Tidak Semua Hal Harus Kita Kendalikan
"Kita sering kelelahan bukan karena hidup terlalu berat, tetapi karena ingin mengendalikan terlalu banyak hal yang sebenarnya bukan milik kita untuk kendalikan."
Pendahuluan: Keinginan untuk Mengatur Segalanya
Ada masa ketika saya merasa hidup akan menjadi jauh lebih tenang jika semuanya berjalan sesuai rencana.
Pekerjaan berjalan lancar.
Orang-orang memahami maksud kita.
Rencana tidak berubah.
Kesehatan baik.
Keuangan aman.
Hubungan dengan orang lain tidak bermasalah.
Masa depan dapat diprediksi.
Tetapi semakin lama menjalani hidup, semakin saya menyadari bahwa hampir tidak ada satu pun dari semua itu yang benar-benar berada sepenuhnya di tangan kita.
Kita bisa bekerja keras, tetapi hasilnya tidak selalu sesuai harapan.
Kita bisa berbuat baik kepada seseorang, tetapi belum tentu diperlakukan dengan baik.
Kita bisa merencanakan masa depan, tetapi kehidupan selalu memiliki kejutan.
Kita bisa berhati-hati, tetapi tetap bisa mengalami kehilangan.
Dan di situlah salah satu pelajaran hidup yang paling sulit dimulai:
belajar membedakan mana yang bisa kita kendalikan dan mana yang harus kita terima.
Kita Sering Bertengkar dengan Kenyataan
Ada jenis kelelahan yang tidak berasal dari banyaknya pekerjaan.
Ia berasal dari perlawanan terhadap sesuatu yang sudah terjadi.
Kita terus bertanya:
"Mengapa ini terjadi?"
"Seharusnya tidak begini."
"Kalau saja dia tidak melakukan itu."
"Kalau saja saya mengambil keputusan berbeda."
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin muncul secara alami.
Tetapi jika kita terus hidup di dalamnya, kita sedang mencoba melakukan sesuatu yang mustahil:
mengubah masa lalu.
Padahal masa lalu tidak membutuhkan persetujuan kita untuk tetap menjadi masa lalu.
Ia sudah terjadi.
Yang masih menjadi milik kita adalah hari ini.
Epictetus: Bedakan Apa yang Berada dalam Kendali Kita
Salah satu gagasan paling terkenal dari filsafat Stoik berasal dari Epictetus.
Dalam pembukaan Enchiridion, ia membedakan hal-hal yang berada dalam kuasa kita dan hal-hal yang tidak.
Yang berada dalam wilayah kita antara lain penilaian, pilihan, keinginan, dan tindakan kita sendiri.
Sementara hal-hal seperti reputasi, posisi sosial, harta, dan berbagai peristiwa eksternal tidak sepenuhnya berada dalam kendali kita.
Gagasan tersebut menjadi dasar penting dalam pemikiran Epictetus tentang kebebasan batin. *(1)
Bukan berarti kita tidak boleh berusaha mengubah keadaan.
Justru sebaliknya.
Kita tetap bekerja.
Berusaha.
Merencanakan.
Bernegosiasi.
Mencari solusi.
Tetapi kita tidak menggantungkan ketenangan hati pada sesuatu yang sejak awal tidak sepenuhnya berada dalam kendali kita.
Ada Tiga Lingkaran dalam Kehidupan
Untuk mempermudah, saya membayangkan kehidupan memiliki tiga lingkaran.
Lingkaran pertama: yang benar-benar bisa kita kendalikan
Misalnya:
- keputusan kita;
- cara kita berbicara;
- usaha kita;
- bagaimana kita memperlakukan orang lain;
- apakah kita mau belajar;
- bagaimana kita menggunakan waktu;
- bagaimana kita merespons sebuah masalah.
Ini wilayah yang seharusnya mendapatkan energi terbesar kita.
Lingkaran kedua: yang bisa kita pengaruhi
Misalnya:
- hubungan dengan keluarga;
- suasana di tempat kerja;
- pendidikan anak;
- keberhasilan sebuah usaha;
- keputusan orang lain yang dekat dengan kita.
