Kesabaran Bukan Berarti Menunggu Tanpa Berbuat Apa-apa

 "Kesabaran bukanlah kemampuan menunggu. Kesabaran adalah kemampuan tetap memilih yang benar ketika hasil yang kita harapkan belum juga datang."


Pendahuluan: Kita Hidup di Zaman yang Tidak Suka Menunggu

Beberapa hari yang lalu saya memesan sebuah buku melalui toko daring.

Setelah pembayaran selesai, saya langsung membuka halaman pelacakan.

Padahal saya tahu, buku itu baru saja dikemas.

Beberapa jam kemudian saya mengeceknya lagi.

Malam harinya saya membuka aplikasi itu sekali lagi.

Saya tersenyum sendiri.

Bukan karena bukunya sudah sampai.

Melainkan karena saya menyadari sesuatu.

Saya ternyata tidak sedang menunggu buku.

Saya sedang melawan ketidaksabaran saya sendiri.

Mungkin kita semua pernah mengalaminya.

Internet yang lambat beberapa detik terasa menyebalkan.

Lampu lalu lintas yang terlalu lama membuat kita gelisah.

Balasan pesan yang terlambat membuat kita mulai berprasangka.

Hari ini hampir semua hal dapat diperoleh dengan cepat.

Makanan bisa datang dalam hitungan menit.

Film dapat diputar kapan saja.

Informasi tersedia dalam sekejap.

Ironisnya, semakin cepat dunia bergerak, semakin sulit pula kita belajar menunggu.


Kesabaran Sering Disalahpahami

Ketika mendengar kata sabar, banyak orang membayangkan seseorang yang pasrah.

Diam.

Tidak melawan.

Tidak berusaha.

Padahal pemahaman seperti itu terlalu sempit.

Kesabaran bukanlah lawan dari usaha.

Kesabaran justru menjaga agar usaha tetap berjalan ketika hasil belum terlihat.

Seorang petani tetap menanam meskipun panen masih beberapa bulan lagi.

Seorang guru tetap mengajar meskipun perubahan murid tidak langsung tampak.

Seorang penulis tetap menulis meskipun belum ada yang membaca.

Yang membuat mereka terus melangkah bukan kepastian hasil.

Melainkan keyakinan bahwa proses yang baik layak dijalani.


Imam Al-Ghazali: Sabar sebagai Kekuatan Jiwa

Dalam Ihya' 'Ulum al-Din, Imam Abu Hamid al-Ghazali menjelaskan bahwa sabar bukan sekadar menahan diri dari keluhan, tetapi kemampuan jiwa untuk tetap teguh dalam menjalankan kebaikan, menjauhi keburukan, dan menghadapi ujian tanpa kehilangan arah.*(1)

Dengan kata lain, sabar bukan keadaan pasif.

Ia adalah tindakan batin yang aktif.

Seseorang tetap memilih kejujuran meskipun kebohongan tampak lebih menguntungkan.

Tetap bekerja dengan sungguh-sungguh meskipun hasil belum datang.

Tetap menjaga akhlak meskipun diperlakukan tidak adil.

Kesabaran, menurut Al-Ghazali, bukan kelemahan.

Ia adalah bentuk kekuatan.


Viktor Frankl: Kebebasan Memilih Sikap

Psikiater Austria Viktor E. Frankl, dalam buku Man's Search for Meaning, menulis berdasarkan pengalamannya sebagai tahanan kamp konsentrasi Nazi.

Di tengah kondisi yang hampir merenggut seluruh kebebasan manusia, Frankl sampai pada satu kesimpulan penting:

"Everything can be taken from a man but one thing: the last of the human freedoms—to choose one's attitude in any given set of circumstances." 

*(2)

Terjemahan bebasnya:

"Segala sesuatu dapat dirampas dari manusia, kecuali satu hal: kebebasan terakhir untuk memilih sikapnya dalam setiap keadaan."

