Mengapa Orang Yang Gemar Membaca Tidak Mudah Menghakimi

"Semakin banyak kita membaca kehidupan orang lain, semakin kita sadar bahwa setiap manusia sedang memikul beban yang tidak selalu tampak."


Pendahuluan:
Sebuah Pertemuan yang Mengubah Cara Pandang

Beberapa tahun yang lalu saya bertemu dengan seorang lelaki tua di sebuah toko buku. Rambutnya sudah memutih, langkahnya pelan, dan tangannya membawa beberapa buku yang tampaknya sudah lama ia cari.

Kami sempat berbincang sebentar.

Saya bertanya buku apa yang paling berpengaruh dalam hidupnya.

Ia tersenyum, lalu menjawab dengan tenang,

"Bukan satu buku. Yang mengubah saya adalah kebiasaan membaca banyak kehidupan."

Jawaban itu terus teringat sampai hari ini.

Awalnya saya mengira membaca hanya akan menambah pengetahuan.

Lama-kelamaan saya menyadari bahwa membaca yang sesungguhnya tidak hanya membuat seseorang mengetahui lebih banyak.

Ia juga membuat seseorang lebih sulit menghakimi.

Karena setiap buku memperlihatkan bahwa hidup manusia jauh lebih rumit daripada yang tampak di permukaan.


Mengapa Kita Mudah Menghakimi?

Di media sosial, kita sering melihat potongan-potongan kehidupan.

Seseorang melakukan kesalahan.

Video berdurasi tiga puluh detik tersebar.

Komentar bermunculan.

Ada yang mengejek.

Ada yang mencaci.

Ada yang langsung menyimpulkan siapa orang itu.

Padahal kita hanya melihat satu adegan dari keseluruhan hidupnya.

Ironisnya, kita berharap orang lain memahami seluruh cerita hidup kita, tetapi kita sering menilai orang lain hanya dari satu peristiwa.

Barangkali bukan karena kita jahat.

Melainkan karena kita belum terbiasa melihat kehidupan dari berbagai sudut pandang.

Dan di sinilah membaca memiliki peran yang sangat penting.


Pramoedya Ananta Toer: Sastra Mengajarkan Kita Menjadi Manusia

Dalam berbagai novelnya, terutama Tetralogi Buru, Pramoedya Ananta Toer tidak pernah menghadirkan tokoh yang sepenuhnya hitam atau sepenuhnya putih.

Setiap tokoh memiliki latar belakang.

Luka.

Harapan.

Ketakutan.

Pilihan-pilihan yang sering kali lahir dari keadaan yang tidak sederhana.*(1)

Melalui sastra, Pramoedya mengajak pembaca memasuki kehidupan orang lain.

Kita dipaksa melihat dunia melalui mata seseorang yang mungkin sangat berbeda dengan diri kita.

Inilah kekuatan sastra.

Ia melatih empati tanpa menggurui.

Setelah membaca kisah-kisah seperti itu, menjadi jauh lebih sulit untuk mengatakan,

"Orang itu pasti salah."

Karena kita mulai bertanya,

"Apa yang sebenarnya ia alami?"


Martha Nussbaum: Membaca sebagai Latihan Empati

Filsuf Amerika Martha C. Nussbaum berpendapat bahwa sastra memiliki peran penting dalam membentuk warga masyarakat yang demokratis dan berperikemanusiaan.

Dalam bukunya Cultivating Humanity, ia menjelaskan bahwa membaca karya sastra melatih kemampuan seseorang membayangkan kehidupan orang lain, termasuk mereka yang berbeda latar belakang, keyakinan, maupun pengalaman hidupnya.*(2)

Kemampuan membayangkan perspektif orang lain inilah yang menjadi dasar empati.

Tanpa empati, pengetahuan bisa berubah menjadi kesombongan.

Dengan empati, pengetahuan menjadi kebijaksanaan.


Hamka: Adab Mendahului Penilaian

Buya Hamka berulang kali mengingatkan bahwa buruk sangka adalah penyakit hati yang dapat merusak hubungan antarmanusia.

