Antara Pengakuan dan Kedamaian
Jangan Sampai Kita Terlalu Sibuk Mencari Pengakuan, Sampai Lupa Menikmati Kehidupan
Kadang-kadang, kita tidak benar-benar menginginkan kehidupan yang lebih baik. Kita hanya ingin kehidupan kita terlihat lebih baik di mata orang lain.
Ketika Hidup Berubah Menjadi Panggung
Ada sesuatu yang menarik dari kehidupan kita hari ini.
Seseorang membeli mobil baru, lalu ingin orang lain mengetahuinya.
Seseorang berlibur ke tempat indah, lalu merasa ada yang kurang jika tidak mengunggah fotonya.
Seseorang mendapatkan pencapaian, lalu berharap orang-orang memberikan ucapan selamat.
Tidak ada yang salah dengan semua itu.
Kita manusia. Wajar jika merasa senang ketika mendapatkan sesuatu yang baik. Wajar pula jika ingin berbagi kebahagiaan dengan orang lain.
Namun, ada satu hal yang perlu kita waspadai.
Jangan sampai kita tidak lagi menikmati sesuatu karena terlalu sibuk memastikan orang lain melihat bahwa kita sedang menikmatinya.
Kita makan di restoran yang bagus, tetapi lebih sibuk mengambil foto daripada menikmati makanan.
Kita berkumpul bersama keluarga, tetapi perhatian kita terus tertuju pada layar.
Kita membeli sesuatu yang kita sukai, tetapi kepuasannya terasa belum lengkap sebelum orang lain mengetahuinya.
Perlahan-lahan, kehidupan yang seharusnya kita jalani berubah menjadi sesuatu yang perlu kita pertunjukkan.
Kita tidak hanya ingin bahagia.
Kita ingin terlihat bahagia.
Kita tidak hanya ingin berhasil.
Kita ingin dianggap berhasil.
Dan tanpa sadar, kita mulai menjalani hidup dengan dua tujuan sekaligus: mengalami kehidupan itu sendiri dan membangun kesan tentang kehidupan tersebut.
Masalahnya, kedua hal itu tidak selalu berjalan searah.
Kita Mulai Membandingkan Kehidupan dengan Etalase Orang Lain
Bayangkan seseorang yang menjalani hari biasa.
Bangun pagi.
Menyeduh kopi.
Bekerja.
Makan siang sederhana.
Pulang.
Berbincang dengan keluarga.
Lalu tidur.
Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan kehidupan seperti itu.
Namun, ketika ia membuka media sosial, ia melihat orang lain sedang berada di luar negeri, membeli rumah, merayakan pencapaian, menikmati hidangan mahal, atau menunjukkan keberhasilan bisnisnya.
Tiba-tiba kehidupan yang tadi terasa cukup menjadi terasa kurang.
Ia mulai bertanya:
Mengapa hidup saya begini-begini saja?
Mengapa orang lain tampak lebih maju?
Apakah saya tertinggal?
Apakah saya belum berhasil?
Padahal, ia sedang membandingkan keseluruhan kehidupannya dengan potongan kehidupan orang lain yang dipilih untuk ditampilkan.
Ia mengetahui kesulitan yang dialaminya sendiri, tetapi tidak mengetahui seluruh kesulitan orang yang dilihatnya.
Ia mengetahui kegagalannya sendiri, tetapi hanya melihat keberhasilan orang lain.
Perbandingan semacam itu sejak awal memang tidak seimbang.
Kita sering merasa kehidupan kita buruk bukan karena benar-benar buruk, melainkan karena terlalu sering melihat kehidupan orang lain yang tampak lebih baik.
Erich Fromm: Ketika Memiliki Lebih Penting daripada Menjadi
Dalam bukunya, To Have or to Be?, pemikir humanis Erich Fromm membahas dua orientasi mendasar dalam kehidupan manusia: orientasi memiliki (having) dan orientasi menjadi (being).
