Menjadi Baik Ketika Tidak Ada yang Melihat
Ada kebaikan yang dipuji banyak orang. Ada pula kebaikan yang tidak pernah diketahui siapa pun. Mungkin justru yang kedua itulah yang paling menguji siapa diri kita sebenarnya.
Pendahuluan: Siapa Kita Ketika Tidak Ada yang Melihat?
Ada sebuah pertanyaan sederhana yang belakangan sering saya pikirkan:
Siapakah diri kita ketika tidak ada seorang pun yang melihat?
Ketika tidak ada kamera.
Tidak ada unggahan.
Tidak ada orang yang akan memuji.
Tidak ada yang mengetahui bahwa kita telah melakukan sesuatu yang baik.
Apakah kita masih memilih untuk jujur?
Apakah kita masih bersedia membantu?
Apakah kita masih menjaga perkataan?
Apakah kita masih mengembalikan sesuatu yang bukan milik kita?
Apakah kita masih melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya meskipun tidak ada yang akan memberikan penghargaan?
Pertanyaan-pertanyaan itu terasa sederhana.
Namun jawabannya mungkin jauh lebih penting daripada bagaimana kita terlihat di hadapan orang lain.
Sebab reputasi adalah bagaimana orang lain mengenal kita.
Karakter adalah siapa kita ketika tidak ada yang mengenal kita.
Zaman Ketika Kebaikan Mudah Dipertontonkan
Kita hidup di zaman yang sangat menarik.
Hampir semua hal dapat didokumentasikan.
Seseorang membantu orang lain.
Difoto.
Direkam.
Diunggah.
Mendapat komentar.
Mendapat pujian.
Tidak ada yang salah dengan itu.
Kebaikan yang terlihat bahkan kadang dapat menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama.
Masalahnya muncul ketika kita mulai melakukan kebaikan hanya karena ingin dilihat.
Kita mulai bertanya:
"Apakah orang lain akan tahu?"
"Apakah ada yang menghargai?"
"Apakah saya mendapatkan pengakuan?"
Tanpa sadar, pusat perhatian bergeser.
Bukan lagi kepada kebaikan.
Tetapi kepada diri sendiri.
Ada Perbedaan antara Berbuat Baik dan Terlihat Baik
Ini mungkin salah satu perbedaan moral yang paling penting.
Berbuat baik berarti tindakan kita diarahkan kepada sesuatu yang kita anggap baik.
Terlihat baik berarti perhatian kita lebih banyak diarahkan kepada bagaimana orang lain menilai kita.
Keduanya kadang menghasilkan tindakan yang sama.
Seseorang memberikan makanan kepada orang miskin.
Dari luar, kita tidak bisa langsung mengetahui motifnya.
Mungkin ia benar-benar ingin membantu.
Mungkin ia ingin mendapatkan pujian.
Mungkin keduanya bercampur.
Manusia memang kompleks.
Karena itu, kita tidak perlu tergesa-gesa menghakimi niat orang lain.
Namun kita bisa menggunakan pertanyaan tersebut untuk memeriksa diri sendiri.
Apa yang sebenarnya mendorong saya melakukan sesuatu?
Hamka dan Persoalan Budi
Dalam Falsafah Hidup, Hamka membahas kehidupan manusia, akal, budi, sopan santun, dan nilai-nilai yang membuat manusia memiliki kehidupan yang bermakna. Karya tersebut pertama kali terbit pada pertengahan abad ke-20 dan telah diterbitkan kembali oleh Republika. https://books.google.co.id/books/about/Falsafah_hidup.html?id=BMTqsgEACAAJ&redir_esc=y
Salah satu hal menarik dari pemikiran Hamka adalah bahwa kualitas manusia tidak hanya ditentukan oleh apa yang diketahui, tetapi juga oleh bagaimana pengetahuan dan keyakinan itu diwujudkan dalam kehidupan.
