Apa Gunanya Menjadi Sukses Jika Kita Kehilangan Diri Sendiri?

 "Ada keberhasilan yang membuat seseorang semakin besar di mata dunia, tetapi semakin kecil di hadapan dirinya sendiri."


Pendahuluan: Ketika Keberhasilan Tidak Lagi Terasa Membahagiakan

Ada sesuatu yang jarang dibicarakan ketika orang membicarakan kesuksesan.

Kita sering membicarakan bagaimana cara mendapatkannya.

Bagaimana mendapatkan pekerjaan yang baik.

Bagaimana menghasilkan lebih banyak uang.

Bagaimana membangun bisnis.

Bagaimana memiliki rumah.

Bagaimana mendapatkan jabatan.

Bagaimana menjadi terkenal.

Bagaimana memiliki pengikut yang banyak.

Tetapi kita jarang bertanya:

Setelah semua itu tercapai, kita akan menjadi manusia seperti apa?

Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana.

Namun semakin saya memikirkannya, semakin saya merasa bahwa pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar bagaimana mencapai keberhasilan.

Sebab tidak semua keberhasilan membuat manusia menjadi lebih baik.

Ada orang yang setelah sukses menjadi semakin rendah hati.

Tetapi ada pula yang menjadi semakin sulit disentuh.

Semakin banyak memiliki sesuatu, semakin takut kehilangan.

Semakin tinggi kedudukannya, semakin sulit menerima kritik.

Semakin terkenal, semakin membutuhkan pengakuan.

Dan pada titik tertentu, seseorang mungkin memiliki hampir semua yang dahulu ia impikan, tetapi kehilangan sesuatu yang tidak bisa dibeli:

ketenangan menjadi dirinya sendiri.


Kita Sering Mengira Kesuksesan Berarti Mendapatkan Lebih Banyak

Sejak kecil kita sering diajarkan untuk mengejar sesuatu.

Nilai yang lebih tinggi.

Sekolah yang lebih baik.

Pekerjaan yang lebih bagus.

Penghasilan yang lebih besar.

Rumah yang lebih nyaman.

Kendaraan yang lebih baik.

Jabatan yang lebih tinggi.

Semua itu tidak salah.

Manusia memang perlu berkembang.

Kita perlu bekerja.

Perlu memiliki cita-cita.

Perlu meningkatkan kualitas hidup.

Masalahnya muncul ketika "lebih banyak" menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan.

Karena kalau ukurannya selalu lebih banyak, maka hampir tidak pernah ada titik yang disebut cukup.

Penghasilan naik.

Keinginan ikut naik.

Jabatan meningkat.

Ambisi ikut meningkat.

Rumah membesar.

Kebutuhan gaya hidup membesar.

Pengikut bertambah.

Kebutuhan mendapatkan pengakuan bertambah.

Akhirnya manusia bukan lagi menggunakan keberhasilan.

Keberhasilan justru mulai menggunakan manusia.


Ada Perbedaan antara Kaya dan Merasa Cukup

Seseorang bisa memiliki banyak tetapi selalu merasa kekurangan.

Sebaliknya, seseorang bisa memiliki lebih sedikit tetapi menjalani hidup dengan rasa cukup.

Keduanya tidak berarti bahwa kemiskinan adalah sesuatu yang ideal atau kekayaan adalah sesuatu yang buruk.

Bukan itu persoalannya.

Persoalannya adalah hubungan manusia dengan apa yang dimilikinya.

Apakah harta menjadi alat?

Atau justru menjadi tuan?

Apakah pekerjaan menjadi sarana berkarya?

Atau menjadi identitas satu-satunya?

Apakah jabatan menjadi amanah?

Atau menjadi alasan merasa lebih tinggi daripada orang lain?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini jarang muncul ketika seseorang sedang sibuk mengejar kesuksesan.

Biasanya pertanyaan itu baru datang ketika seseorang berhenti sejenak.


Hamka: Kehidupan Tidak Hanya Tentang Dunia Lahiriah

Dalam Tasawuf Modern, Buya Hamka banyak membahas persoalan kebahagiaan, kesehatan jiwa, hubungan manusia dengan harta, serta bagaimana manusia seharusnya menjalani kehidupan dengan keseimbangan antara kebutuhan duniawi dan kehidupan batin.

Karya tersebut penting karena Hamka tidak memandang manusia hanya sebagai makhluk yang mengejar kenikmatan material.

Ada kehidupan batin yang juga harus dirawat.

Dan ketika kehidupan batin diabaikan, keberhasilan lahiriah tidak otomatis menghasilkan kebahagiaan.

Seseorang dapat memiliki rumah besar tetapi tidak memiliki ketenteraman.

Memiliki banyak teman tetapi tidak memiliki seorang pun yang dapat dipercaya.

