Ketika Hidup Tidak Berjalan Sesuai Rencana
Kita memilih jalan yang dianggap benar.
Bekerja keras.
Menyiapkan langkah demi langkah.
Menghitung kemungkinan yang ada.
Lalu suatu hari, hidup mengambil arah yang sama sekali berbeda.
Rencana gagal.
Harapan tertunda.
Kesempatan hilang.
Atau sesuatu yang tidak pernah kita bayangkan tiba-tiba datang mengubah semuanya.
Pada saat seperti itulah manusia sering diuji.
Bukan oleh kesulitan itu sendiri.
Melainkan oleh kemampuannya menerima kenyataan bahwa hidup tidak selalu tunduk pada rencana manusia.
Sejak kecil, kita diajarkan pentingnya memiliki tujuan.
Dan itu benar.
Tanpa tujuan, manusia mudah kehilangan arah.
Namun ada pelajaran lain yang tidak kalah penting: memahami bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan.
Kita bisa mengendalikan usaha.
Tetapi tidak selalu hasilnya.
Kita bisa mengendalikan sikap.
Tetapi tidak selalu keadaan.
Kita bisa mengendalikan pilihan.
Tetapi tidak selalu konsekuensi yang muncul dari pilihan tersebut.
Budayawan dan ulama besar Indonesia Buya Hamka pernah menulis bahwa salah satu sumber penderitaan manusia adalah keinginannya untuk menguasai hal-hal yang sebenarnya berada di luar kemampuannya.
Kalimat itu terasa sederhana.
Tetapi semakin lama hidup dijalani, semakin terasa kebenarannya.
Banyak kegelisahan lahir bukan karena kenyataan yang terjadi.
Melainkan karena kenyataan itu berbeda dari yang kita harapkan.
Kita ingin hidup berjalan lurus.
Padahal hidup sering bergerak berkelok.
Kita ingin semua usaha menghasilkan keberhasilan.
Padahal kadang usaha terbaik sekalipun tetap berakhir dengan kegagalan.
Kita ingin mendapatkan jawaban yang jelas.
Padahal tidak semua pertanyaan dalam hidup memiliki jawaban yang segera terlihat.
Sastrawan Indonesia Pramoedya Ananta Toer pernah menunjukkan melalui karya-karyanya bahwa manusia sering kali tidak memilih keadaan yang menimpanya, tetapi selalu memiliki kesempatan untuk memilih bagaimana ia merespons keadaan tersebut.
Dan mungkin di situlah letak kekuatan manusia yang sesungguhnya.
Bukan pada kemampuannya mengatur dunia.
Melainkan pada kemampuannya menjaga dirinya ketika dunia tidak berjalan sesuai keinginan.
Karena kenyataannya, hampir semua orang pernah mengalami masa-masa yang tidak direncanakan.
Ada yang kehilangan pekerjaan.
Ada yang kehilangan orang yang dicintai.
Ada yang melihat impian yang dibangun bertahun-tahun runtuh dalam waktu singkat.
Ada pula yang harus memulai kembali dari awal ketika usianya tidak lagi muda.
Namun anehnya, banyak kebijaksanaan justru lahir dari masa-masa seperti itu.
Bukan dari kenyamanan.
Bukan dari keberhasilan.
Melainkan dari saat-saat ketika hidup memaksa kita melihat sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kita pahami.
Penulis dan budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) sering mengingatkan bahwa manusia tidak selalu diberi apa yang diinginkannya, tetapi sering diberi apa yang dibutuhkannya untuk bertumbuh.
Pemikiran ini tidak selalu mudah diterima.
Terutama ketika luka masih terasa.
Ketika kegagalan masih dekat.
Ketika harapan baru saja runtuh.
Tetapi jika melihat kembali perjalanan hidup, mungkin kita akan menemukan bahwa beberapa pelajaran paling berharga justru datang dari jalan yang dulu tidak kita pilih.
Dari kehilangan yang mengajarkan penghargaan.
Dari kegagalan yang mengajarkan kerendahan hati.
Dari penolakan yang mengajarkan ketabahan.
Dari ketidakpastian yang mengajarkan kepercayaan.
Mungkin itu sebabnya hidup tidak pernah sepenuhnya tentang merencanakan masa depan.
Hidup juga tentang belajar menerima bahwa sebagian jalan akan tetap menjadi misteri sampai kita benar-benar melaluinya.
Dan bisa jadi, salah satu bentuk kedewasaan paling dalam adalah kemampuan untuk tetap berjalan dengan tenang, bahkan ketika peta yang kita pegang tidak lagi sesuai dengan jalan yang ada di depan.

Post a Comment for "Ketika Hidup Tidak Berjalan Sesuai Rencana"