Dalam orientasi memiliki, seseorang cenderung memahami kehidupan melalui apa yang ia miliki, kumpulkan, atau kuasai.
Sementara orientasi menjadi lebih menekankan pengalaman hidup, aktivitas yang bermakna, hubungan antarmanusia, dan kemampuan untuk berkembang.
Gagasan Fromm memberi kita sudut pandang menarik untuk membaca kehidupan modern.
Kita dapat bertanya kepada diri sendiri: apakah kita menginginkan sesuatu karena benar-benar membutuhkannya, atau karena ingin menunjukkan sesuatu kepada orang lain?
Apakah kita mengejar pendidikan karena ingin memahami dunia, atau semata-mata ingin terlihat berpendidikan?
Apakah kita membangun usaha karena ingin menciptakan sesuatu yang berguna, atau hanya ingin dianggap sebagai pengusaha sukses?
Apakah kita membeli barang karena barang itu bermanfaat, atau karena kita berharap orang lain akan terkesan?
Tentu saja, motif manusia tidak selalu sederhana. Kita bisa memiliki beberapa alasan sekaligus.
Namun, memeriksa alasan di balik tindakan kita dapat membantu kita mengenali sesuatu yang penting: kapan keinginan kita benar-benar berasal dari diri sendiri dan kapan kita sedang mengikuti tuntutan pengakuan sosial.
Sebab jika ukuran keberhasilan selalu ditentukan oleh pandangan orang lain, kita tidak pernah benar-benar bebas menentukan apa yang cukup bagi kita.
Mengapa Pengakuan Terasa Begitu Penting?
Keinginan untuk diakui sebenarnya bukan sesuatu yang aneh.
Manusia adalah makhluk sosial.
Kita ingin diterima, dihargai, dan merasa bahwa keberadaan kita berarti bagi orang lain.
Seorang anak ingin orang tuanya bangga.
Seorang pekerja ingin hasil kerjanya dihargai.
Seorang penulis ingin tulisannya dibaca.
Seorang pengusaha ingin usahanya dipercaya.
Pengakuan dapat memberikan dorongan, memperkuat hubungan, dan membantu kita mengetahui bahwa apa yang kita lakukan memiliki arti bagi orang lain.
Jadi, persoalannya bukan terletak pada keinginan untuk mendapatkan pengakuan.
Persoalannya muncul ketika pengakuan menjadi satu-satunya sumber harga diri.
Ketika tidak dipuji, kita merasa tidak berharga.
Ketika unggahan tidak mendapatkan respons, kita merasa gagal.
Ketika orang lain tidak mengetahui pencapaian kita, kita merasa pencapaian itu kurang berarti.
Ketika seseorang mengkritik kita, kita merasa seluruh diri kita sedang diserang.
Pada titik itu, kita tidak lagi sekadar menikmati pengakuan.
Kita mulai bergantung kepadanya.
Dan sesuatu yang seharusnya menjadi pelengkap kehidupan berubah menjadi penentu kebahagiaan kita.
Media Sosial Bukan Musuh, tetapi Kita Perlu Mengenali Pengaruhnya
Kita tidak perlu menyalahkan media sosial untuk semua persoalan ini.
Media sosial juga memiliki manfaat besar.
Kita bisa belajar dari orang lain, menemukan komunitas, mempromosikan usaha, menyebarkan gagasan, dan menjaga hubungan dengan orang-orang yang jauh.
Bagi pelaku usaha kecil, kreator, penulis, dan pekerja digital, perhatian publik bahkan dapat menjadi bagian penting dari pekerjaan.
Namun, ada perbedaan antara menggunakan media sosial sebagai alat dan menjadikan media sosial sebagai ukuran nilai diri.
Kita boleh mempromosikan karya.
Tetapi kita tidak harus mengukur seluruh nilai karya berdasarkan jumlah tanda suka.
Kita boleh membagikan kebahagiaan.