Kita bisa memengaruhi, tetapi tidak bisa menjamin hasilnya.
Lingkaran ketiga: yang hampir sepenuhnya berada di luar kendali
Misalnya:
- masa lalu;
- pendapat semua orang;
- cuaca;
- keputusan orang lain;
- perubahan zaman;
- kejadian tak terduga.
Masalah muncul ketika kita menggunakan energi terbesar untuk lingkaran ketiga.
Kita memikirkan apa yang orang lain katakan.
Memikirkan mengapa seseorang tidak menyukai kita.
Memikirkan sesuatu yang sudah terjadi bertahun-tahun lalu.
Sementara hal-hal yang benar-benar bisa kita lakukan justru terbengkalai.
Hamka: Bahagia Tidak Selalu Ditentukan oleh Keadaan
Pemikiran Buya Hamka tentang kebahagiaan sangat relevan dengan persoalan ini.
Dalam Tasawuf Modern, Hamka membahas kebahagiaan sebagai sesuatu yang tidak semata-mata bergantung pada benda atau keadaan luar. Karya tersebut memang banyak membicarakan kebahagiaan dan keadaan batin manusia. https://bintangpusnas.perpusnas.go.id/konten/BK46711/tasawuf-modern-hamka
Ini menarik karena dua orang bisa berada dalam keadaan yang hampir sama tetapi merasakan kehidupan dengan cara yang sangat berbeda.
Yang satu merasa cukup.
Yang lain merasa selalu kekurangan.
Yang satu melihat kesulitan sebagai ujian.
Yang lain melihatnya sebagai penghinaan.
Keadaan luar memang penting.
Kita tidak boleh berpura-pura bahwa kemiskinan, sakit, kehilangan, atau ketidakadilan tidak memiliki dampak nyata.
Tetapi manusia juga memiliki dunia batin.
Dan dunia batin menentukan bagaimana kita menjalani keadaan yang tidak bisa kita pilih.
Viktor Frankl: Bahkan dalam Penderitaan, Sikap Masih Memiliki Arti
Pemikiran Viktor E. Frankl memberi dimensi yang lebih dalam.
Dalam Man's Search for Meaning, Frankl menceritakan pengalamannya sebagai tahanan kamp konsentrasi Nazi dan kemudian mengembangkan gagasan logoterapi tentang pencarian makna dalam kehidupan. Penerbit Beacon Press menjelaskan bahwa salah satu pokok pemikiran Frankl adalah bahwa manusia tidak selalu dapat menghindari penderitaan, tetapi masih dapat memilih bagaimana menghadapinya dan menemukan makna di dalamnya. https://www.beacon.org/Mans-Search-for-Meaning-P2354.aspx
Ini bukan gagasan ringan.
Frankl berbicara dari pengalaman ekstrem.
Karena itu kita perlu berhati-hati agar tidak menyederhanakan pemikirannya menjadi slogan motivasi.
Ia tidak mengatakan bahwa semua penderitaan mudah diterima.
Ia tidak mengatakan bahwa manusia harus menyukai penderitaan.
Yang lebih penting adalah gagasan mengenai ruang kebebasan batin.
Bahkan ketika keadaan tidak dapat kita pilih, masih ada pertanyaan:
Bagaimana saya akan merespons keadaan ini?
Pertanyaan itu mengembalikan sebagian kendali kepada manusia.
Kita Tidak Bisa Mengendalikan Pendapat Orang
Ini mungkin salah satu sumber kecemasan terbesar manusia.
Kita ingin disukai.
Dipahami.
Dihargai.
Dihormati.
Tetapi sebenarnya kita tidak dapat memastikan bagaimana orang lain memandang kita.
Kita bisa bersikap baik.
Tetapi seseorang tetap mungkin tidak menyukai kita.
Kita bisa menjelaskan maksud kita.
Tetapi orang lain tetap bisa salah memahami.
Kita bisa bekerja dengan jujur.
Tetapi seseorang mungkin tetap menuduh kita buruk.
Kalau ketenangan kita bergantung pada persetujuan semua orang, kita menyerahkan kehidupan kita kepada sesuatu yang mustahil dikendalikan.
