Jangan Berhenti Belajar Hanya Karena Usia Bertambah

 "Menjadi tua adalah perjalanan waktu. Berhenti belajar adalah pilihan."


Ada Masa Ketika Kita Merasa Sudah Cukup Tahu

Ada sebuah perubahan yang sering terjadi tanpa kita sadari.

Ketika masih muda, kita banyak bertanya.

Mengapa langit berwarna biru?

Mengapa orang berbeda pendapat?

Bagaimana sesuatu bekerja?

Mengapa seseorang mengambil keputusan tertentu?

Dunia terasa luas dan penuh misteri.

Namun setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan, pertanyaan-pertanyaan itu perlahan berkurang.

Kita mulai merasa sudah tahu.

Kita merasa sudah cukup memahami manusia.

Sudah cukup mengenal kehidupan.

Sudah cukup tahu bagaimana dunia bekerja.

Padahal mungkin bukan dunia yang menjadi lebih sederhana.

Kitalah yang menjadi kurang ingin bertanya.

Dan di situlah sebuah bahaya dimulai.

Bukan ketika seseorang bertambah usia.

Melainkan ketika rasa ingin tahunya berhenti tumbuh.


Sekolah Boleh Selesai, Tetapi Belajar Tidak Pernah

Kita sering memahami pendidikan sebagai sesuatu yang memiliki batas.

Sekolah.

Kuliah.

Wisuda.

Kemudian bekerja.

Seolah-olah setelah menerima ijazah, fase belajar telah selesai.

Padahal UNESCO mendefinisikan lifelong learning sebagai proses belajar yang berlangsung sepanjang kehidupan, mencakup semua kelompok usia, berbagai lingkungan kehidupan, serta pembelajaran formal, nonformal, dan informal. https://www.uil.unesco.org/en/unesco-institute/mandate/lifelong-learning

Artinya, belajar tidak hanya berlangsung di ruang kelas.

Kita belajar dari pekerjaan.

Dari keluarga.

Dari kegagalan.

Dari membaca.

Dari perjalanan.

Dari percakapan.

Bahkan dari kesalahan orang lain.

Dengan cara pandang seperti ini, hidup sendiri menjadi sebuah sekolah yang tidak pernah benar-benar ditutup.


Ki Hadjar Dewantara: Pendidikan untuk Menjadi Manusia

Pemikiran Ki Hadjar Dewantara terasa sangat relevan ketika kita berbicara tentang belajar sepanjang hayat.

Dalam gagasan pendidikannya, pendidikan bukan sekadar proses memindahkan pengetahuan kepada peserta didik. Pendidikan bertujuan menuntun perkembangan manusia agar tumbuh sesuai potensi dan kodratnya.

Kementerian Kebudayaan juga mencatat bahwa sistem Among Taman Siswa menempatkan pendidikan sebagai proses menuntun pertumbuhan anak agar berkembang dengan baik dan selamat.

Di sini ada sesuatu yang menarik.

Kalau pendidikan adalah proses menuntun pertumbuhan manusia, maka pertumbuhan itu seharusnya tidak berhenti hanya karena seseorang telah lulus sekolah.

Manusia terus berubah.

Maka cara berpikirnya pun seharusnya terus berkembang.

Kita tidak seharusnya menjadi orang yang sama pada usia 50 tahun dengan diri kita ketika berusia 20 tahun.

Bukan karena nilai-nilai harus berubah seluruhnya.

Tetapi karena pengalaman seharusnya membuat pemahaman kita semakin matang.


Masalahnya Bukan Bertambah Tua

Ada orang yang berusia 70 tahun tetapi pikirannya masih terbuka terhadap dunia.

Ia masih membaca.

Masih bertanya.

Masih tertarik mempelajari teknologi baru.

Masih mau mendengarkan pendapat anak muda.

Masih bisa berkata,

"Saya belum tahu."

Ada pula orang yang baru berusia 30 tahun tetapi sudah merasa tidak perlu belajar lagi.

Semua pendapatnya sudah final.

Semua pengalaman orang lain dianggap tidak penting.

Semua kritik dianggap serangan.

Jadi mungkin usia bukan persoalannya.

Yang menentukan adalah apakah kita masih memiliki rasa ingin tahu.


Orang yang Berhenti Belajar Mudah Menjadi Tawanan Masa Lalu

Ada sesuatu yang sangat menarik tentang manusia.

Kita sering membawa pengalaman masa lalu sebagai kebenaran untuk semua keadaan.

Dulu saya pernah gagal berbisnis.

Maka saya percaya bisnis tidak cocok untuk saya.

Dulu saya pernah dikhianati.

Maka saya percaya semua orang tidak dapat dipercaya.

Dulu saya pernah mencoba sesuatu dan gagal.

