu sesuai dengan pendapat kita.

Mendengar pandangan generasi lain.

Mengunjungi tempat yang berbeda.

Mempelajari sejarah.

Membaca sumber primer.

Mendengarkan kritik.

Bukan untuk membuat kita kehilangan prinsip.

Tetapi untuk memastikan bahwa prinsip kita memang sudah melewati proses berpikir.

Jika sebuah keyakinan hanya bisa bertahan ketika tidak pernah diuji, mungkin keyakinan itu belum cukup kuat.


Tidak Semua yang Viral Layak Diketahui

Ini juga perlu kita akui.

Kita tidak wajib mengetahui semuanya.

Ada ribuan berita setiap hari.

Ratusan video baru.

Banyak kontroversi.

Banyak perdebatan.

Banyak tren.

Jika kita berusaha mengikuti semuanya, pikiran kita akan kelelahan.

Maka kedewasaan informasi juga berarti kemampuan berkata:

"Saya tidak perlu mengetahui ini."

Tidak semua perdebatan membutuhkan komentar kita.

Tidak semua berita membutuhkan reaksi kita.

Tidak semua isu harus menjadi perhatian kita.

Kadang menjaga kesehatan pikiran berarti memilih informasi yang layak masuk.


Ada Perbedaan antara Cepat Mengetahui dan Lambat Memahami

Kita sekarang bisa mengetahui sebuah kejadian dalam hitungan menit.

Tetapi memahami dampaknya mungkin membutuhkan bertahun-tahun.

Sebuah kebijakan diumumkan hari ini.

Dampaknya belum tentu terlihat hari ini.

Sebuah teknologi diluncurkan.

Konsekuensinya mungkin baru terlihat bertahun-tahun kemudian.

Sebuah gagasan menjadi populer.

Dampaknya terhadap masyarakat baru bisa dinilai setelah waktu berlalu.

Karena itu, kecepatan informasi tidak boleh membuat kita mengira bahwa kita juga harus cepat mengambil kesimpulan.

Berita boleh cepat.

Pemikiran tidak harus selalu cepat.

Ada hal-hal yang justru membutuhkan waktu untuk direnungkan.


"Saya Tidak Tahu" Adalah Kalimat yang Sangat Sehat

Kita sering takut mengucapkan tiga kata tersebut.

"Saya tidak tahu."

Karena kita takut terlihat bodoh.

Padahal sebenarnya kalimat itu adalah pintu menuju pengetahuan.

Orang yang berkata "saya tahu" menutup pertanyaan.

Orang yang berkata "saya tidak tahu" membuka ruang untuk belajar.

Tentu saja kita tidak harus merendahkan diri terus-menerus.

Tetapi kita perlu mengetahui batas pengetahuan kita.

Jika kita tidak tahu, katakan tidak tahu.

Jika belum yakin, katakan belum yakin.

Jika masih mencari bukti, katakan masih mencari.

Kejujuran intelektual semacam itu sangat penting di zaman ketika semua orang seolah-olah harus memiliki pendapat tentang segala sesuatu.


Kita Tidak Harus Berpendapat tentang Semuanya

Ini mungkin salah satu bentuk kebebasan yang paling jarang kita gunakan.

Kebebasan untuk tidak berkomentar.

Kita tidak wajib memiliki pendapat tentang setiap berita.

Tidak wajib ikut setiap perdebatan.

Tidak wajib menjawab setiap provokasi.

Tidak wajib memilih sisi sebelum memahami persoalan.

Kadang diam bukan berarti tidak peduli.

Diam bisa berarti:

"Saya belum cukup tahu untuk berbicara."

Dan itu jauh lebih sehat daripada berbicara hanya karena takut dianggap tidak mengikuti zaman.


Refleksi Penulis

Saya semakin merasa bahwa salah satu bentuk kedewasaan intelektual adalah kemampuan memperlambat diri.

Ketika membaca sesuatu yang membuat marah, jangan langsung membagikannya.

Ketika membaca sesuatu yang sangat sesuai dengan keyakinan kita, jangan langsung mempercayainya.

Ketika seseorang mengatakan sesuatu yang terdengar sangat meyakinkan, jangan langsung menganggapnya benar.

Berhenti.

Baca lagi.

Cari sumber.

Lihat konteks.

Bandingkan.

Pikirkan.

Lalu putuskan.

Mungkin kita kehilangan beberapa menit.

Tetapi mungkin kita juga menyelamatkan diri dari bertahun-tahun mempercayai sesuatu yang keliru.


Dunia Tidak Membutuhkan Kita untuk Mengetahui Segalanya

Ada tekanan aneh dalam kehidupan modern.

Kita seolah harus selalu tahu.

Tahu berita terbaru.

Tahu tren terbaru.

Tahu istilah terbaru.

Tahu pendapat terbaru.

Tahu apa yang sedang viral.

Padahal manusia tidak diciptakan untuk mengetahui semuanya.

Kita hanya perlu memiliki kemampuan untuk belajar ketika perlu.

Itulah keterampilan yang jauh lebih penting.

Bukan menghafal seluruh informasi.

