Semakin Banyak Belajar, Semakin Sadar Betapa Sedikit yang Kita Ketahui

 "Ilmu yang sejati bukan membuat manusia merasa paling pintar. Ia justru membuat manusia semakin rendah hati."


Pendahuluan: Ilusi Menjadi Orang yang Paling Tahu

Ada satu hal yang saya rasakan setiap kali selesai membaca sebuah buku yang baik.

Bukan perasaan menjadi lebih pintar.

Justru sebaliknya.

Saya merasa semakin banyak hal yang belum saya pahami.

Awalnya saya mengira itu tanda bahwa saya tidak cukup cerdas.

Namun lama-kelamaan saya menyadari bahwa pengalaman seperti itu ternyata juga dialami banyak ilmuwan besar.

Semakin luas seseorang belajar, semakin ia melihat luasnya lautan pengetahuan yang belum dijelajahi.

Sebaliknya, ketika pengetahuan kita masih sedikit, dunia tampak sederhana.

Semuanya terasa mudah dijelaskan.

Kita cepat menyimpulkan.

Cepat menilai.

Cepat merasa benar.

Mungkin karena kita belum cukup jauh berjalan untuk melihat betapa luasnya cakrawala.


Pengetahuan yang Sedikit Sering Melahirkan Keyakinan yang Besar

Media sosial memperlihatkan fenomena yang menarik.

Semakin rumit sebuah persoalan, semakin cepat muncul orang yang merasa memiliki jawaban paling benar.

Persoalan ekonomi.

Agama.

Politik.

Pendidikan.

Kesehatan.

Semuanya sering dibahas seolah-olah tidak memiliki kerumitan.

Padahal setiap bidang ilmu dibangun oleh penelitian selama puluhan, bahkan ratusan tahun.

Bukan berarti kita tidak boleh memiliki pendapat.

Tentu boleh.

Namun ada perbedaan antara memiliki pendapat dan merasa bahwa pendapat kita pasti benar.

Kerendahan hati intelektual dimulai ketika kita berani mengatakan,

"Mungkin saya belum mengetahui seluruh ceritanya."

Kalimat itu tampak sederhana.

Tetapi justru di sanalah pintu belajar tetap terbuka.


Socrates: Kesadaran Akan Ketidaktahuan

Dalam dialog Apology karya Plato, Socrates menceritakan bahwa ia disebut sebagai orang paling bijaksana di Athena. Setelah mencoba memahami berbagai orang yang dianggap ahli, Socrates sampai pada kesimpulan yang terkenal: kebijaksanaannya, jika memang ada, terletak pada kesadarannya bahwa ia tidak mengetahui banyak hal.*(1)

Ungkapan yang sering diparafrasakan sebagai "Aku tahu bahwa aku tidak tahu" bukanlah ajakan untuk meremehkan ilmu.

Sebaliknya, itu adalah pengingat bahwa kesadaran atas keterbatasan diri merupakan awal dari pencarian pengetahuan.

Socrates tidak berhenti belajar karena merasa bodoh.

Ia terus bertanya karena sadar bahwa manusia selalu memiliki ruang untuk memahami lebih dalam.

Di zaman ketika banyak orang berlomba menjadi yang paling vokal, sikap seperti ini terasa semakin berharga.


Ki Hadjar Dewantara: Pendidikan Adalah Menuntun, Bukan Menggurui

Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hadjar Dewantara, memandang pendidikan sebagai proses menuntun tumbuhnya potensi manusia, bukan sekadar memindahkan informasi dari guru kepada murid.*(2)

Dalam Karya Ki Hadjar Dewantara, beliau menjelaskan bahwa pendidikan harus memerdekakan manusia agar mampu berpikir, mempertimbangkan, dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

Pandangan ini mengandung pelajaran penting.

Orang yang benar-benar berilmu tidak sibuk menunjukkan bahwa dirinya paling tahu.

Ia justru membantu orang lain bertumbuh.

Ilmu bukan alat untuk meninggikan diri.

Ilmu adalah sarana memanusiakan manusia.


Hamka: Adab Mendahului Ilmu

Dalam banyak karya dan ceramahnya, Buya Hamka menegaskan bahwa ilmu yang tidak dibarengi akhlak dapat menjadi sumber kesombongan. Dalam Lembaga Budi dan Tasawuf Modern, Hamka mengingatkan bahwa pendidikan karakter dan kebersihan hati harus berjalan beriringan dengan kecerdasan.*(3)

Kita mungkin mengenal orang yang sangat cerdas.

