Menjadi Tua Tanpa Menjadi Bijaksana

Kita tahu bersama, ada anggapan yang cukup umum dalam kehidupan: semakin tua seseorang, semakin bijaksana dirinya.

Sekilas, anggapan itu terdengar masuk akal.

Usia membawa pengalaman.

Pengalaman membawa pelajaran.

Dan pelajaran seharusnya melahirkan kebijaksanaan.

Namun kenyataannya tidak selalu demikian.

Tidak semua orang yang bertambah usia otomatis bertambah bijaksana.

Sebab waktu hanya menambah umur.

Sedangkan kebijaksanaan lahir dari cara seseorang memaknai pengalaman yang dilaluinya.

Ada orang yang berkali-kali menghadapi kesalahan yang sama, tetapi tidak pernah belajar darinya.

Ada yang mengalami banyak kegagalan, tetapi hanya menyimpan kekecewaan tanpa mengambil pelajaran.

Ada pula yang telah hidup puluhan tahun, namun tetap memandang dunia dengan kemarahan yang sama seperti saat muda.

Karena pengalaman tidak otomatis berubah menjadi hikmah.

Ia membutuhkan perenungan.

Membutuhkan kejujuran.

Membutuhkan keberanian untuk melihat diri sendiri.

Budayawan dan ulama besar Indonesia Buya Hamka pernah menulis bahwa manusia sering lebih mudah melihat kesalahan orang lain daripada melihat kelemahan dirinya sendiri.

Kalimat itu sederhana.

Tetapi jika direnungkan, mungkin di situlah banyak proses pendewasaan terhambat.

Karena kebijaksanaan selalu dimulai dari kemampuan bercermin.

Bukan menunjuk ke luar.

Melainkan melihat ke dalam.

Melihat apa yang perlu diperbaiki.

Apa yang perlu dipelajari.

Dan apa yang perlu dilepaskan.

Sayangnya, kehidupan modern tidak selalu memberi ruang untuk itu.

Kita sibuk bekerja.

Sibuk mengejar target.

Sibuk mengurus banyak hal.

Sampai lupa mengurus diri sendiri.

Padahal ada perbedaan besar antara menjadi tua dan menjadi dewasa.

Menjadi tua adalah proses biologis.

Semua orang yang hidup cukup lama akan mengalaminya.

Tetapi menjadi dewasa adalah proses batin.

Dan tidak semua orang bersedia menjalani proses itu.

Sastrawan Indonesia Ahmad Tohari dalam banyak karyanya sering menggambarkan tokoh-tokoh sederhana yang justru memiliki kebijaksanaan hidup yang mendalam.

Mereka mungkin tidak berpendidikan tinggi.

Tidak terkenal.

Tidak memiliki jabatan besar.

Tetapi mereka memahami sesuatu yang penting:

bahwa hidup tidak hanya soal berhasil atau gagal.

Hidup juga soal bagaimana seseorang menjaga kemanusiaannya.

Menjaga hati tetap lembut.

Menjaga akal tetap jernih.

Menjaga diri agar tidak kehilangan belas kasih.

Karena semakin bertambah usia, sebenarnya tantangan manusia bukan sekadar mempertahankan kesehatan tubuh.

Tantangan yang lebih besar adalah menjaga kualitas jiwanya.

Menjaga agar tidak menjadi sinis.

Menjaga agar tidak menjadi keras.

Menjaga agar tidak kehilangan rasa ingin belajar.

Penulis dan budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) pernah berulang kali mengingatkan bahwa manusia harus terus belajar sampai akhir hayatnya.

Bukan hanya belajar ilmu.

Tetapi belajar menjadi manusia.

Belajar memahami sesama.

Belajar memahami kehidupan.

Belajar memahami dirinya sendiri.

Dan mungkin di situlah letak kebijaksanaan yang sebenarnya.

Bukan merasa sudah tahu banyak.

Melainkan tetap rendah hati untuk terus belajar.

Karena semakin seseorang memahami kehidupan, biasanya ia justru semakin sadar betapa banyak hal yang belum diketahuinya.

Mungkin itu sebabnya orang-orang yang benar-benar bijaksana jarang terlihat paling keras berbicara.

Mereka lebih banyak mendengar.

Lebih banyak memahami.

Lebih sedikit menghakimi.

Bukan karena mereka lemah.

Tetapi karena mereka telah cukup lama hidup untuk mengetahui bahwa kenyataan sering jauh lebih rumit daripada yang terlihat.

Pada akhirnya, usia hanyalah angka yang terus bertambah.

Tetapi kebijaksanaan adalah pilihan yang harus diperjuangkan setiap hari.

Melalui kerendahan hati.

Melalui kesediaan belajar.

Melalui keberanian mengoreksi diri sendiri.

Dan bisa jadi, salah satu keberhasilan terbesar dalam hidup bukanlah menjadi semakin kaya, semakin terkenal, atau semakin berkuasa.

Melainkan menjadi manusia yang semakin bijaksana seiring bertambahnya usia.

Post a Comment for "Menjadi Tua Tanpa Menjadi Bijaksana"