Tetapi kita tidak harus merasa bersalah ketika menikmati sesuatu tanpa mendokumentasikannya.
Kita boleh membangun reputasi.
Tetapi kita tidak perlu mengarang kehidupan yang berbeda dari kenyataan demi mempertahankan reputasi tersebut.
Kita boleh terlihat oleh dunia tanpa harus hidup demi tatapan dunia.
Kita Tidak Harus Membuktikan Bahwa Hidup Kita Berhasil
Ada kelelahan yang muncul ketika kita merasa harus terus-menerus membuktikan sesuatu.
Kepada keluarga, bahwa kita sudah berhasil.
Kepada teman lama, bahwa kehidupan kita lebih baik.
Kepada orang yang pernah meremehkan kita, bahwa mereka salah.
Kepada masyarakat, bahwa kita bukan orang yang gagal.
Dorongan ini terkadang membuat kita bekerja lebih keras. Dalam beberapa keadaan, ia bahkan bisa menjadi motivasi untuk bangkit.
Namun, jika seluruh perjalanan hidup diarahkan untuk membuktikan sesuatu kepada orang lain, kita perlu bertanya: kapan kita akan merasa selesai?
Jika kita berhasil, mungkin ada orang yang tetap tidak terkesan.
Jika kita membeli rumah, orang lain mungkin sudah membeli rumah yang lebih besar.
Jika bisnis kita berkembang, akan selalu ada bisnis yang lebih besar.
Jika kita mendapatkan penghargaan, akan selalu ada orang lain yang mendapatkan penghargaan lebih banyak.
Dunia tidak pernah kehabisan bahan untuk membuat kita merasa kurang.
Karena itu, kita membutuhkan ukuran keberhasilan yang tidak sepenuhnya bergantung pada perbandingan.
Mungkin keberhasilan juga berarti mampu membiayai kebutuhan keluarga tanpa terus-menerus merasa tertinggal.
Mampu bekerja dengan baik tanpa kehilangan kesehatan.
Mampu memiliki sesuatu tanpa harus mengumumkannya.
Mampu menjalani kehidupan sederhana tanpa merasa lebih rendah daripada orang lain.
Dan mampu berkata, dengan jujur, bahwa kehidupan yang sedang kita jalani sudah memiliki hal-hal yang patut disyukuri.
Hamka dan Seni Menempatkan Dunia pada Tempatnya
Dalam Tasawuf Modern, Buya Hamka membahas kebahagiaan, kesehatan jiwa, dan hubungan manusia dengan kehidupan duniawi.
Pemikiran tersebut relevan ketika kita berbicara tentang keinginan mendapatkan pengakuan.
Dunia bukan sesuatu yang harus ditinggalkan agar manusia dapat hidup dengan baik. Kita tetap perlu bekerja, memenuhi kebutuhan, membangun usaha, dan memperbaiki keadaan.
Namun, kita perlu berhati-hati agar hal-hal tersebut tidak mengambil tempat yang berlebihan dalam kehidupan batin.
Memiliki harta tidak otomatis membuat seseorang kehilangan ketenangan.
Memiliki jabatan tidak otomatis membuat seseorang menjadi sombong.
Mendapatkan pujian juga bukan sebuah kesalahan.
Yang perlu diperiksa adalah hubungan kita dengan semua itu.
Apakah harta membuat kita semakin bertanggung jawab atau semakin takut kehilangan?
Apakah jabatan membuat kita semakin bermanfaat atau semakin merasa lebih tinggi?
Apakah pujian membuat kita bersyukur atau membuat kita terus-menerus membutuhkan pujian berikutnya?
Pertanyaan-pertanyaan itu membawa kita kembali kepada diri sendiri.
Sebab persoalannya tidak selalu terletak pada apa yang kita miliki, tetapi juga pada bagaimana kita memaknai apa yang kita miliki.
Ada Kebahagiaan yang Tidak Perlu Diumumkan
Cobalah mengingat sebuah pengalaman yang terasa menyenangkan, tetapi tidak pernah Anda ceritakan kepada siapa pun.
