Semakin Tinggi Ilmu Seseorang, Semakin Rendah Hatinya
"Pohon yang paling banyak berbuah justru semakin merunduk. Mungkin demikian pula manusia yang benar-benar berilmu."
Pendahuluan: Orang Pintar yang Tidak Menyenangkan
Sepanjang hidup, saya pernah bertemu dua jenis orang yang sama-sama cerdas.
Jenis pertama membuat saya kagum karena pengetahuannya.
Namun setelah berbicara beberapa menit, saya justru ingin segera mengakhiri percakapan.
Ia selalu merasa paling benar.
Sulit mendengar.
Gemar memotong pembicaraan.
Setiap diskusi berubah menjadi ajang menunjukkan siapa yang paling tahu.
Jenis kedua juga sangat cerdas.
Bahkan mungkin jauh lebih cerdas.
Namun ketika berbicara dengannya, saya merasa nyaman.
Ia banyak bertanya.
Lebih banyak mendengar daripada berbicara.
Kalau tidak mengetahui sesuatu, ia berkata,
"Saya belum pernah mempelajari itu."
Kalau pendapatnya dibantah dengan argumen yang lebih kuat, ia tidak marah.
Ia justru berkata,
"Menarik sekali, saya akan membaca lagi."
Saya lama berpikir.
Mengapa dua orang yang sama-sama berilmu bisa memiliki sikap yang begitu berbeda?
Jawabannya, saya kira, bukan terletak pada banyaknya ilmu.
Melainkan pada bagaimana ilmu itu membentuk hati.
Ketika Ilmu Berubah Menjadi Identitas
Ilmu seharusnya membantu manusia memahami dunia.
Namun kadang ilmu justru berubah menjadi identitas yang harus dipertahankan.
Seseorang tidak lagi berdiskusi untuk mencari kebenaran.
Ia berdiskusi agar terlihat benar.
Ia membaca bukan untuk belajar.
Melainkan agar dapat memenangkan perdebatan.
Lama-kelamaan, pengetahuan menjadi alat mempertahankan ego.
Padahal sejarah ilmu menunjukkan sesuatu yang berbeda.
Kemajuan ilmu selalu lahir dari keberanian mengoreksi diri.
Bukan dari keyakinan bahwa kita sudah mengetahui semuanya.
Socrates: Kebijaksanaan Dimulai dari Kesadaran Akan Keterbatasan
Dalam Apology, Plato menggambarkan Socrates sebagai seseorang yang disebut paling bijaksana di Athena.
Namun ketika Socrates mencoba memahami mengapa demikian, ia sampai pada kesimpulan yang terkenal.
Ia menyadari bahwa kebijaksanaannya bukan karena mengetahui banyak hal.
Melainkan karena ia tidak berpura-pura mengetahui apa yang sebenarnya tidak ia ketahui.*(1)
Pernyataan ini sering diparafrasakan sebagai,
"Aku tahu bahwa aku tidak tahu."
Walaupun rumusan tersebut bukan kutipan harfiah dari Apology, semangatnya selaras dengan sikap Socrates terhadap pengetahuan.
Yang menarik adalah ini.
Semakin luas pengetahuan seseorang, semakin luas pula wilayah yang ia sadari belum ia pahami.
Karena itu, orang yang benar-benar belajar biasanya menjadi lebih rendah hati.
Bukan sebaliknya.
Ki Hadjar Dewantara: Ilmu untuk Memerdekakan Manusia
Dalam Karya Ki Hadjar Dewantara, pendidikan dipahami sebagai proses menuntun manusia agar berkembang sesuai kodratnya, bukan sekadar mengumpulkan pengetahuan.*(2)
Bagi Ki Hadjar, tujuan pendidikan bukan mencetak orang yang pandai berdebat.
Tujuannya adalah membentuk manusia yang berbudi pekerti.
Di sinilah letak perbedaan antara orang yang berpengetahuan dan orang yang terdidik.
Pengetahuan dapat memenuhi kepala.
Tetapi pendidikan yang sejati juga membentuk hati.
Mungkin karena itu Ki Hadjar selalu menempatkan karakter sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari ilmu.
