Mengubah Pikiran Bukan Berarti Kehilangan Prinsip

 "Ada perbedaan antara orang yang tidak memiliki pendirian dan orang yang cukup berani memperbaiki pendiriannya."


Pendahuluan: Pernahkah Kita Berubah Pikiran?

Ada sebuah hal yang semakin saya hargai seiring bertambahnya usia.

Bukan kemampuan seseorang untuk mempertahankan pendapat.

Melainkan keberaniannya untuk mengatakan:

"Dulu saya berpikir begitu. Sekarang, setelah belajar lebih banyak, saya melihatnya dengan cara yang berbeda."

Kalimat seperti itu sebenarnya sangat sederhana.

Namun tidak mudah diucapkan.

Kita hidup dalam budaya yang sering menganggap perubahan pendapat sebagai kelemahan.

Hari ini mengatakan A.

Besok mengatakan B.

Orang langsung berkata,

"Bukankah kemarin kamu bilang berbeda?"

Seolah-olah manusia harus menjadi konsisten dalam segala hal sepanjang hidupnya.

Padahal kita berubah.

Pengetahuan berubah.

Pengalaman bertambah.

Dunia bergerak.

Maka sangat wajar jika cara kita memahami sesuatu juga mengalami perubahan.

Yang justru perlu dipertanyakan adalah:

Mengapa kita harus mempertahankan pendapat lama hanya karena takut terlihat tidak konsisten?


Ada Perbedaan antara Prinsip dan Pendapat

Menurut saya, ini adalah hal pertama yang perlu kita pahami.

Tidak semua sesuatu yang kita yakini memiliki kedudukan yang sama.

Ada prinsip.

Ada pendapat.

Ada preferensi.

Ada pula kesimpulan sementara.

Prinsip mungkin kita pegang erat karena berkaitan dengan nilai yang mendasar.

Tetapi pendapat tentang sebuah persoalan dapat berubah ketika informasi baru muncul.

Misalnya seseorang dahulu berpikir bahwa membaca buku tidak penting.

Kemudian ia membaca beberapa buku yang mengubah cara pandangnya.

Mengubah pendapat bukan berarti ia tidak memiliki prinsip.

Justru mungkin ia sedang menjalankan prinsip yang lebih tinggi:

bersedia mengikuti kebenaran ketika pemahamannya berkembang.


Mengapa Kita Sulit Mengubah Pendapat?

Karena pendapat sering kali sudah bercampur dengan identitas.

Kita bukan hanya berkata,

"Saya percaya X."

Tanpa sadar kita mulai merasa,

"Saya adalah orang yang percaya X."

Ketika X kemudian terbukti keliru, yang terasa terancam bukan hanya pendapat.

Tetapi identitas.

Itulah sebabnya sebuah diskusi sederhana bisa berubah menjadi pertengkaran.

Kita tidak lagi mempertahankan gagasan.

Kita merasa sedang mempertahankan diri sendiri.


Carol Dweck dan Pikiran yang Bisa Bertumbuh

Psikolog Carol S. Dweck melalui penelitian tentang mindset menunjukkan pentingnya keyakinan bahwa kemampuan manusia dapat berkembang, bukan sesuatu yang sepenuhnya tetap. Dalam kerangka growth mindset, kesalahan dan tantangan dapat dipandang sebagai bagian dari proses belajar, bukan bukti bahwa kemampuan seseorang sudah ditentukan secara permanen.

Gagasan ini sebenarnya tidak hanya berlaku untuk kemampuan akademik.

Ia juga dapat diterapkan pada cara kita memandang diri sendiri.

Jika kita percaya bahwa diri kita dapat berkembang, maka kita tidak perlu mempertahankan versi lama diri kita.

Kita boleh berubah.

Boleh belajar.

Boleh memperbaiki cara berpikir.

Bahkan boleh mengakui bahwa pemahaman kita lima tahun lalu belum matang.

Itu bukan kegagalan.

Itu pertumbuhan.


Socrates dan Kerendahan Hati Intelektual

Dalam Apology, Plato menggambarkan Socrates sebagai seseorang yang terus mempertanyakan pengetahuan dan keyakinan manusia.

Yang menarik bukan hanya pertanyaannya.

Tetapi kesediaannya untuk menguji apa yang dianggap sudah diketahui.

Socrates tidak menjadikan ketidaktahuan sebagai alasan untuk berhenti mencari.

Justru kesadaran bahwa manusia memiliki keterbatasan menjadi alasan untuk terus bertanya.

Di sinilah kerendahan hati intelektual menjadi penting.