Memiliki jabatan tinggi tetapi tidak memiliki keberanian untuk menjadi dirinya sendiri.

Memiliki uang tetapi selalu takut kehilangan.

Mungkin inilah salah satu ironi terbesar dalam kehidupan:

kita bisa berhasil mendapatkan sesuatu yang ternyata tidak mampu memberikan apa yang kita cari.


Nurcholish Madjid: Nilai Harus Menjadi Etika Sosial

Dalam Islam: Doktrin dan Peradaban, Nurcholish Madjid menempatkan nilai-nilai universal, kemanusiaan, kemajemukan, dan etika sosial sebagai bagian penting dari pembahasannya. Ia menekankan perlunya nilai-nilai tersebut hadir dalam kondisi nyata kehidupan masyarakat, bukan berhenti sebagai gagasan abstrak.

Gagasan ini memberikan pelajaran penting ketika kita berbicara tentang keberhasilan.

Keberhasilan manusia tidak seharusnya hanya dinilai dari apa yang berhasil ia kumpulkan.

Tetapi juga dari apa yang keberhasilannya lakukan terhadap kehidupan di sekitarnya.

Apakah bisnisnya memperlakukan pekerja dengan manusiawi?

Apakah ilmunya digunakan untuk membantu?

Apakah jabatannya digunakan untuk melayani?

Apakah kekayaannya membuatnya lebih peduli atau justru lebih acuh?

Karena pada akhirnya, keberhasilan pribadi tidak pernah sepenuhnya menjadi persoalan pribadi.

Kita hidup bersama orang lain.

Apa yang kita lakukan selalu memiliki dampak terhadap kehidupan orang lain.


Ketika Pekerjaan Menjadi Identitas

Ada sebuah pertanyaan yang menarik.

Jika suatu hari seseorang kehilangan jabatan, pekerjaan, atau bisnisnya, apakah ia masih tahu siapa dirinya?

Ini pertanyaan yang tidak mudah.

Karena kita sering memperkenalkan diri melalui pekerjaan.

"Saya direktur."

"Saya pengusaha."

"Saya dosen."

"Saya dokter."

"Saya pemilik perusahaan."

Profesi memang bagian dari identitas.

Tetapi seharusnya bukan seluruh identitas.

Sebab jabatan dapat berakhir.

Perusahaan bisa bangkrut.

Bisnis bisa gagal.

Karier bisa berubah.

Popularitas bisa hilang.

Lalu siapa kita setelah semuanya itu tidak ada?

Mungkin di situlah kita menemukan diri yang sebenarnya.


Jangan Sampai Kita Menjadi Orang yang Tidak Kita Sukai

Ada orang yang berhasil mencapai sesuatu dengan cara yang perlahan-lahan mengubah dirinya.

Awalnya ia bekerja keras.

Kemudian mulai mengorbankan keluarga.

Kemudian mengabaikan kesehatan.

Kemudian tidak punya waktu untuk sahabat.

Kemudian kehilangan kebiasaan membaca.

Kemudian tidak lagi punya waktu untuk berpikir.

Kemudian semua hidupnya hanya berputar di sekitar pekerjaan.

Ketika akhirnya berhasil, ia melihat ke belakang dan menyadari:

orang yang mencapai tujuan itu bukan lagi orang yang dahulu memiliki mimpi tersebut.

Tujuannya tercapai.

Tetapi dirinya berubah terlalu jauh.

Inilah alasan mengapa kesuksesan perlu memiliki batas moral.

Tidak semua yang bisa kita dapatkan layak kita kejar.

Tidak semua peluang harus diambil.

Tidak semua uang layak diperoleh.

Tidak semua kemenangan layak diperjuangkan.

Karena ada harga yang terlalu mahal.


Ki Hadjar Dewantara: Pendidikan Seharusnya Membentuk Manusia

Dalam pemikiran pendidikan Ki Hadjar Dewantara, pendidikan tidak berhenti pada transfer pengetahuan. Kajian akademik tentang konsep pendidikan budi pekertinya menunjukkan bahwa pendidikan diarahkan pada pembentukan manusia yang berkembang secara utuh, termasuk aspek budi pekerti.

Ini relevan dengan persoalan kesuksesan.

Sebab kita bisa memiliki orang-orang yang sangat terdidik tetapi belum tentu memiliki karakter yang baik.

Bisa memiliki lulusan terbaik tetapi belum tentu memiliki manusia terbaik.

Bisa memiliki teknologi canggih tetapi belum tentu memiliki kebijaksanaan untuk menggunakannya.

Maka pendidikan yang baik seharusnya tidak hanya menjawab:

"Apa yang bisa kamu lakukan?"

Tetapi juga:

"Untuk apa kemampuan itu kamu gunakan?"