Maka saya tidak akan mencobanya lagi.

Pengalaman memang penting.

Tetapi pengalaman bukan selalu kebenaran universal.

Satu kegagalan tidak otomatis menjelaskan seluruh masa depan.

Satu orang yang buruk tidak mewakili seluruh manusia.

Satu pengalaman tidak selalu bisa dijadikan hukum untuk semua keadaan.

Orang yang terus belajar memahami hal ini.

Ia bersedia memperbarui pemahamannya.


Membaca Membuat Kita Bertemu dengan Dunia yang Tidak Kita Kenal

Salah satu cara paling sederhana untuk menjaga pikiran tetap hidup adalah membaca.

Bukan karena semua yang tertulis dalam buku pasti benar.

Justru sebaliknya.

Dengan membaca berbagai perspektif, kita menemukan bahwa sebuah persoalan bisa dilihat dari banyak sudut.

Sejarah membuat kita memahami masa lalu.

Sains mengajarkan cara menguji kenyataan.

Filsafat mengajarkan cara bertanya.

Sastra mengajarkan cara memasuki kehidupan orang lain.

Biografi memperlihatkan bagaimana manusia menjalani zaman yang berbeda.

Dan buku agama mengajak kita merenungkan hubungan manusia dengan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya.

Semakin banyak membaca, semakin sulit bagi kita untuk merasa bahwa perspektif kita adalah satu-satunya perspektif yang mungkin.


Mengapa Orang Dewasa Sering Takut Menjadi Pemula?

Ada satu hal yang menarik.

Anak kecil tidak malu menjadi pemula.

Ia jatuh ketika belajar berjalan.

Bangun.

Jatuh lagi.

Mencoba lagi.

Ketika belajar berbicara, ia salah mengucapkan kata.

Tidak malu.

Namun orang dewasa sering berbeda.

Kita takut terlihat bodoh.

Takut bertanya.

Takut salah.

Takut tidak memahami teknologi.

Takut belajar sesuatu yang dikuasai orang yang jauh lebih muda.

Akibatnya, kita memilih tetap berada di wilayah yang sudah kita kuasai.

Padahal pertumbuhan selalu dimulai ketika kita berani menjadi pemula kembali.


Belajar Tidak Harus Selalu Menghasilkan Uang

Di zaman sekarang, belajar sering dinilai berdasarkan manfaat ekonominya.

Belajar digital marketing supaya bisa menghasilkan uang.

Belajar bahasa asing supaya karier meningkat.

Belajar teknologi supaya pekerjaan tidak tertinggal.

Semua itu baik.

Tetapi jangan sampai kita melupakan jenis belajar yang tidak langsung menghasilkan uang.

Belajar sejarah karena ingin memahami bangsa sendiri.

Belajar sastra karena ingin memahami manusia.

Belajar filsafat karena ingin berpikir lebih jernih.

Belajar musik karena ingin merasakan keindahan.

Belajar agama karena ingin memperbaiki hubungan dengan Tuhan.

Belajar memasak karena ingin membahagiakan keluarga.

Tidak semua pembelajaran harus dikonversi menjadi rupiah.

Sebagian ilmu memang ditujukan untuk membuat kita menjadi manusia yang lebih utuh.


Hamka dan Kehidupan sebagai Proses Memperbaiki Diri

Dalam berbagai karya Hamka, termasuk Falsafah Hidup dan Tasawuf Modern, kehidupan manusia dipandang sebagai perjalanan yang membutuhkan latihan jiwa, penggunaan akal, dan pembentukan budi.

Dalam kerangka pemikiran tersebut, manusia tidak selesai hanya karena telah memiliki pengetahuan.

Pengetahuan harus memengaruhi cara hidup.

Ini penting.

Karena seseorang bisa membaca banyak buku tentang kesabaran tetapi tetap mudah marah.

Bisa membaca banyak buku tentang kerendahan hati tetapi tetap gemar merendahkan orang lain.

Bisa mengetahui banyak teori tentang kebaikan tetapi tidak melakukan kebaikan.

Maka pertanyaan terpenting setelah belajar bukan:

"Berapa banyak yang saya ketahui?"

Tetapi:

"Apa yang berubah dalam diri saya setelah mengetahui semua itu?"


Belajar dari Orang yang Lebih Muda

Ini mungkin salah satu bentuk kerendahan hati yang paling sulit.

Mau belajar dari orang yang lebih muda.

Di tempat kerja, seorang anak muda mungkin lebih memahami teknologi daripada atasannya yang telah bekerja puluhan tahun.

Di keluarga, seorang anak mungkin memahami dunia digital lebih baik daripada orang tuanya.

Dalam kehidupan sosial, generasi baru mungkin memiliki perspektif yang belum pernah kita pikirkan.

