Memaafkan Bukan Berarti Membenarkan
"Ada luka yang tidak bisa dihapus dari masa lalu. Tetapi kita tetap memiliki pilihan: membiarkan luka itu mengatur hidup kita, atau perlahan belajar melepaskannya."
Pendahuluan: Ada Hal yang Terus Kita Bawa
Ada orang yang sudah bertahun-tahun tidak kita temui, tetapi namanya masih mampu membuat hati kita berubah.
Ada kejadian yang sudah lama berlalu, tetapi ketika mengingatnya, dada masih terasa sesak.
Ada perkataan seseorang yang mungkin hanya berlangsung beberapa detik, tetapi gema kalimatnya bertahan bertahun-tahun.
Begitulah luka.
Ia tidak selalu terlihat.
Kadang seseorang tampak baik-baik saja, tertawa seperti biasa, bekerja seperti biasa, menjalani kehidupan seperti biasa.
Namun di dalam dirinya masih ada sebuah ruang yang belum selesai.
Ruang yang berisi kemarahan.
Kekecewaan.
Penyesalan.
Atau pertanyaan:
"Mengapa dia melakukan itu kepadaku?"
Pertanyaan semacam itu bisa tinggal sangat lama.
Dan yang paling menyedihkan, orang yang melukai kita mungkin sudah melanjutkan hidupnya.
Sementara kita masih membawa kejadian itu setiap hari.
Di situlah saya mulai memahami bahwa memaafkan bukan semata-mata tentang orang lain.
Memaafkan juga tentang membebaskan diri sendiri.
Memaafkan Tidak Sama dengan Mengatakan "Tidak Apa-Apa"
Ada kesalahpahaman yang cukup umum mengenai memaafkan.
Seolah-olah ketika kita memaafkan seseorang, kita harus mengatakan:
"Tidak apa-apa."
Padahal bisa saja memang tidak apa-apa.
Ada sesuatu yang salah.
Ada tindakan yang menyakitkan.
Ada batas yang dilanggar.
Ada kepercayaan yang dikhianati.
Memaafkan tidak mengubah fakta tersebut.
Memaafkan juga tidak mengharuskan kita kembali mempercayai orang yang sama.
Kalau seseorang pernah menyakiti kita, kita tetap boleh menjaga jarak.
Tetap boleh memasang batas.
Tetap boleh berhati-hati.
Bahkan dalam keadaan tertentu, menjauh adalah bentuk menjaga diri.
Karena itu, memaafkan tidak sama dengan membiarkan seseorang menyakiti kita kembali.
Hannah Arendt: Manusia Membutuhkan Kemampuan untuk Memaafkan
Salah satu pemikiran paling menarik tentang pengampunan datang dari filsuf Hannah Arendt.
Dalam The Human Condition, Arendt membahas pengampunan dalam konteks tindakan manusia dan hubungan antarmanusia. Ia menempatkan kemampuan untuk mengampuni sebagai salah satu kekuatan yang memungkinkan manusia menghadapi kenyataan bahwa tindakan yang sudah dilakukan tidak dapat begitu saja dibatalkan.*(1)
Ada sesuatu yang sangat menarik di sini.
Manusia hidup dengan konsekuensi tindakannya.
Apa yang sudah dikatakan tidak dapat ditarik kembali.
Apa yang sudah dilakukan tidak dapat dibuat seolah-olah tidak pernah terjadi.
Masa lalu tidak bisa diedit seperti dokumen komputer.
Tetapi manusia memiliki kemampuan untuk menentukan apa yang akan terjadi setelahnya.
Dan di situlah pengampunan menjadi penting.
Bukan untuk menghapus masa lalu.
Melainkan untuk mencegah masa lalu memiliki kuasa mutlak atas masa depan.
Kita Tidak Bisa Mengubah Apa yang Sudah Terjadi
Ada banyak hal dalam hidup yang sebenarnya tidak dapat kita ubah.
Kita tidak dapat kembali ke tahun lalu.
Tidak dapat menarik kembali sebuah kalimat yang sudah terucap.
Tidak dapat mengulang sebuah keputusan.
Tidak dapat mengembalikan seseorang yang telah pergi.
Yang bisa kita lakukan hanyalah menentukan hubungan kita dengan masa lalu tersebut.
Kita bisa terus mengulangnya.
Terus marah.
Terus membayangkan bagaimana seharusnya semuanya terjadi.
Atau perlahan menerima bahwa kejadian itu memang sudah menjadi bagian dari sejarah hidup kita.
Menerima bukan berarti menyukainya.
Menerima berarti berhenti berperang dengan kenyataan bahwa hal itu memang sudah terjadi.
Hamka dan Penyakit Hati
Dalam karya-karyanya tentang kehidupan batin, termasuk Tasawuf Modern, Buya Hamka banyak membahas bagaimana manusia perlu mendidik hati agar tidak dikuasai oleh sifat-sifat yang merusak ketenteraman jiwa. Tasawuf Modern sendiri merupakan salah satu karya utama Hamka dan telah diterbitkan kembali oleh Republika Penerbit dalam berbagai edisi.