Mungkin sebuah percakapan panjang dengan orang yang Anda sayangi.
Mungkin sore yang tenang setelah pekerjaan selesai.
Mungkin secangkir kopi ketika hujan turun.
Mungkin keberhasilan kecil yang hanya Anda dan keluarga ketahui.
Mungkin saat Anda berhasil menyelesaikan persoalan yang selama ini membebani pikiran.
Tidak ada unggahan.
Tidak ada komentar.
Tidak ada orang yang memberikan ucapan selamat.
Namun, pengalaman itu tetap berarti.
Bahkan mungkin terasa lebih dekat dengan diri sendiri karena kita menikmatinya tanpa sibuk memikirkan bagaimana orang lain akan menilainya.
Bukan berarti semua pengalaman harus disimpan sendiri.
Berbagi cerita juga dapat mempererat hubungan.
Tetapi ada baiknya kita sesekali mengingat bahwa sesuatu tidak harus diketahui banyak orang agar memiliki nilai dalam kehidupan kita.
Ada kebahagiaan yang tetap utuh meskipun tidak mendapatkan satu pun tanda suka.
Belajar Membedakan Keinginan dan Kebutuhan
Salah satu cara sederhana untuk mengurangi ketergantungan pada pengakuan adalah berhenti sejenak sebelum mengambil keputusan.
Ketika ingin membeli sesuatu, tanyakan:
Apakah saya benar-benar membutuhkannya?
Apakah barang ini akan memperbaiki kehidupan saya?
Ataukah saya hanya ingin terlihat berhasil?
Ketika ingin mengunggah pencapaian, tanyakan:
Apakah saya ingin berbagi kabar baik?
Apakah saya ingin menginspirasi seseorang?
Ataukah saya sedang membutuhkan pembuktian?
Tidak semua jawaban harus sempurna.
Kita juga tidak perlu mencurigai setiap keinginan sendiri.
Pertanyaan-pertanyaan itu hanya membantu kita lebih sadar terhadap alasan di balik tindakan kita.
Sebab semakin kita memahami diri sendiri, semakin kecil kemungkinan kita menjalani kehidupan hanya berdasarkan harapan orang lain.
Jangan Sampai Kita Lupa Menikmati Apa yang Sudah Dimiliki
Ada orang yang bekerja keras bertahun-tahun untuk membeli rumah.
Ketika rumah itu akhirnya dimiliki, pikirannya langsung tertuju pada rumah yang lebih besar.
Ada orang yang dahulu berharap mendapatkan pekerjaan tetap.
Ketika pekerjaan itu diperoleh, ia mulai membandingkan gajinya dengan orang lain.
Ada orang yang ingin membangun bisnis agar bisa memiliki lebih banyak waktu bersama keluarga.
Ketika bisnis berkembang, seluruh waktunya justru habis untuk mengurus bisnis tersebut.
Tentu saja, manusia boleh memiliki target baru.
Kita tidak harus berhenti berkembang hanya karena sudah mendapatkan sesuatu.
Namun, kita juga perlu belajar berhenti sejenak dan menikmati hasil perjalanan.
Jika tidak, kehidupan akan menjadi perlombaan tanpa garis akhir.
Kita selalu menuju sesuatu, tetapi tidak pernah benar-benar berada di tempat kita sendiri.
Jangan sampai seluruh hidup kita habis untuk mempersiapkan kebahagiaan yang tidak pernah sempat kita rasakan.
Refleksi Penulis: Saya Tidak Harus Terlihat Hebat Setiap Saat
Saya kira, salah satu bentuk kedewasaan adalah ketika seseorang mulai berdamai dengan kemungkinan bahwa tidak semua orang akan menganggap kehidupannya istimewa.
Dan itu tidak masalah.
Kita tidak harus selalu terlihat produktif.
Tidak harus selalu memiliki pencapaian baru.