Menerima hal itu tidak mengurangi martabat kita.

Justru menunjukkan bahwa kita cukup dewasa untuk mengakui bahwa pengetahuan tidak mengenal usia.

Kita bisa menjadi guru dalam satu hal dan murid dalam hal lain.


Belajar dari Kesalahan

Ada pelajaran yang tidak dapat diberikan oleh sekolah mana pun.

Yaitu pelajaran yang datang setelah kita melakukan kesalahan.

Kita pernah memilih orang yang salah.

Pernah membuat keputusan buruk.

Pernah berkata sesuatu yang menyakitkan.

Pernah gagal.

Pernah kehilangan kesempatan.

Namun semua itu dapat menjadi guru jika kita mau melakukan refleksi.

Kalau tidak, kesalahan hanya menjadi luka.

Tetapi jika direnungkan, kesalahan dapat menjadi pengetahuan.

Dan pengetahuan yang lahir dari pengalaman sering kali terasa jauh lebih dalam daripada teori.


Dunia Berubah, Maka Kita Juga Harus Bersedia Berubah

UNESCO menekankan bahwa perubahan teknologi, globalisasi, perubahan iklim, serta dinamika sosial membuat kebutuhan belajar sepanjang kehidupan semakin penting. Pengetahuan yang diperoleh seseorang pada masa sekolah atau universitas tidak selalu cukup untuk menghadapi seluruh perjalanan hidupnya. https://www.unesco.org/en/lifelong-learning/need-know

Kita bisa melihatnya sendiri.

Teknologi yang dulu dianggap mustahil sekarang menjadi bagian kehidupan sehari-hari.

Pekerjaan berubah.

Cara berkomunikasi berubah.

Cara memperoleh informasi berubah.

Cara manusia bekerja juga berubah.

Kita tidak harus mengikuti setiap tren.

Tetapi kita harus menjaga kemampuan untuk memahami perubahan.

Karena orang yang berhenti belajar bukan hanya kehilangan pengetahuan baru.

Ia perlahan kehilangan kemampuan memahami dunia yang sedang berubah.


Refleksi Penulis

Saya semakin percaya bahwa salah satu cara terbaik menjaga kehidupan tetap menarik adalah mempertahankan rasa ingin tahu.

Tidak harus melakukan sesuatu yang luar biasa.

Cukup bertanya.

Membaca satu buku.

Mencoba sesuatu yang belum pernah dicoba.

Berbicara dengan seseorang yang berbeda pengalaman.

Mengunjungi tempat yang belum pernah didatangi.

Mendengarkan cerita orang lain.

Semua itu membuat kita sadar bahwa dunia jauh lebih luas daripada rutinitas kita.

Dan mungkin itulah yang membuat usia tidak terasa terlalu berat.

Karena setiap hari masih memiliki sesuatu untuk dipelajari.


Penutup: Jangan Pernah Menutup Pintu Belajar

Suatu hari nanti mungkin tubuh kita tidak lagi sekuat sekarang.

Langkah menjadi lebih lambat.

Rambut berubah warna.

Penglihatan mungkin tidak setajam dahulu.

Tetapi ada satu hal yang semestinya tetap kita jaga:

rasa ingin tahu.

Selama kita masih bertanya, masih membaca, masih mendengarkan, dan masih bersedia mengatakan "saya belum tahu", sebenarnya kita masih sedang bertumbuh.

Maka jangan takut bertambah usia.

Yang perlu kita takutkan adalah bertambah usia tanpa bertambah kebijaksanaan.

Jangan takut menjadi tua.

Takutlah jika suatu hari kita merasa sudah mengetahui semuanya.

Karena ketika seseorang merasa sudah selesai belajar, mungkin pada saat itulah pertumbuhan dirinya benar-benar berhenti.

Dan barangkali kehidupan yang paling indah bukanlah kehidupan seseorang yang mengetahui segala sesuatu.

Melainkan kehidupan seseorang yang sampai usia senja masih mampu memandang dunia dan berkata:

"Masih banyak yang ingin saya pelajari."


Daftar Bacaan

  1. Dewantara, Ki Hadjar. Karya Ki Hadjar Dewantara, Bagian Pertama: Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, 1961. Pemikiran Ki Hadjar mengenai pendidikan juga dibahas dalam kajian akademik dan publikasi kebudayaan pemerintah.
  2. Hamka. Falsafah Hidup. Jakarta: Republika Penerbit
  3. Hamka. Tasawuf Modern. Jakarta: Republika Penerbit
  4. UNESCO Institute for Lifelong Learning. Lifelong Learning. UNESCO Institute for Lifelong Learning. https://www.uil.unesco.org/en/unesco-institute/mandate/lifelong-learning

Post a Comment for "Jangan Berhenti Belajar Hanya Karena Usia Bertambah"