Hamka: Ilmu yang Tidak Melahirkan Akhlak Belum Sempurna
Buya Hamka berkali-kali mengingatkan bahwa ilmu harus berjalan bersama akhlak.
Dalam Lembaga Budi dan Tasawuf Modern, beliau menjelaskan bahwa kesombongan adalah salah satu penyakit hati yang dapat menghapus keberkahan ilmu.*(3)
Menurut Hamka, orang yang benar-benar berilmu tidak akan mudah meremehkan orang lain.
Karena ia sadar bahwa ilmu adalah amanah.
Bukan alasan untuk merasa lebih tinggi.
Pandangan ini terasa sangat relevan hari ini.
Kita hidup pada zaman ketika akses terhadap informasi begitu mudah.
Namun kemudahan memperoleh informasi tidak selalu diikuti dengan kedewasaan menggunakannya.
C. S. Lewis: Rendah Hati Bukan Berarti Merendahkan Diri
Penulis Inggris C. S. Lewis dalam Mere Christianity menulis sebuah kalimat yang sering dikutip:
"Humility is not thinking less of yourself, but thinking of yourself less." *(4)
Terjemahan bebasnya,
"Kerendahan hati bukan berarti menganggap diri kita lebih rendah daripada orang lain, tetapi tidak terus-menerus menjadikan diri sendiri sebagai pusat perhatian."
Kalimat ini penting karena banyak orang salah memahami rendah hati.
Rendah hati bukan berarti tidak percaya diri.
Bukan pula berpura-pura bodoh.
Rendah hati berarti mengetahui kemampuan kita tanpa merasa lebih bernilai daripada orang lain.
Mengapa Orang Besar Justru Tampak Sederhana?
Semakin banyak saya membaca biografi para ilmuwan, ulama, sastrawan, dan negarawan, saya menemukan pola yang sama.
Mereka hampir selalu memiliki rasa ingin tahu yang besar.
Dan rasa ingin tahu hanya dapat hidup jika seseorang mengakui bahwa masih banyak yang belum diketahuinya.
Mungkin karena itu orang-orang besar sering tampak sederhana.
Mereka tidak perlu membuktikan bahwa dirinya hebat.
Karya mereka sudah berbicara.
Mereka tidak sibuk mencari pengakuan.
Mereka sibuk mencari kebenaran.
Refleksi Penulis
Saya masih belajar.
Masih sering tergoda untuk mempertahankan pendapat.
Masih ingin terlihat benar.
Masih merasa tidak nyaman ketika dikoreksi.
Namun setiap kali membaca karya para pemikir besar, saya seperti diingatkan kembali.
Bahwa semakin tinggi seseorang mendaki gunung ilmu, semakin luas pula cakrawala yang terlihat.
Dan ketika cakrawala itu semakin luas, kita menyadari betapa kecilnya diri kita.
Kesadaran itu bukan membuat manusia minder.
Justru membuatnya lebih lembut.
Lebih sabar.
Lebih terbuka.
Penutup
Barangkali tujuan akhir dari belajar bukanlah menjadi orang yang paling pintar.
Melainkan menjadi orang yang paling siap untuk terus belajar.
Karena ilmu yang sejati tidak melahirkan kesombongan.
Ia melahirkan rasa syukur.
Ia melahirkan rasa ingin tahu.
Ia melahirkan penghormatan kepada orang lain.
Dan pada akhirnya, ia melahirkan kerendahan hati.
Sebab mungkin ukuran seseorang bukanlah seberapa banyak buku yang telah ia baca.
Melainkan seberapa dalam buku-buku itu telah mengubah cara ia memperlakukan sesama manusia.
Daftar Bacaan
- Plato. Apology. Dalam: The Last Days of Socrates. Terj. Hugh Tredennick. London: Penguin Classics.
- Ki Hadjar Dewantara. Karya Ki Hadjar Dewantara, Bagian Pertama: Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa.
- Hamka. Tasawuf Modern. Jakarta: Republika Penerbit; Hamka. Lembaga Budi. Jakarta: Bulan Bintang, berbagai edisi.
- Lewis, C. S. Mere Christianity. London: Geoffrey Bles, 1952.

Post a Comment for "Semakin Tinggi Ilmu Seseorang, Semakin Rendah Hatinya"