Tidak harus selalu mempunyai cerita yang menarik.
Tidak harus selalu membuktikan bahwa hidup kita berjalan dengan baik.
Ada hari ketika kita berhasil.
Ada hari ketika kita gagal.
Ada masa ketika kita berkembang.
Ada masa ketika kita hanya berusaha bertahan.
Semuanya bagian dari kehidupan.
Saya semakin merasa bahwa kita perlu memiliki ruang yang tidak dipenuhi tuntutan untuk terlihat hebat.
Ruang untuk belajar tanpa takut terlihat belum pintar.
Ruang untuk bekerja tanpa terus-menerus memikirkan pujian.
Ruang untuk beristirahat tanpa merasa bersalah.
Ruang untuk menikmati kebahagiaan tanpa harus membuktikannya.
Dan ruang untuk menjadi manusia biasa.
Sebab menjadi manusia biasa bukan berarti gagal menjalani kehidupan.
Kadang, justru ketika kita berhenti sibuk membuktikan diri, kita mulai memiliki kesempatan untuk benar-benar mengenal diri sendiri.
Penutup: Hiduplah, Bukan Sekadar Tampil Hidup
Kita boleh memiliki cita-cita besar.
Boleh bekerja keras.
Boleh membangun usaha.
Boleh menginginkan kehidupan yang lebih baik.
Boleh berharap orang lain menghargai usaha kita.
Semua itu wajar.
Tetapi jangan sampai kita menyerahkan seluruh ukuran kebahagiaan kepada penilaian orang lain.
Sebab orang lain tidak akan selalu melihat perjuangan kita.
Tidak akan selalu memahami keputusan kita.
Tidak akan selalu menyukai pilihan kita.
Dan tidak akan selalu memberikan pengakuan yang kita harapkan.
Jika kita menunggu semua itu sebelum merasa cukup, kita mungkin akan menunggu terlalu lama.
Maka sesekali, tutuplah layar.
Letakkan telepon.
Nikmati makanan tanpa terburu-buru mengambil foto.
Dengarkan orang yang sedang berbicara di hadapan kita.
Bacalah buku tanpa harus menceritakannya kepada siapa pun.
Lakukan pekerjaan dengan baik meskipun tidak ada yang memuji.
Dan nikmati keberhasilan kecil tanpa merasa wajib mengumumkannya.
Bukan karena kita harus menyembunyikan kehidupan.
Melainkan karena kita ingin kembali menjadi orang yang menjalani kehidupan itu sendiri.
Pada akhirnya, kita tidak akan selalu bisa mengendalikan bagaimana orang lain memandang kita.
Namun, kita masih bisa memilih bagaimana kita menjalani hari-hari kita.
Kita bisa mengejar sesuatu yang benar-benar bermakna.
Kita bisa menghargai apa yang sudah dimiliki.
Kita bisa tumbuh tanpa terus-menerus membandingkan diri.
Dan kita bisa bahagia tanpa harus memastikan bahwa semua orang mengetahuinya.
Sebab kehidupan yang baik tidak selalu terlihat mengesankan dari luar.
Kadang, kehidupan yang baik adalah kehidupan yang ketika dijalani terasa cukup, ketika dikenang terasa berarti, dan ketika tidak ada seorang pun yang melihatnya tetap layak disyukuri.
Jadi, jangan terlalu sibuk membuat hidup terlihat indah.
Pastikan Anda masih punya waktu untuk benar-benar menikmatinya.
Daftar Bacaan
Fromm, Erich. To Have or to Be? New York: Harper & Row, 1976.
Hamka. Tasawuf Modern. Jakarta: Republika Penerbit, berbagai edisi.
Rosenberg, Morris. Society and the Adolescent Self-Image. Princeton, NJ: Princeton University Press, 1965. Karya klasik mengenai konsep diri dan hubungan individu dengan lingkungan sosial.

Post a Comment for "Antara Pengakuan dan Kedamaian"