Keberanian Mengakui Kesalahan
"Tidak ada manusia yang tidak pernah salah. Yang membedakan manusia yang bijaksana dengan yang sombong adalah keberaniannya mengakui kesalahan."
Pendahuluan: Kalimat yang Semakin Jarang Kita Dengar
Ada satu kalimat yang akhir-akhir ini terasa semakin langka.
Bukan karena sulit diucapkan.
Melainkan karena terlalu berat bagi ego manusia.
Kalimat itu hanya terdiri dari tiga kata.
"Saya salah."
Padahal jika dipikir-pikir, hampir setiap hari kita melakukan kesalahan.
Salah memahami seseorang.
Salah mengambil keputusan.
Salah memilih kata.
Salah menilai keadaan.
Salah memperlakukan orang yang kita sayangi.
Namun anehnya, mengakui kesalahan sering terasa jauh lebih sulit daripada melakukan kesalahan itu sendiri.
Kita mencari alasan.
Mencari pembenaran.
Mengalihkan pembicaraan.
Bahkan kadang menyalahkan keadaan.
Seolah-olah harga diri kita akan runtuh jika mengakui bahwa kita pernah keliru.
Padahal mungkin justru sebaliknya.
Mengapa Manusia Sulit Mengakui Kesalahan?
Psikologi modern menjelaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan mempertahankan citra dirinya sebagai orang yang benar.
Ketika muncul bukti yang bertentangan dengan keyakinan kita, muncul rasa tidak nyaman yang disebut cognitive dissonance.
Istilah ini diperkenalkan oleh psikolog Leon Festinger dalam bukunya A Theory of Cognitive Dissonance (1957). Menurut Festinger, ketika tindakan atau keyakinan kita saling bertentangan, kita cenderung mencari cara untuk mengurangi ketegangan itu, sering kali dengan membenarkan diri sendiri daripada mengubah pendapat.*(1)
Fenomena ini menjelaskan mengapa dua orang yang melihat fakta yang sama bisa tetap mempertahankan keyakinannya masing-masing.
Bukan karena salah satunya tidak cerdas.
Tetapi karena manusia memang memiliki kecenderungan mempertahankan identitasnya.
Dan salah satu identitas yang paling sulit dilepaskan adalah keyakinan bahwa aku benar.
Imam Al-Ghazali: Musuh Terbesar Ada di Dalam Diri
Dalam Ihya' 'Ulum al-Din, Imam Abu Hamid al-Ghazali menjelaskan bahwa salah satu penyakit hati yang paling berbahaya adalah ujub, yaitu rasa kagum berlebihan terhadap diri sendiri.*(2)
Orang yang dikuasai ujub sulit menerima nasihat.
Sulit melihat kekurangan.
Sulit mengakui kesalahan.
Bukan karena ia selalu benar.
Melainkan karena egonya terlalu besar.
Al-Ghazali mengingatkan bahwa proses memperbaiki diri selalu dimulai dengan muhasabah.
Yaitu keberanian melihat diri sendiri secara jujur.
Tanpa kejujuran itu, ilmu hanya menjadi hiasan.
Ibadah hanya menjadi rutinitas.
Dan pengalaman hidup tidak pernah benar-benar mengubah seseorang.
Buya Hamka: Rendah Hati Adalah Tanda Orang Berilmu
Dalam Lembaga Budi, Buya Hamka menulis bahwa budi pekerti yang luhur tidak tumbuh dari kesombongan, melainkan dari kerendahan hati dan kesediaan memperbaiki diri.*(3)
Hamka memahami bahwa ilmu memiliki dua kemungkinan.
Ia dapat membuat manusia semakin rendah hati.
Atau justru semakin sombong.
Perbedaannya terletak pada bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri.
Semakin seseorang mengenal luasnya ilmu, semakin ia sadar bahwa dirinya masih memiliki banyak kekurangan.
Kesadaran inilah yang membuat orang berilmu tidak malu mengatakan,
"Pendapat saya dulu ternyata kurang tepat."
Karl Popper: Ilmu Bertumbuh Karena Berani Dikoreksi
Filsuf ilmu Karl Popper membangun salah satu gagasan paling berpengaruh dalam filsafat sains abad ke-20.
Dalam The Logic of Scientific Discovery, Popper menjelaskan bahwa ilmu pengetahuan berkembang bukan karena manusia selalu benar, tetapi karena teori-teori terus diuji dan dikoreksi.*(4)
Dalam sains, mengakui kesalahan bukanlah aib.
Justru itulah jalan menuju pengetahuan yang lebih baik.
Bayangkan jika para ilmuwan menolak mengubah pendapatnya hanya karena gengsi.
Perkembangan ilmu akan berhenti.
Mungkin kehidupan pribadi kita juga demikian.
Kita bertumbuh bukan ketika selalu benar.
Tetapi ketika bersedia belajar dari kekeliruan.
Mengapa Permintaan Maaf Terasa Berat?
Saya pernah bertanya kepada diri sendiri.
Mengapa meminta maaf sering terasa begitu sulit?
Mungkin karena kita mengira bahwa meminta maaf berarti kalah.
Padahal sesungguhnya meminta maaf berarti mengutamakan hubungan daripada ego.
Tidak semua permintaan maaf menyelesaikan masalah.
Tetapi hampir semua hubungan yang sehat membutuhkan kemampuan untuk mengaku salah.
Dalam keluarga.
Dalam persahabatan.
Dalam pekerjaan.
Dalam masyarakat.
Tidak ada hubungan yang bertahan lama tanpa kerendahan hati.
Refleksi Penulis
Semakin bertambah usia, saya mulai menyadari bahwa banyak penyesalan dalam hidup bukan karena saya pernah salah.
Melainkan karena saya terlambat mengakui bahwa saya salah.
Ada percakapan yang seharusnya bisa diselamatkan.
Ada persahabatan yang seharusnya bisa dipulihkan.
Ada hubungan yang mungkin tidak harus berakhir.
Andaikan salah satu pihak lebih dahulu berkata,
"Maaf, saya keliru."
Kalimat itu tampak sederhana.
Tetapi sering kali ia membutuhkan keberanian yang jauh lebih besar daripada memenangkan sebuah perdebatan.
Penutup
Barangkali manusia tidak diukur dari seberapa sedikit kesalahannya.
Karena tidak ada kehidupan tanpa kekeliruan.
Yang membedakan seseorang adalah apa yang ia lakukan setelah menyadari bahwa dirinya salah.
Ada yang memilih mempertahankan ego.
Ada yang memilih menyalahkan orang lain.
Ada pula yang memilih belajar.
Mengakui.
Memperbaiki.
Dan melangkah kembali dengan hati yang lebih rendah.
Pada akhirnya, keberanian terbesar bukanlah selalu mampu membuktikan bahwa kita benar.
Melainkan memiliki kejujuran untuk berkata,
"Hari ini saya belajar bahwa saya pernah keliru."
Sebab dari kalimat sederhana itulah, kebijaksanaan mulai bertumbuh.
Daftar Bacaan
- Festinger, Leon. A Theory of Cognitive Dissonance. Stanford, CA: Stanford University Press, 1957.
- Al-Ghazali. Ihya' 'Ulum al-Din (Kitab Riyadhah al-Nafs dan pembahasan tentang muhasabah serta penyakit hati). Berbagai edisi dan terjemahan bahasa Indonesia.
- Hamka. Lembaga Budi. Jakarta: Bulan Bintang, berbagai edisi.
- Popper, Karl R. The Logic of Scientific Discovery. London: Routledge, 1959 (edisi bahasa Inggris).

Post a Comment for "Keberanian Mengakui Kesalahan"