Frankl tidak mengatakan bahwa penderitaan itu baik.

Ia mengatakan bahwa bahkan ketika keadaan tidak dapat kita pilih, kita masih memiliki kebebasan untuk memilih bagaimana meresponsnya.

Bukankah di situlah inti kesabaran?


Buya Hamka: Sabar Tidak Mematikan Ikhtiar

Dalam Tasawuf Modern, Buya Hamka menjelaskan bahwa sabar tidak boleh dipahami sebagai alasan untuk berhenti berusaha.*(3)

Beliau mengingatkan bahwa tawakal selalu didahului oleh ikhtiar.

Manusia tetap wajib bekerja.

Belajar.

Memperbaiki diri.

Berusaha mencari solusi.

Namun setelah semua dilakukan, ia belajar menerima bahwa tidak semua hasil berada dalam kendalinya.

Pandangan ini terasa sangat menenangkan.

Karena sering kali yang melelahkan bukan pekerjaannya.

Melainkan keinginan kita mengendalikan segala sesuatu.


Pohon Tidak Tumbuh Dalam Semalam

Saya sering membayangkan sebuah pohon besar.

Ketika melihatnya, kita mengagumi batangnya yang kokoh.

Rindangnya yang meneduhkan.

Buahnya yang lebat.

Namun kita jarang memikirkan waktu yang dibutuhkan pohon itu untuk bertumbuh.

Bertahun-tahun.

Mungkin puluhan tahun.

Akar tumbuh lebih dahulu sebelum ranting menjulang.

Barangkali kehidupan manusia juga demikian.

Karakter tidak dibentuk dalam semalam.

Kepercayaan tidak lahir dalam sehari.

Kebijaksanaan tidak muncul setelah membaca satu buku.

Semua membutuhkan waktu.

Dan waktu selalu berteman dengan kesabaran.


Refleksi Penulis

Semakin bertambah usia, saya mulai memahami bahwa banyak hal baik dalam hidup datang lebih lambat daripada yang saya inginkan.

Ada doa yang baru terasa jawabannya setelah bertahun-tahun.

Ada pelajaran yang baru saya pahami setelah mengalami kegagalan.

Ada orang yang baru saya hargai setelah kehilangannya.

Dulu saya menganggap keterlambatan sebagai kegagalan.

Sekarang saya mulai melihat bahwa mungkin kehidupan sedang memberi saya waktu untuk bertumbuh sebelum menerima apa yang saya minta.

Tidak semua penundaan adalah penolakan.

Kadang ia adalah proses.


Penutup

Barangkali kesabaran bukan tentang menghitung berapa lama kita harus menunggu.

Melainkan tentang siapa diri kita selama masa penantian itu.

Apakah kita tetap jujur ketika hasil belum datang?

Apakah kita tetap bekerja ketika tidak ada yang memuji?

Apakah kita tetap berharap ketika keadaan belum berubah?

Karena pada akhirnya, kesabaran tidak hanya mengubah keadaan.

Ia mengubah manusia yang sedang menjalaninya.

Dan mungkin itulah hadiah terbesar dari sebuah penantian.

Bukan sekadar tercapainya tujuan.

Melainkan lahirnya pribadi yang lebih matang, lebih tenang, dan lebih bijaksana.


Daftar Bacaan

  1. Al-Ghazali. Ihya' 'Ulum al-Din. (Lihat pembahasan tentang Kitab al-Shabr wa al-Syukr dalam berbagai edisi dan terjemahan bahasa Indonesia).
  2. Frankl, Viktor E. Man's Search for Meaning. Boston: Beacon Press, 2006 (edisi bahasa Inggris; pertama kali terbit 1946).
  3. Hamka. Tasawuf Modern. Jakarta: Republika Penerbit, berbagai edisi.

Post a Comment for "Kesabaran Bukan Berarti Menunggu Tanpa Berbuat Apa-apa"