Kesederhanaan yang Hilang dari Kehidupan Modern

Ada satu hal yang dulu dianggap biasa, tetapi hari ini mulai terasa mewah: hidup sederhana.

Bukan sederhana karena tidak mampu.

Bukan sederhana karena tidak punya pilihan.

Melainkan sederhana karena sadar bahwa tidak semua hal perlu dimiliki.

Tidak semua keinginan harus dipenuhi.

Dan tidak semua kesempatan harus diambil.

Dulu, banyak orang tua kita menjalani hidup dengan ukuran yang relatif jelas. Mereka bekerja, membangun keluarga, merawat hubungan dengan tetangga, dan berusaha hidup dengan baik sesuai kemampuan yang dimiliki.

Mereka tentu memiliki masalah.

Mereka juga memiliki kekhawatiran.

Tetapi hidup tidak selalu dipenuhi tekanan untuk terus menunjukkan sesuatu kepada dunia.

Hari ini situasinya berbeda.

Kita hidup dalam budaya yang terus mendorong manusia untuk tampil.

Tampil berhasil.

Tampil sibuk.

Tampil produktif.

Tampil bahagia.

Bahkan kadang-kadang, tampil sederhana pun harus ditampilkan.

Akibatnya, hidup perlahan berubah menjadi panggung yang tidak pernah benar-benar sepi.

Ada dorongan untuk selalu memperbarui pencapaian.

Selalu mengikuti tren.

Selalu terlihat berkembang.

Dan tanpa sadar, manusia mulai kehilangan hubungan dengan kesederhanaan yang dulu begitu alami.

Budayawan Indonesia Goenawan Mohamad pernah menulis bahwa manusia modern sering hidup dalam arus yang bergerak sangat cepat sehingga kehilangan kesempatan untuk merenung.

Kalimat itu terasa semakin nyata hari ini.

Karena kita terus bergerak dari satu hal ke hal lain.

Dari satu target ke target berikutnya.

Dari satu keinginan ke keinginan yang lain.

Tanpa sempat bertanya:

"Sebenarnya, apa yang benar-benar aku butuhkan?"

Pertanyaan itu sederhana.

Namun jawabannya sering tidak mudah.

Karena dunia di sekitar kita terus berusaha meyakinkan bahwa kita membutuhkan lebih banyak dari yang sebenarnya diperlukan.

Lebih banyak barang.

Lebih banyak pengakuan.

Lebih banyak pengalaman.

Lebih banyak pencapaian.

Padahal tidak semua "lebih banyak" menghasilkan hidup yang lebih baik.

Sastrawan Indonesia Ahmad Tohari melalui banyak karyanya sering menggambarkan kehidupan masyarakat desa yang sederhana, tetapi kaya akan hubungan kemanusiaan.

Mereka mungkin tidak memiliki banyak hal.

Namun mereka memiliki sesuatu yang hari ini mulai langka: kedekatan.

Kedekatan dengan keluarga.

Kedekatan dengan tetangga.

Kedekatan dengan alam.

Dan yang tidak kalah penting, kedekatan dengan diri mereka sendiri.

Mungkin itulah yang perlahan hilang dari kehidupan modern.

Kita semakin terhubung secara digital.

Tetapi semakin jauh dari banyak hal yang membuat manusia merasa utuh.

Ulama dan penulis besar Indonesia Buya Hamka pernah mengingatkan bahwa kekayaan sejati bukan terletak pada banyaknya harta, melainkan pada ketenteraman jiwa.

Pemikiran itu terdengar sederhana.

Tetapi justru karena sederhana, ia sering terlupakan.

Hari ini banyak orang memiliki lebih banyak kenyamanan dibanding generasi sebelumnya.

Namun kecemasan tidak otomatis berkurang.

Fasilitas bertambah.

Tetapi ketenangan tidak selalu ikut bertambah.

Karena ketenteraman jiwa ternyata tidak bisa dibeli seperti barang.

Ia tumbuh dari cara seseorang menjalani hidup.

Dari kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan.

Dari keberanian hidup sesuai nilai yang diyakini.

Dari kesediaan untuk tidak terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain.

Mungkin kesederhanaan bukan berarti hidup tanpa ambisi.

Bukan berarti menolak kemajuan.

Dan bukan berarti menolak rezeki yang datang.

Kesederhanaan adalah kemampuan menjaga diri agar tidak diperbudak oleh apa yang dimiliki.

Tetap tenang ketika memiliki sedikit.

Tetap rendah hati ketika memiliki banyak.

Tetap mampu menikmati hal-hal kecil yang sering diabaikan.

Secangkir kopi di pagi hari.

Percakapan yang hangat.

Udara sore setelah hujan.

Buku yang menemani malam.

Tawa keluarga di ruang makan.

Hal-hal yang terlihat biasa, tetapi sering menjadi sumber kebahagiaan paling tulus.

Mungkin karena pada akhirnya, hidup yang baik tidak selalu diukur dari seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan.

Tetapi dari seberapa dalam kita mampu mensyukuri apa yang sudah ada.

Dan bisa jadi, di tengah dunia yang terus mengajarkan manusia untuk mengejar lebih banyak, salah satu bentuk kebijaksanaan paling tenang adalah kembali belajar hidup sederhana tanpa merasa kekurangan.

Post a Comment for "Kesederhanaan yang Hilang dari Kehidupan Modern"