Maka mungkin pertanyaan yang lebih sehat bukan:
"Bagaimana agar semua orang menyukai saya?"
Melainkan:
"Apakah saya sudah menjadi orang yang layak saya hormati?"
Itu berada jauh lebih dekat dengan wilayah kendali kita.
Kita Juga Tidak Bisa Mengendalikan Masa Depan
Manusia senang membuat prediksi.
Kita ingin tahu apa yang akan terjadi tahun depan.
Bulan depan.
Bahkan besok.
Masalahnya, masa depan selalu memiliki variabel yang tidak kita ketahui.
Karena itu, terlalu banyak memikirkan masa depan bisa berubah menjadi kecemasan.
Bukan karena merencanakan itu salah.
Justru perencanaan penting.
Tetapi ada perbedaan antara mempersiapkan masa depan dan mencoba memastikan masa depan.
Yang pertama bijaksana.
Yang kedua mustahil.
Kita bisa menabung.
Belajar.
Menjaga kesehatan.
Membangun keterampilan.
Mempersiapkan kemungkinan buruk.
Tetapi setelah semua itu dilakukan, kita tetap harus menerima bahwa kehidupan tidak memberikan jaminan.
Menerima Bukan Berarti Menyerah
Ini bagian yang sangat penting.
Ketika kita berbicara tentang menerima keadaan, jangan sampai pembaca memahami bahwa kita harus pasrah terhadap segala sesuatu.
Tidak.
Ada ketidakadilan yang harus dilawan.
Ada masalah yang harus diselesaikan.
Ada penyakit yang perlu diobati.
Ada kesalahan yang harus diperbaiki.
Ada keadaan yang harus diubah.
Penerimaan bukan berarti mengatakan:
"Saya tidak bisa melakukan apa-apa."
Penerimaan berarti:
"Saya mengakui kenyataan sebagaimana adanya, kemudian saya menentukan apa yang masih bisa saya lakukan."
Misalnya bisnis mengalami kerugian.
Menolak kenyataan berarti terus berpura-pura bahwa tidak ada masalah.
Menerima berarti mengatakan:
"Ya, saya rugi. Sekarang apa yang masih bisa saya perbaiki?"
Di situlah penerimaan berubah menjadi tindakan.
Mengapa Kita Sering Ingin Mengendalikan Orang Lain?
Mungkin karena kita takut.
Kita ingin pasangan berpikir seperti kita.
Anak mengikuti semua harapan kita.
Teman memahami kita.
Rekan kerja bekerja sesuai keinginan kita.
Orang lain mengikuti standar kita.
Tetapi manusia bukan benda.
Setiap orang memiliki kehendak, pengalaman, ketakutan, dan cara berpikir sendiri.
Semakin kita mencoba mengendalikan manusia lain, semakin besar kemungkinan kita kecewa.
Bukan berarti kita tidak boleh memberikan nasihat.
Kita boleh.
Bahkan kadang wajib.
Tetapi setelah nasihat diberikan, pilihan tetap berada pada orang tersebut.
Kita bisa menunjukkan jalan.
Kita tidak selalu bisa memaksa seseorang berjalan di jalan itu.
Kebijaksanaan Adalah Menempatkan Energi di Tempat yang Tepat
Bayangkan seseorang memiliki energi terbatas setiap hari.
Ia hanya memiliki waktu tertentu.
Perhatian terbatas.
Tenaga mental terbatas.
Kalau semuanya digunakan untuk memikirkan hal-hal yang tidak bisa dikendalikan, apa yang tersisa untuk hal-hal yang benar-benar penting?
Tidak banyak.
Karena itu, kebijaksanaan bukan hanya mengetahui apa yang benar.
Ia juga mengetahui di mana energi kita seharusnya ditempatkan.
Daripada menghabiskan satu jam memikirkan komentar orang lain, mungkin lebih baik menggunakan satu jam untuk membaca.
Daripada mengulang penyesalan masa lalu, mungkin lebih baik memperbaiki kesalahan yang masih bisa diperbaiki.
Daripada mencemaskan sesuatu yang belum terjadi, mungkin lebih baik mempersiapkan diri.