Tetapi mengetahui bagaimana mencari, memeriksa, memahami, dan menggunakan informasi.

Karena informasi akan terus berubah.

Kemampuan berpikir akan jauh lebih tahan lama.


Pada Akhirnya, Kebijaksanaan Bukan Berarti Tahu Segalanya

Mungkin kita perlu mengubah cara mendefinisikan orang bijaksana.

Orang bijaksana bukan orang yang selalu memiliki jawaban.

Bukan pula orang yang selalu menang dalam perdebatan.

Bukan orang yang paling banyak berbicara.

Bukan orang yang paling banyak membaca.

Kebijaksanaan mungkin justru terlihat dari kemampuan seseorang mengetahui kapan harus berbicara, kapan harus bertanya, kapan harus diam, dan kapan harus mengubah pendapat.

Ia tidak takut berkata:

"Saya belum tahu."

Ia tidak malu berkata:

"Saya keliru."

Ia tidak tergesa-gesa mengatakan:

"Pasti benar."

Ia tahu bahwa kenyataan jauh lebih kompleks daripada apa yang terlihat di layar.

Dan karena itu, ia berhati-hati.

Bukan karena takut.

Tetapi karena menghormati kebenaran.


Penutup: Di Tengah Kebisingan, Rawatlah Kemampuan untuk Berpikir

Kita tidak bisa menghentikan banjir informasi.

Setiap hari akan ada berita baru.

Video baru.

Pendapat baru.

Kontroversi baru.

Teknologi baru.

Bahkan mungkin semakin lama, informasi akan datang semakin cepat.

Tetapi kita masih memiliki satu kemampuan yang sangat berharga:

kemampuan untuk berhenti.

Berhenti sebelum membagikan.

Berhenti sebelum percaya.

Berhenti sebelum menghakimi.

Berhenti sebelum marah.

Berhenti sebelum menyimpulkan.

Lalu bertanya:

"Benarkah?"

"Apa sumbernya?"

"Apa konteksnya?"

"Apa buktinya?"

"Mungkinkah saya keliru?"

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak membuat kita terlihat paling pintar.

Tetapi bisa membuat kita menjadi manusia yang lebih berhati-hati.

Dan mungkin, di zaman ketika semua orang berlomba menjadi yang paling cepat berbicara, kemampuan untuk berpikir sedikit lebih lambat justru menjadi sebuah keunggulan.

Kita tidak perlu mengetahui semuanya.

Kita tidak perlu memiliki pendapat tentang semuanya.

Kita tidak perlu memenangkan semua perdebatan.

Yang perlu kita jaga adalah sesuatu yang lebih penting:

kemampuan membedakan antara apa yang kita tahu, apa yang kita kira kita tahu, dan apa yang sebenarnya belum kita ketahui.

Sebab pada akhirnya, ilmu yang baik seharusnya tidak membuat kita semakin sombong.

Ia justru membuat kita semakin sadar betapa luasnya sesuatu yang belum kita pahami.

Dan mungkin di sanalah kerendahan hati bertemu dengan kebijaksanaan.

Berpikir lebih dalam.

Percaya dengan alasan.

Meragukan dengan sehat.

Dan tetap rendah hati di hadapan kenyataan.


Daftar Bacaan

  1. Sagan, Carl. The Demon-Haunted World: Science as a Candle in the Dark. New York: Random House, 1995. Edisi Indonesia diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia pada 2018 dengan ISBN 978-602-481-043-6. Buku ini membahas berpikir kritis, pemeriksaan bukti, dan bahaya pseudoscience. https://books.google.co.id/books/about/The_Demon_Haunted_World.html?id=x-XdzwEACAAJ&redir_esc=y
  2. Hamka. Falsafah Hidup. Jakarta: Republika Penerbit, 2015. Edisi yang tercatat di Google Books memuat 484 halaman dan ISBN 978-623-279-034-6. Buku ini menjadi salah satu sumber penting untuk membaca pemikiran Hamka mengenai akal, budi, agama, kehidupan, dan manusia. https://books.google.co.id/books/about/FALSAFAH_HIDUP.html?hl=id&id=C0fiDwAAQBAJ&redir_esc=y
  3. Hamka. Falsafah Hidup. Pustaka Antara, 1964. Edisi lama ini tercatat dalam Google Books sebagai karya Hamka mengenai filsafat hidup dan etika Islam. https://books.google.co.id/books/about/Falsafah_hidup_oleh_Dr_Hamka.html?id=WShIAAAAMAAJ&redir_esc=y
  4. Sagan, Carl & Ann Druyan. The Demon-Haunted World: Science as a Candle in the Dark. Random House, 1997. Edisi ini memuat pembahasan mengenai cara berpikir ilmiah, bukti, pseudoscience, dan pentingnya berpikir jernih dalam masyarakat modern. https://books.google.co.id/books/about/The_Demon_Haunted_World.html?id=bgaNEAAAQBAJ&redir_esc=y





















Post a Comment for "Di Tengah Banjir Informasi, Kita Justru Perlu Belajar untuk Tidak Terburu-Buru Percaya"