Dengan kata lain:
budi harus terlihat dalam tindakan.
Bukan hanya dalam ucapan.
Seseorang dapat berbicara tentang kejujuran selama satu jam.
Tetapi karakter sebenarnya terlihat ketika ia menemukan dompet yang jatuh di jalan dan tidak ada seorang pun di sekitarnya.
Di situlah teori bertemu kenyataan.
Kebaikan yang Tidak Mendapat Tepuk Tangan
Bayangkan seorang pegawai yang menyelesaikan pekerjaannya dengan baik meskipun atasannya tidak pernah memeriksa.
Seorang anak yang membantu orang tuanya tanpa mengunggahnya ke media sosial.
Seseorang yang membuang sampah ke tempatnya meskipun tidak ada kamera pengawas.
Seseorang yang mengembalikan uang kembalian berlebih kepada kasir.
Seseorang yang memilih tidak membalas penghinaan meskipun ia mampu.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada sertifikat.
Tidak ada penghargaan.
Tetapi ada sesuatu yang sedang dibangun.
Karakter.
Dan karakter dibangun dari keputusan-keputusan kecil yang berulang.
Ki Hadjar Dewantara dan Pendidikan Karakter
Pemikiran Ki Hadjar Dewantara memberi kita perspektif penting tentang pendidikan.
Pendidikan tidak semata-mata menghasilkan manusia yang memiliki pengetahuan.
Ia juga harus menuntun pertumbuhan manusia.
Dalam tradisi pemikiran Ki Hadjar, pendidikan berkaitan erat dengan pembentukan budi pekerti dan kemerdekaan manusia untuk berkembang secara utuh.
Karena itu, pendidikan karakter tidak dapat berhenti pada hafalan tentang nilai-nilai.
Anak tidak cukup diberi tahu bahwa kejujuran itu baik.
Ia perlu mengalami situasi ketika berkata jujur terasa sulit.
Anak tidak cukup diberi tahu bahwa menolong itu baik.
Ia perlu memiliki kesempatan untuk menolong.
Anak tidak cukup diajari tentang tanggung jawab.
Ia perlu diberi tanggung jawab.
Karakter tidak dibentuk terutama oleh apa yang kita katakan kepada seseorang, tetapi oleh kebiasaan yang terus ia praktikkan.
Mengapa Hal Kecil Sangat Penting?
Kita sering membayangkan karakter dibentuk oleh keputusan-keputusan besar.
Padahal sebagian besar karakter mungkin justru dibentuk oleh keputusan yang tidak menarik perhatian.
Apakah kita datang tepat waktu?
Apakah kita menepati janji?
Apakah kita mengakui kesalahan?
Apakah kita mengembalikan barang yang dipinjam?
Apakah kita menjaga rahasia orang lain?
Apakah kita tetap sopan kepada orang yang tidak bisa memberikan keuntungan kepada kita?
Apakah kita memperlakukan pekerja pelayanan dengan hormat?
Apakah kita bersedia membantu seseorang yang tidak bisa membalas kebaikan kita?
Semua terlihat kecil.
Tetapi kehidupan sebenarnya tersusun dari hal-hal kecil.
Dan karakter pun demikian.
Ada Ujian yang Tidak Pernah Masuk Ruang Kelas
Sekolah dapat memberikan ujian matematika.
Ujian bahasa.
Ujian sejarah.
Ujian sains.
Tetapi kehidupan memiliki ujian yang berbeda.
Apakah kita tetap jujur ketika berbohong lebih menguntungkan?
Apakah kita tetap setia ketika ada kesempatan untuk berpaling?
Apakah kita tetap rendah hati ketika dipuji?
Apakah kita tetap baik ketika tidak mendapatkan perlakuan yang sama?
Apakah kita mampu mengakui kesalahan ketika harga diri terasa terancam?
Tidak ada lembar soal.
Tidak ada pengawas.
Tidak ada bel tanda waktu selesai.