Pertanyaan kedua mungkin jauh lebih menentukan masa depan manusia.


Kesuksesan Tanpa Integritas Adalah Kesuksesan yang Rapuh

Bayangkan seseorang membangun bisnis besar melalui kebohongan.

Secara angka, ia berhasil.

Perusahaannya tumbuh.

Uangnya banyak.

Namanya terkenal.

Tetapi setiap keberhasilan itu berdiri di atas sesuatu yang rapuh.

Begitu kebohongannya terbongkar, semuanya bisa runtuh.

Hal yang sama berlaku dalam kehidupan pribadi.

Kepercayaan membutuhkan waktu lama untuk dibangun.

Tetapi bisa hilang dalam satu tindakan.

Reputasi membutuhkan bertahun-tahun.

Namun satu keputusan buruk dapat menghancurkannya.

Karena itu integritas bukan aksesori kesuksesan.

Integritas adalah fondasi yang membuat kesuksesan layak dipertahankan.


Kita Tidak Harus Menjadi Orang Terbesar

Ada tekanan yang sangat besar dalam kehidupan modern untuk menjadi luar biasa.

Harus berbeda.

Harus sukses.

Harus produktif.

Harus menghasilkan sesuatu yang besar.

Harus membangun personal brand.

Harus memiliki pencapaian.

Harus meninggalkan jejak.

Semua itu boleh.

Tetapi mungkin tidak semua manusia harus menjadi besar di mata dunia.

Ada orang yang kehidupannya sederhana tetapi sangat berarti bagi keluarganya.

Ada guru yang tidak terkenal tetapi mengubah kehidupan ratusan murid.

Ada ibu yang tidak memiliki jabatan tetapi membesarkan anak-anak dengan penuh kasih.

Ada pekerja yang tidak pernah masuk berita tetapi selalu melakukan pekerjaannya dengan jujur.

Ada tetangga yang setiap hari membantu orang lain tanpa pernah disebut namanya.

Mereka mungkin tidak terkenal.

Tetapi apakah hidup mereka tidak berarti?

Tentu saja tidak.

Nilai sebuah kehidupan tidak selalu dapat diukur dengan ukuran yang digunakan dunia untuk mengukur kesuksesan.


Apa yang Sebenarnya Kita Cari?

Kadang kita mengejar uang karena mengira uang akan memberi kebebasan.

Mengejar jabatan karena mengira jabatan akan memberi penghormatan.

Mengejar popularitas karena mengira perhatian akan membuat kita merasa berharga.

Mengejar kesempurnaan karena mengira tidak ada orang yang akan meninggalkan kita jika kita cukup sempurna.

Tetapi mungkin kebutuhan manusia yang paling dalam bukanlah semua itu.

Kita ingin merasa hidup kita berarti.

Ingin dicintai.

Ingin dihormati.

Ingin memiliki hubungan yang bermakna.

Ingin merasa bahwa keberadaan kita berguna.

Ingin tidur dengan hati yang tenang.

Ingin bangun tanpa membenci kehidupan yang kita jalani.

Dan menariknya, sebagian besar kebutuhan tersebut tidak bisa dibeli.


Kesuksesan yang Sehat

Mungkin kita perlu mendefinisikan ulang kesuksesan.

Kesuksesan bukan berarti berhenti memiliki ambisi.

Bukan berarti hidup sederhana dan tidak memiliki cita-cita.

Bukan berarti menolak uang.

Bukan berarti menghindari jabatan.

Bukan berarti tidak ingin berkembang.

Kesuksesan yang sehat justru memungkinkan semua itu.

Tetapi ia menempatkan semuanya pada tempat yang benar.

Kita bekerja keras, tetapi tetap memiliki keluarga.

Kita mencari uang, tetapi tidak menjual kejujuran.

Kita mengejar jabatan, tetapi tidak kehilangan kerendahan hati.

Kita membangun bisnis, tetapi tidak memperlakukan manusia sebagai angka.

Kita menjadi terkenal, tetapi tetap mampu mendengar kritik.

Kita memiliki banyak, tetapi tidak lupa berbagi.

Kita berkembang, tetapi tidak kehilangan diri sendiri.


Refleksi Penulis

Saya semakin percaya bahwa pertanyaan terpenting setelah mencapai sesuatu bukan:

"Apa lagi yang bisa saya dapatkan?"

Tetapi:

"Apakah semua yang saya dapatkan membuat saya menjadi manusia yang lebih baik?"

Jika jawabannya iya, lanjutkan.

Jika tidak, mungkin kita perlu berhenti.

Mungkin perlu meninjau kembali arah.

Mungkin perlu mengurangi sesuatu.

Mungkin perlu mengatakan tidak kepada peluang yang dahulu sangat kita inginkan.

Tidak mudah.