Salah satu pelajaran yang dapat kita tarik dari kerangka pemikiran Hamka adalah bahwa manusia tidak hanya harus mengatur tindakan lahiriah.
Ia juga harus memperhatikan apa yang terjadi di dalam hati.
Kemarahan yang dipelihara bertahun-tahun bisa berubah menjadi kebencian.
Kekecewaan yang tidak pernah diproses bisa berubah menjadi kepahitan.
Dan kepahitan akhirnya tidak hanya diarahkan kepada orang yang pernah menyakiti kita.
Kadang ia merembes ke hubungan-hubungan baru.
Kita menjadi curiga kepada orang yang sebenarnya tidak melakukan kesalahan.
Kita menjadi sulit percaya.
Sulit dekat.
Sulit membuka diri.
Orang yang baru datang akhirnya harus membayar kesalahan orang yang sudah pergi.
Memaafkan Tidak Harus Menunggu Permintaan Maaf
Ini mungkin bagian yang paling sulit.
Bagaimana jika orang yang menyakiti kita tidak pernah meminta maaf?
Bagaimana jika ia bahkan tidak merasa bersalah?
Bagaimana jika ia menganggap kita yang berlebihan?
Apakah kita harus menunggu?
Menurut saya, tidak selalu.
Jika proses penyembuhan kita bergantung sepenuhnya pada kesadaran orang lain, berarti kita menyerahkan kunci ketenangan kita kepada orang yang pernah menyakiti kita.
Ia meminta maaf, kita tenang.
Ia tidak meminta maaf, kita terus marah.
Ia mengakui kesalahan, kita lega.
Ia tidak mengakui, kita terus terluka.
Bukankah itu berarti orang tersebut masih memiliki kekuasaan yang sangat besar atas hidup kita?
Mungkin karena itu memaafkan pada akhirnya merupakan keputusan batin.
Bukan hadiah yang kita berikan kepada pelaku.
Tetapi kebebasan yang kita berikan kepada diri sendiri.
Tetapi Bagaimana dengan Luka yang Sangat Dalam?
Tidak semua luka dapat diselesaikan hanya dengan satu keputusan.
Ada luka yang membutuhkan waktu.
Ada yang membutuhkan percakapan.
Ada yang membutuhkan jarak.
Ada yang membutuhkan bantuan profesional.
Ada pula yang mungkin tidak pernah benar-benar hilang.
Karena itu saya tidak ingin menulis bahwa seseorang "harus segera memaafkan."
Tidak.
Kita tidak perlu memaksa diri untuk berpura-pura sudah baik-baik saja.
Kadang langkah pertama bukan memaafkan.
Langkah pertama adalah mengakui:
"Ya, saya terluka."
Itu pun sudah merupakan keberanian.
Karena kita tidak dapat menyembuhkan sesuatu yang terus-menerus kita menyangkal keberadaannya.
Memaafkan Bukan Berarti Melupakan
Ada perbedaan antara mengingat dan terus hidup di dalam kejadian tersebut.
Kita boleh mengingat sebuah kesalahan agar tidak mengulanginya.
Kita boleh belajar dari pengkhianatan agar lebih bijaksana memilih siapa yang dipercaya.
Kita boleh mengingat pengalaman buruk agar memahami batas diri.
Yang perlu dilepaskan adalah kebutuhan untuk terus mengalami ulang rasa sakit yang sama.
Kita tidak harus menghapus halaman buruk dari buku kehidupan.
Cukup belajar membacanya tanpa terus menangis di halaman yang sama.
Nurcholish Madjid dan Penghormatan terhadap Kemanusiaan
Dalam Islam Agama Kemanusiaan, Nurcholish Madjid membicarakan hubungan antara Islam, kemanusiaan, tradisi, dan visi kehidupan beragama yang lebih universal. Buku tersebut pertama kali diterbitkan oleh Yayasan Wakaf Paramadina pada 1995 dan kemudian hadir dalam berbagai edisi.
Salah satu nilai penting dari pemikiran Cak Nur adalah penekanan pada dimensi kemanusiaan dalam kehidupan beragama.
Dari perspektif ini, kita dapat melihat bahwa memaafkan bukan hanya urusan pribadi.
Ia juga berkaitan dengan bagaimana kita memandang manusia.
Orang yang pernah melakukan kesalahan tetaplah manusia.
Itu tidak menghapus tanggung jawabnya.
Tidak membatalkan konsekuensinya.
Tetapi juga mengingatkan kita bahwa manusia bukan sekadar kesalahan yang pernah dilakukannya.
Kita sendiri tentu berharap dipandang dengan cara yang sama.
Kita pernah salah.
Pernah mengecewakan orang.
Pernah mengucapkan sesuatu yang seharusnya tidak diucapkan.
Jika kita berharap mendapatkan kesempatan untuk berubah, mungkin orang lain juga memiliki hak yang sama.