Kita tidak harus mengatakan,

"Saya tidak tahu apa-apa."

Tetapi kita perlu memiliki keberanian untuk mengatakan,

"Mungkin saya belum mengetahui semuanya."

Dua kalimat tersebut sangat berbeda.

Yang pertama merendahkan diri.

Yang kedua membuka pintu belajar.


Hamka: Akal Harus Terus Digunakan

Dalam Falsafah Hidup, Hamka membahas kehidupan manusia melalui hubungan antara agama, akal, budi, dan pengalaman hidup. Buku tersebut memang secara eksplisit menempatkan persoalan akal, ilmu, budi, dan kehidupan manusia sebagai bagian penting pembahasannya.

Salah satu pelajaran yang dapat kita tarik dari kerangka pemikiran Hamka adalah bahwa manusia tidak seharusnya berhenti menggunakan akalnya.

Sebab manusia bukan hanya diminta menerima.

Ia juga diminta mempertimbangkan.

Merenungkan.

Menyelidiki.

Belajar dari pengalaman.

Dan ketika hasil perenungan membawa kita kepada pemahaman yang lebih baik, tidak ada alasan untuk mempertahankan pemahaman lama hanya demi gengsi.


Mengubah Pikiran Justru Bisa Menjadi Tanda Kejujuran

Bayangkan seseorang menemukan bukti bahwa pendapatnya selama ini keliru.

Ada dua kemungkinan.

Pertama, ia mengabaikan bukti tersebut karena tidak ingin terlihat salah.

Kedua, ia mengakui bahwa informasi baru itu membuatnya harus meninjau kembali pandangannya.

Mana yang lebih kuat?

Menurut saya, yang kedua.

Karena orang tersebut menempatkan kebenaran di atas ego.

Ia mengatakan:

"Saya lebih mencintai kebenaran daripada kebutuhan untuk selalu terlihat benar."

Inilah salah satu bentuk keberanian intelektual.


John Stuart Mill dan Kebebasan Berpikir

John Stuart Mill, dalam On Liberty, membela pentingnya kebebasan berpikir dan berdiskusi. Salah satu prinsip penting dalam karya tersebut adalah bahwa manusia tidak seharusnya membungkam pendapat hanya karena menganggap dirinya sudah pasti benar. Mill bahkan menekankan bahwa jika suatu pendapat ternyata salah, perjumpaan dengan pendapat tersebut dapat membantu manusia memahami kebenaran dengan lebih hidup dan lebih sadar.

Ini pelajaran yang sangat penting.

Kalau kita hanya mau mendengar orang yang setuju dengan kita, kita sebenarnya tidak sedang menguji pemikiran.

Kita sedang mencari pembenaran.


Jangan Takut Mengatakan "Saya Dulu Salah"

Ada sebuah kalimat yang menurut saya sangat indah:

"Saya dulu salah."

Tidak ada yang memalukan dari kalimat tersebut.

Justru kalimat itu menunjukkan perjalanan.

Seorang manusia yang mengatakan demikian sebenarnya sedang berkata:

"Saya telah berubah karena saya belajar."

Bukankah itu tujuan pendidikan?

Bukankah itu tujuan membaca?

Bukankah itu tujuan pengalaman?

Kalau setelah bertahun-tahun belajar kita tidak pernah mengubah satu pun cara berpikir, mungkin kita perlu bertanya:

Apakah kita benar-benar belajar, atau hanya mengumpulkan informasi yang memperkuat keyakinan lama?


Tetapi Jangan Juga Berubah Hanya karena Tekanan

Mengubah pikiran tidak berarti menjadi orang yang mudah mengikuti arus.

Ini penting.

Kerendahan hati bukan berarti tidak memiliki pendirian.

Kita tidak harus mengubah pendapat hanya karena mayoritas tidak setuju.

Kita juga tidak harus mengikuti sesuatu hanya karena sedang populer.

Perubahan pendapat seharusnya lahir dari proses berpikir.

Dari bukti.

Dari pengalaman.

Dari dialog.

Dari pertimbangan yang jujur.

Bukan karena takut ditolak.

Ada perbedaan antara terbuka dan mudah dipengaruhi.

Orang yang terbuka memiliki pintu.

Tetapi ia tetap memiliki rumah.


Dunia Berubah, Maka Cara Kita Memahaminya Pun Bisa Berubah

Generasi yang lahir beberapa puluh tahun lalu hidup dengan pengalaman yang sangat berbeda dari generasi sekarang.

Teknologi berubah.

Pekerjaan berubah.