Namun ujian semacam itu mungkin justru lebih menentukan siapa diri kita.
Mengapa Kita Membutuhkan Prinsip?
Karena manusia tidak selalu bisa mengandalkan perasaan.
Hari ini kita mungkin merasa ingin melakukan sesuatu yang baik.
Besok kita mungkin malas.
Hari ini kita merasa jujur itu mudah.
Besok kita berhadapan dengan situasi ketika kejujuran membuat kita rugi.
Kalau moral hanya bergantung pada suasana hati, kita akan mudah berubah.
Karena itu manusia membutuhkan prinsip.
Prinsip berfungsi seperti kompas.
Ia tidak menjamin perjalanan selalu mudah.
Tetapi membantu kita mengetahui arah.
Dan orang yang memiliki prinsip tidak harus selalu menjadi orang yang paling keras.
Ia justru bisa menjadi orang yang paling tenang.
Karena ia sudah menentukan batas yang tidak ingin dilampauinya.
Orang yang Baik Tidak Selalu Terlihat Baik
Ini juga penting.
Kadang orang yang melakukan hal benar justru tidak mendapatkan penilaian yang baik.
Seorang ayah mungkin melarang anaknya melakukan sesuatu yang berbahaya.
Anaknya marah.
Ia merasa ayahnya jahat.
Seorang guru memberikan teguran karena seorang murid melakukan kesalahan.
Murid itu mungkin merasa tidak disukai.
Seorang teman mengingatkan kita ketika kita mulai salah arah.
Kita mungkin merasa tersinggung.
Kebaikan tidak selalu terasa menyenangkan.
Nasihat yang baik kadang menyakitkan.
Batas yang sehat kadang mengecewakan.
Kejujuran kadang membuat hubungan menjadi tidak nyaman.
Karena itu, jangan mengukur kebaikan hanya berdasarkan apakah orang lain menyukai tindakan kita.
Menjadi Baik Tanpa Menjadi Naif
Namun ada hal lain yang perlu diperhatikan.
Menjadi baik bukan berarti membiarkan diri dimanfaatkan.
Menjadi pemaaf bukan berarti tidak memiliki batas.
Menolong orang bukan berarti mengabaikan diri sendiri.
Rendah hati bukan berarti membiarkan orang merendahkan kita.
Kebaikan membutuhkan kebijaksanaan.
Kita perlu mengetahui kapan membantu.
Kapan menolak.
Kapan memaafkan.
Kapan menjaga jarak.
Kapan berbicara.
Kapan diam.
Karena kebaikan tanpa kebijaksanaan dapat berubah menjadi tindakan yang justru tidak sehat.
Maka tujuan kita bukan sekadar menjadi orang yang baik.
Kita ingin menjadi orang yang baik sekaligus bijaksana.
Refleksi Penulis
Saya semakin menyukai kebaikan yang tidak banyak diketahui orang.
Bukan karena kebaikan yang terlihat itu buruk.
Sama sekali tidak.
Tetapi ada sesuatu yang terasa sangat tulus dari tindakan yang tidak membutuhkan penonton.
Seseorang membantu.
Kemudian pergi.
Seseorang memberikan sesuatu.
Tidak menyebutkannya lagi.
Seseorang memaafkan.
Tidak menjadikan pengampunan itu senjata untuk merendahkan orang lain.
Seseorang bekerja keras.
Tidak sibuk menjelaskan betapa kerasnya ia bekerja.
Mungkin orang-orang seperti itu tidak selalu terlihat hebat.
Tetapi kehadiran mereka membuat dunia sedikit lebih baik.
Dan mungkin itu sudah cukup.
Apa yang Tersisa Ketika Tepuk Tangan Berhenti?
Kita semua pernah mendapatkan pujian.
Dan kita semua pernah mengalami saat ketika pujian itu berhenti.
Orang-orang yang dahulu memperhatikan kita mungkin sibuk dengan kehidupan mereka.