Tetapi tidak semua orang cerdas menyenangkan untuk diajak berbicara.

Mengapa?

Karena kecerdasan tanpa kerendahan hati sering berubah menjadi arogansi.

Sebaliknya, orang yang benar-benar matang ilmunya biasanya tidak tergesa-gesa menyalahkan.

Ia mendengar lebih dulu.

Bertanya lebih dulu.

Memahami lebih dulu.


Efek Dunning–Kruger: Ketika Sedikit Tahu Terasa Sangat Yakin

Pada tahun 1999, psikolog David Dunning dan Justin Kruger menerbitkan penelitian yang kemudian dikenal sebagai Dunning–Kruger effect.*(4)

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang dengan kemampuan yang rendah pada suatu bidang cenderung melebih-lebihkan kemampuannya sendiri, karena mereka belum memiliki pengetahuan yang cukup untuk menyadari kekurangannya.

Sebaliknya, mereka yang benar-benar ahli justru sering lebih berhati-hati dalam membuat kesimpulan.

Temuan ini bukan alasan untuk meremehkan siapa pun.

Justru ia menjadi pengingat bagi kita semua.

Semakin yakin kita bahwa kita mengetahui segalanya, mungkin semakin besar kebutuhan kita untuk belajar lagi.


Belajar Bukan Perlombaan Mengumpulkan Jawaban

Semakin saya membaca, semakin saya merasa bahwa tujuan belajar bukanlah mengumpulkan sebanyak mungkin jawaban.

Tujuan belajar adalah menghasilkan pertanyaan yang lebih baik.

Dulu saya berpikir bahwa membaca buku akan membuat semua persoalan menjadi jelas.

Sekarang saya justru melihat bahwa setiap buku yang baik membuka pintu menuju pertanyaan-pertanyaan baru.

Dan itu bukan sesuatu yang mengecewakan.

Justru itulah keindahan belajar.

Karena ilmu bukan sebuah bangunan yang selesai.

Ia adalah perjalanan.


Refleksi Penulis

Ada masa ketika saya ingin selalu memiliki jawaban.

Saya merasa tidak nyaman mengatakan,

"Saya tidak tahu."

Kalimat itu terdengar seperti kelemahan.

Namun semakin banyak saya membaca karya para ulama, filsuf, ilmuwan, dan pemikir besar, semakin saya melihat pola yang sama.

Mereka tidak takut mengakui keterbatasannya.

Mereka tidak malu merevisi pendapatnya.

Mereka tidak keberatan belajar dari orang lain.

Mungkin karena mereka memahami bahwa kebenaran jauh lebih penting daripada ego.

Hari ini saya justru lebih menghargai orang yang berkata,

"Saya belum tahu, mari kita pelajari bersama."

daripada orang yang selalu memiliki jawaban untuk segala hal.


Penutup

Barangkali ukuran kecerdasan seseorang bukanlah seberapa sering ia berbicara.

Melainkan seberapa besar kesediaannya untuk terus belajar.

Karena ilmu yang sejati tidak membuat manusia berdiri di atas orang lain.

Ia membuat manusia mampu melihat dunia dengan lebih jernih.

Lebih sabar.

Lebih rendah hati.

Dan lebih terbuka terhadap kemungkinan bahwa masih ada banyak hal yang belum ia pahami.

Pada akhirnya, semakin luas pengetahuan kita, semakin kita menyadari bahwa kehidupan selalu lebih kaya daripada kesimpulan-kesimpulan yang terburu-buru.

Dan mungkin, di situlah awal dari kebijaksanaan.


Daftar Bacaan

  1. Plato. Apology. Dalam: The Last Days of Socrates. Terj. Hugh Tredennick. London: Penguin Classics.
  2. Ki Hadjar Dewantara. Karya Ki Hadjar Dewantara, Bagian Pertama: Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa.
  3. Hamka. Tasawuf Modern. Jakarta: Republika Penerbit; Hamka. Lembaga Budi. Jakarta: Bulan Bintang (berbagai edisi).
  4. Dunning, David & Kruger, Justin. "Unskilled and Unaware of It: How Difficulties in Recognizing One's Own Incompetence Lead to Inflated Self-Assessments." Journal of Personality and Social Psychology, Vol. 77, No. 6 (1999), hlm. 1121–1134.

Post a Comment for "Semakin Banyak Belajar, Semakin Sadar Betapa Sedikit yang Kita Ketahui"