Karena dunia akan selalu memiliki standar keberhasilannya sendiri.

Tetapi kehidupan kita terlalu berharga untuk diserahkan sepenuhnya kepada standar orang lain.


Ada Hal yang Tidak Boleh Kita Tukarkan dengan Kesuksesan

Ada beberapa hal yang menurut saya terlalu berharga untuk ditukar dengan pencapaian apa pun.

Kesehatan.

Karena uang tidak selalu dapat membeli kembali tubuh yang sudah rusak.

Keluarga.

Karena waktu yang hilang tidak dapat diulang.

Kejujuran.

Karena kepercayaan yang hancur tidak selalu dapat dipulihkan.

Persahabatan.

Karena tidak semua orang akan tetap tinggal ketika kehidupan berubah.

Ketenangan.

Karena memiliki banyak hal tetapi tidak mampu menikmati hidup adalah bentuk kehilangan yang sunyi.

Harga diri.

Karena seseorang bisa memiliki banyak pengikut tetapi kehilangan penghormatan terhadap dirinya sendiri.


Mungkin Kita Tidak Perlu Mengejar Semuanya

Ada kebijaksanaan dalam mengatakan:

"Cukup."

Cukup bekerja hari ini.

Cukup membeli.

Cukup mengejar.

Cukup membandingkan.

Cukup membuktikan diri.

Cukup menjelaskan kepada orang lain bahwa kita berhasil.

Karena hidup bukan perlombaan yang garis akhirnya berada di tempat yang sama untuk semua orang.

Ada orang yang ingin membangun perusahaan besar.

Ada yang ingin membesarkan anak-anak dengan baik.

Ada yang ingin menjadi guru.

Ada yang ingin menulis buku.

Ada yang ingin hidup tenang di sebuah kota kecil.

Tidak ada satu definisi kesuksesan yang harus berlaku untuk semua manusia.


Penutup: Jangan Sampai Berhasil Menjadi Orang yang Salah

Mungkin suatu hari nanti kita akan mendapatkan apa yang selama ini kita kejar.

Pekerjaan yang kita impikan.

Rumah yang kita inginkan.

Bisnis yang kita bangun.

Jabatan yang kita harapkan.

Nama yang dikenal banyak orang.

Tetapi sebelum hari itu datang, ada baiknya kita bertanya:

"Apakah saya masih ingin menjadi diri saya sendiri ketika semua itu berhasil saya dapatkan?"

Jika jawabannya iya, mungkin kita berada di jalan yang baik.

Tetapi jika kita mulai kehilangan keluarga, kesehatan, integritas, persahabatan, ketenangan, dan nilai-nilai yang dahulu kita yakini, mungkin ada sesuatu yang perlu diperbaiki.

Karena tidak ada gunanya menjadi sukses jika kita harus kehilangan diri sendiri untuk mendapatkannya.

Tidak ada gunanya memiliki dunia jika kita tidak lagi memiliki rumah di dalam hati.

Dan tidak ada keberhasilan yang benar-benar layak dirayakan jika dalam perjalanan menuju ke sana kita berubah menjadi manusia yang bahkan tidak lagi kita sukai.

Maka barangkali tujuan hidup bukanlah menjadi manusia yang paling sukses.

Melainkan menjadi manusia yang ketika suatu hari melihat kembali perjalanan hidupnya, dapat berkata dengan tenang:

"Aku memang tidak mendapatkan semuanya. Tetapi aku tidak kehilangan diriku sendiri."

Dan mungkin, itu adalah salah satu bentuk keberhasilan yang paling layak kita perjuangkan.


Daftar Bacaan

  1. Hamka. Tasawuf Modern. Jakarta: Republika Penerbit, berbagai edisi.
  2. Hamka. Falsafah Hidup. Jakarta: Republika Penerbit, berbagai edisi. Data bibliografis edisi modern tersedia dalam katalog Perpustakaan Nasional/Bintangpusnas.
  3. Madjid, Nurcholish. Islam: Doktrin & Peradaban: Sebuah Telaah Kritis tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan, dan Kemodernan. Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, 1992; edisi Gramedia Pustaka Utama, 2019. Edisi 2019 tercatat 888 halaman dengan ISBN 978-602-038-146-6.
  4. Dewantara, Ki Hadjar. Karya Ki Hadjar Dewantara, Bagian Pertama: Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa.
  5. Musthofa, Fathul. Konsep Pendidikan Budi Pekerti Menurut Ki Hadjar Dewantara. Jakarta: Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah, 2018. Penelitian ini menggunakan pendekatan kepustakaan untuk mengkaji konsep pendidikan budi pekerti Ki Hadjar Dewantara.

Post a Comment for "Apa Gunanya Menjadi Sukses Jika Kita Kehilangan Diri Sendiri?"