Ada Saatnya Memaafkan Berarti Melepaskan Keinginan Membalas
Salah satu alasan kita sulit memaafkan adalah karena hati ingin melihat orang yang menyakiti kita mendapatkan hukuman.
Kita ingin ia merasakan apa yang kita rasakan.
Kita ingin ia menyesal.
Kita ingin ia sadar bahwa ia telah kehilangan seseorang yang baik.
Keinginan seperti itu sangat manusiawi.
Tetapi jika terus dipelihara, kita tetap terikat kepadanya.
Lucunya, orang yang kita benci bisa menjadi orang yang paling sering kita pikirkan.
Ia bahkan tidak hadir.
Tetapi tinggal di kepala kita.
Mungkin melepaskan berarti mengatakan:
"Aku tidak lagi ingin hidupku ditentukan oleh apa yang pernah kamu lakukan kepadaku."
Itulah kebebasan.
Memaafkan Diri Sendiri
Ada satu jenis pengampunan yang sering terlupakan.
Yaitu memaafkan diri sendiri.
Ada orang yang tidak marah kepada siapa pun.
Tetapi diam-diam membenci dirinya sendiri.
Karena keputusan yang pernah diambil.
Karena kesempatan yang disia-siakan.
Karena hubungan yang gagal dipertahankan.
Karena kesalahan yang pernah dilakukan kepada orang lain.
Ia terus berkata:
"Seandainya waktu itu aku tidak melakukan itu..."
Tetapi waktu tidak menyediakan tombol undo.
Kita hanya memiliki hari ini.
Maka terkadang kita perlu mengatakan kepada diri sendiri:
"Aku memang pernah salah. Tetapi aku tidak harus selamanya menjadi orang yang sama."
Kesalahan adalah bagian dari sejarah.
Bukan keseluruhan identitas.
Refleksi Penulis
Saya pernah mengira bahwa kedewasaan berarti tidak lagi terluka.
Ternyata bukan.
Kedewasaan mungkin justru berarti mengetahui bahwa kita terluka, tetapi tidak membiarkan luka itu menentukan seluruh cara kita memandang dunia.
Kita tetap bisa kecewa.
Tetap bisa sedih.
Tetap bisa marah.
Tetapi perlahan belajar melepaskan.
Bukan karena orang lain layak mendapat pengampunan kita.
Melainkan karena kita layak mendapatkan ketenangan.
Dan mungkin ada perbedaan besar antara berkata,
"Aku memaafkanmu karena kamu pantas dimaafkan."
dengan,
"Aku memaafkanmu karena aku ingin melanjutkan hidupku."
Kalimat kedua terasa jauh lebih membebaskan.
Penutup
Ada masa ketika kita harus belajar mempertahankan sesuatu.
Tetapi ada pula masa ketika kita harus belajar melepaskannya.
Melepaskan kemarahan.
Melepaskan dendam.
Melepaskan keinginan agar masa lalu berubah.
Melepaskan harapan bahwa orang lain akan menjadi seperti yang kita inginkan.
Memaafkan bukan berarti mengatakan bahwa apa yang terjadi dahulu benar.
Bukan pula berarti kita harus kembali kepada hubungan yang sama.
Memaafkan berarti kita berhenti memberikan seluruh masa depan kita kepada satu kesalahan di masa lalu.
Karena hidup masih panjang.
Masih ada orang-orang baik yang belum kita temui.
Masih ada tempat yang belum kita datangi.
Masih ada buku yang belum kita baca.
Masih ada pagi yang belum kita nikmati.
Dan terlalu sayang jika semuanya harus dilalui dengan membawa kemarahan yang sudah seharusnya kita letakkan.
Mungkin suatu hari nanti kita akan melihat kembali luka lama dan berkata:
"Itu memang pernah terjadi kepadaku. Tetapi itu bukan lagi tempat tinggalku."
Dan mungkin, di situlah kita benar-benar mulai bebas.
Daftar Bacaan
- Arendt, Hannah. The Human Condition. Chicago: University of Chicago Press, 1958. Bab V, khususnya bagian "The Process Character of Action" dan "Irreversibility and the Power to Forgive." Edisi kedua diterbitkan kembali oleh University of Chicago Press dengan pengantar Margaret Canovan. https://press.uchicago.edu/ucp/books/book/chicago/H/bo29137972.html
- Hamka. Tasawuf Modern. Jakarta: Republika Penerbit. Karya ini pertama kali hadir pada dekade 1930-an dan telah diterbitkan kembali dalam berbagai edisi. https://books.google.co.id/books?hl=id&id=8HZ_rgEACAAJ&lr
- Madjid, Nurcholish. Islam Agama Kemanusiaan: Membangun Tradisi dan Visi Baru Islam Indonesia. Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, 1995. https://openlibrary.org/books/OL956916M/Islam_agama_kemanusiaan

Post a Comment for "Memaafkan Bukan Berarti Membenarkan"