Dalam Tasawuf Modern, beliau menekankan pentingnya membersihkan hati sebelum menilai orang lain.*(3)

Nasihat ini terasa sangat relevan hari ini.

Sering kali yang kita miliki hanyalah informasi.

Bukan pemahaman.

Informasi membuat kita cepat bereaksi.

Pemahaman membuat kita berhenti sejenak.

Dan jeda itulah yang sering menyelamatkan kita dari penyesalan.


Membaca Membuat Kita Menemukan Keterbatasan Diri

Ada satu perubahan yang saya rasakan sejak membaca lebih banyak buku.

Saya menjadi lebih sering mengatakan,

"Mungkin saya belum tahu seluruh ceritanya."

Kalimat itu bukan tanda kelemahan.

Justru sebaliknya.

Ia adalah tanda bahwa kita mulai memahami betapa kompleksnya manusia.

Semakin banyak membaca sejarah, saya menemukan bahwa tokoh-tokoh besar pun pernah melakukan kesalahan.

Semakin banyak membaca biografi, saya melihat bahwa keberhasilan hampir selalu dibangun di atas kegagalan yang panjang.

Semakin banyak membaca sastra, saya menyadari bahwa setiap orang sedang berjuang dengan persoalannya sendiri.

Membaca perlahan mengikis kebiasaan melihat dunia secara hitam dan putih.


Dunia yang Kehilangan Kesabaran

Hari ini kita hidup di zaman yang serba cepat.

Cepat membaca judul.

Cepat memberi komentar.

Cepat menyimpulkan.

Tetapi tidak selalu cepat memahami.

Mungkin itulah sebabnya perdebatan semakin banyak, sementara percakapan yang sungguh-sungguh terasa semakin langka.

Membaca mengajarkan sesuatu yang mulai hilang dari kehidupan modern.

Kesabaran.

Sebuah buku tidak bisa dipahami hanya dari sampulnya.

Demikian pula manusia.


Refleksi Penulis

Saya tidak berani mengatakan bahwa membaca membuat seseorang otomatis menjadi bijaksana.

Ada orang yang membaca banyak buku tetapi tetap merasa paling benar.

Namun saya percaya bahwa membaca dengan hati yang terbuka dapat memperluas cara kita memandang kehidupan.

Buku-buku yang paling membekas bagi saya bukanlah buku yang memberi semua jawaban.

Melainkan buku yang membuat saya berhenti menghakimi.

Yang membuat saya bertanya lebih banyak daripada menyimpulkan.

Yang mengingatkan bahwa setiap manusia adalah sebuah cerita yang belum selesai dibaca.

Mungkin karena itu, setiap kali selesai membaca buku yang baik, saya tidak merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Saya justru merasa lebih rendah hati di hadapan kehidupan.


Penutup

Barangkali manfaat terbesar dari membaca bukanlah bertambahnya jumlah pengetahuan.

Melainkan bertambahnya keluasan hati.

Karena setiap halaman yang kita baca membuka kemungkinan bahwa pengalaman manusia selalu lebih rumit daripada dugaan kita.

Dan ketika kita mulai memahami itu, kita tidak lagi tergesa-gesa menghakimi.

Kita lebih banyak mendengar.

Lebih banyak bertanya.

Lebih banyak berusaha memahami.

Pada akhirnya, membaca bukan hanya kegiatan mengumpulkan informasi.

Ia adalah latihan seumur hidup untuk menjadi manusia yang lebih sabar, lebih berbelas kasih, dan lebih bijaksana.


Daftar Bacaan

  1. Pramoedya Ananta Toer. Bumi Manusia. Jakarta: Lentera Dipantara, berbagai edisi.
  2. Nussbaum, Martha C. Cultivating Humanity: A Classical Defense of Reform in Liberal Education. Cambridge, MA: Harvard University Press, 1997.
  3. Hamka. Tasawuf Modern. Jakarta: Republika Penerbit, berbagai edisi.

Post a Comment for "Mengapa Orang Yang Gemar Membaca Tidak Mudah Menghakimi"