Cara berkomunikasi berubah.

Pengetahuan berkembang.

Maka tidak aneh jika sebagian pandangan yang dulu masuk akal harus diperiksa kembali.

Kita tidak perlu malu mengatakan,

"Dulu saya tidak memahami hal ini."

Karena manusia memang hidup dalam keterbatasan pengetahuan.

Yang penting adalah apa yang kita lakukan setelah mengetahui sesuatu yang baru.


Refleksi Penulis

Saya sendiri semakin sering menemukan pendapat lama yang tidak lagi saya pertahankan.

Bukan karena saya ingin menjadi berbeda.

Tetapi karena saya telah melihat lebih banyak hal.

Membaca lebih banyak.

Bertemu lebih banyak orang.

Mengalami lebih banyak kegagalan.

Dan ternyata pengalaman membuat kita melihat dunia dengan cara yang berbeda.

Dulu saya mungkin mengira bahwa seseorang yang sukses pasti tahu bagaimana menjalani hidup.

Sekarang saya tahu bahwa keberhasilan di satu bidang tidak otomatis membuat seseorang bijaksana dalam segala hal.

Dulu saya mungkin menganggap bahwa orang yang berbeda pendapat dengan saya pasti tidak memahami persoalan.

Sekarang saya lebih sering bertanya,

"Apa yang belum saya lihat dari sudut pandangnya?"

Saya belum tentu setuju.

Tetapi saya ingin memahami.

Dan menurut saya, itu adalah bentuk pertumbuhan.


Pada Akhirnya, Kita Semua Sedang Menjadi

Ada sesuatu yang indah dari manusia.

Kita tidak pernah benar-benar selesai.

Orang yang kita kenal hari ini mungkin berbeda dengan dirinya sepuluh tahun lalu.

Begitu pula kita.

Karena itu, jangan terlalu cepat mengunci seseorang dalam versi lamanya.

Dan jangan pula mengunci diri kita sendiri dalam identitas masa lalu.

Kita boleh berubah.

Boleh belajar.

Boleh memperbaiki kesalahan.

Boleh mengatakan,

"Sekarang saya melihatnya dengan cara berbeda."

Selama perubahan itu membawa kita lebih dekat kepada kebenaran, kebaikan, dan kebijaksanaan, tidak ada yang perlu dipermalukan.


Penutup

Barangkali salah satu bentuk kematangan intelektual adalah kemampuan membedakan antara memiliki prinsip dan mempertahankan ego.

Prinsip layak dipertahankan.

Ego tidak selalu.

Kebenaran lebih penting daripada gengsi.

Belajar lebih penting daripada terlihat selalu benar.

Dan pertumbuhan lebih penting daripada konsistensi yang semu.

Maka jika suatu hari kita menemukan bahwa pendapat lama ternyata kurang tepat, jangan takut mengatakannya.

Katakan dengan tenang:

"Dulu saya berpikir begitu. Tetapi setelah belajar lebih banyak, saya berubah pikiran."

Tidak ada yang runtuh karena kalimat itu.

Justru mungkin, pada saat itulah kita sedang menunjukkan bahwa kita benar-benar tumbuh.

Karena manusia yang bijaksana bukanlah manusia yang tidak pernah mengubah pikirannya.

Ia adalah manusia yang bersedia mengubah pikirannya ketika menemukan alasan yang lebih baik untuk memahami kehidupan.


Daftar Bacaan

  1. Dweck, Carol S. Mindset: The New Psychology of Success. New York: Random House, 2006. Rujukan akademik dan profil penelitian Dweck tersedia melalui Stanford University. https://ccsre.stanford.edu/publications/mindset-updated-edition-changing-way-you-think-fulfill-your-potential
  2. Hamka. Falsafah Hidup. Jakarta: Republika Penerbit, 2015. Edisi dan data bibliografis tersedia melalui Google Books. https://books.google.co.id/books/about/FALSAFAH_HIDUP.html?hl=id&id=C0fiDwAAQBAJ&redir_esc=y
  3. Mill, John Stuart. On Liberty. 1859. Prinsip kebebasan berpikir dan diskusi menjadi bagian utama karya ini. https://oll.libertyfund.org/quotes/j-s-mill-s-great-principle-was-that-over-himself-over-his-own-body-and-mind-the-individual-is-sovereign-1859
  4. Plato. Apology. Dalam The Last Days of Socrates. Terj. Hugh Tredennick. London: Penguin Classics.





















Post a Comment for "Mengubah Pikiran Bukan Berarti Kehilangan Prinsip"