Hidup menjadi lebih ringan bukan karena masalah berkurang.
Tetapi karena energi kita digunakan dengan lebih bijaksana.
Refleksi Penulis
Saya masih belajar tentang ini.
Masih sering merasa kecewa ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.
Masih sering memikirkan apa yang seharusnya terjadi.
Masih sering berharap orang lain memahami apa yang saya maksud.
Tetapi perlahan saya mulai bertanya:
"Apakah ini berada dalam kendali saya?"
Jika jawabannya ya, saya mencoba bertindak.
Jika jawabannya sebagian, saya mencoba memengaruhi tanpa memaksa.
Jika jawabannya tidak, saya mencoba melepaskannya.
Tidak selalu berhasil.
Tetapi setidaknya pertanyaan itu membantu saya berhenti berperang dengan sesuatu yang memang tidak bisa saya menangkan.
Mungkin Kita Tidak Membutuhkan Kontrol Sebanyak yang Kita Bayangkan
Ada rasa aman ketika kita merasa mengendalikan semuanya.
Tetapi rasa aman itu sering kali hanya ilusi.
Kita tidak mengendalikan kehidupan.
Kita hanya ikut menjalaninya.
Kita tidak tahu siapa yang akan datang.
Siapa yang akan pergi.
Kesempatan apa yang muncul.
Rencana apa yang gagal.
Kejutan apa yang menunggu.
Dan mungkin justru ketidakpastian itulah yang membuat kehidupan menjadi kehidupan.
Kalau semuanya dapat diprediksi, mungkin tidak ada ruang bagi kejutan.
Tidak ada ruang bagi pertumbuhan.
Tidak ada ruang bagi pertemuan yang tidak direncanakan.
Penutup: Lakukan Bagian Kita, Lalu Lepaskan Sisanya
Mungkin salah satu bentuk kedewasaan adalah mengetahui kapan harus berusaha dan kapan harus melepaskan.
Berusaha ketika sesuatu masih berada dalam wilayah kita.
Menerima ketika sesuatu sudah berada di luar kemampuan kita.
Meminta maaf ketika kita salah.
Memperbaiki ketika masih bisa diperbaiki.
Pergi ketika memang harus pergi.
Menunggu ketika belum waktunya.
Dan percaya bahwa kita tidak harus mengetahui seluruh jalan untuk tetap melangkah.
Karena hidup bukan proyek yang bisa kita kendalikan sepenuhnya.
Ia adalah perjalanan yang menuntut keberanian untuk bertindak sekaligus kerendahan hati untuk menerima.
Maka jika hari ini ada sesuatu yang membuat kita gelisah, mungkin kita bisa berhenti sejenak dan bertanya:
"Apakah ini benar-benar berada dalam kendaliku?"
Jika iya, lakukan sesuatu.
Jika tidak, lepaskan perlahan.
Bukan karena kita menyerah.
Tetapi karena kita akhirnya memahami batas antara ikhtiar dan keinginan untuk menguasai kehidupan.
Dan mungkin, di batas itulah ketenangan mulai tumbuh.
Daftar Bacaan
- Epictetus. Discourses, Fragments, Handbook. Terj. Robin Hard. Oxford University Press, 2014. Handbook atau Enchiridion memuat pembahasan awal mengenai hal-hal yang berada dan tidak berada dalam kendali manusia.
- Hamka. Tasawuf Modern. Jakarta: Republika Penerbit. Edisi 2014/2015. Data bibliografis dan deskripsi penerbit tersedia melalui Bintangpusnas dan Google Books. https://bintangpusnas.perpusnas.go.id/konten/BK46711/tasawuf-modern-hamka
- Frankl, Viktor E. Man's Search for Meaning. Beacon Press. Edisi 2006, ISBN 978-080701427-1; karya pertama kali diterbitkan pada 1946. Penerbit menjelaskan karya ini sebagai memoar sekaligus refleksi mengenai pencarian makna dalam penderitaan. https://www.beacon.org/Mans-Search-for-Meaning-P2354.aspx

Post a Comment for "Tidak Semua Hal Harus Kita Kendalikan"