Popularitas berubah.
Jabatan berakhir.
Uang bisa berkurang.
Penampilan berubah.
Pengikut media sosial bisa bertambah atau berkurang.
Tetapi ketika semua itu hilang, ada pertanyaan yang tersisa:
Siapa kita ketika tidak ada lagi yang bertepuk tangan?
Jika kita masih mampu menjalani kehidupan dengan jujur, tenang, dan bermanfaat, mungkin kita telah membangun sesuatu yang jauh lebih berharga daripada reputasi.
Kita telah membangun karakter.
Mungkin Inilah Makna Kedewasaan
Dulu saya berpikir menjadi dewasa berarti mampu mengurus diri sendiri.
Sekarang saya mulai melihatnya dengan cara yang berbeda.
Menjadi dewasa mungkin berarti mampu mengurus diri sendiri tanpa membuat kehidupan orang lain menjadi lebih buruk.
Bahkan lebih jauh:
mampu menggunakan keberadaan kita untuk membuat kehidupan orang lain sedikit lebih baik.
Tidak harus dengan tindakan besar.
Kadang cukup dengan tidak menambah luka.
Tidak menyebarkan keburukan.
Tidak mempermalukan seseorang.
Tidak memanfaatkan kelemahan orang lain.
Tidak mengambil sesuatu yang bukan hak kita.
Tidak mengkhianati kepercayaan.
Dan ketika memiliki kesempatan untuk berbuat baik, kita melakukannya.
Penutup: Jadilah Baik Bahkan Ketika Tidak Ada yang Melihat
Pada akhirnya, kita tidak bisa mengontrol bagaimana dunia mengingat kita.
Orang bisa salah memahami.
Orang bisa lupa.
Orang bisa memuji hari ini dan mengkritik kita besok.
Itu semua berada di luar kendali kita.
Yang masih menjadi milik kita adalah pilihan kita sendiri.
Mau menjadi orang seperti apa?
Mau memperlakukan manusia lain dengan cara bagaimana?
Mau hidup berdasarkan nilai apa?
Dan yang paling penting:
siapa diri kita ketika tidak ada seorang pun yang melihat?
Mungkin di situlah karakter sesungguhnya diuji.
Bukan ketika kita berada di atas panggung.
Bukan ketika nama kita disebut.
Bukan ketika kamera menyala.
Tetapi ketika kita sendirian dengan hati nurani.
Ketika ada kesempatan melakukan sesuatu yang salah dan tidak seorang pun akan tahu.
Ketika kita bisa mengambil keuntungan tetapi memilih untuk jujur.
Ketika kita bisa membalas tetapi memilih menahan diri.
Ketika kita bisa pergi begitu saja tetapi memilih membantu.
Tidak ada yang melihat.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada penghargaan.
Tetapi ada satu hal yang tetap tinggal:
pengetahuan bahwa kita telah memilih menjadi manusia yang kita hormati sendiri.
Dan mungkin, pada akhirnya, itulah salah satu bentuk keberhasilan yang paling sunyi.
Sekaligus paling berharga.
Daftar Bacaan
- Hamka. Falsafah Hidup. Jakarta: Penerbit Republika, 2015. ISBN 978-602-0822-02-0. Edisi ini tercatat dalam katalog Bintangpusnas Perpustakaan Nasional dan Google Books. https://bintangpusnas.perpusnas.go.id/konten/BK43492/falsafah-hidup
- Dewantara, Ki Hadjar. Karya Ki Hadjar Dewantara, Bagian Pertama: Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa.
- Susanto, Achmad. Pemikiran Filosofis Hamka dalam Buku Falsafah Hidup. Skripsi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2003. Kajian ini secara khusus membahas dimensi filosofis dan pesan moral dalam Falsafah Hidup. https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/36376/

Post a Comment for "Menjadi Baik Ketika Tidak Ada yang Melihat"