Kita Semakin Terhubung, tetapi Mengapa Semakin Sulit Merasa Dekat?

Di tengah begitu banyak percakapan, mungkin yang paling kita rindukan bukanlah seseorang untuk diajak bicara, melainkan seseorang yang benar-benar mau mendengarkan.

Ramai di Luar, Sunyi di Dalam

Pernahkah kita membuka telepon genggam pada malam hari, melihat puluhan pesan, membaca berbagai percakapan, lalu meletakkannya kembali dengan perasaan yang aneh?

Tidak ada yang benar-benar hilang dari kehidupan kita.

Teman-teman masih ada.

Keluarga masih bisa dihubungi.

Grup percakapan terus bergerak.

Foto-foto baru bermunculan.

Orang-orang membagikan kabar, lelucon, pendapat, dan cerita tentang kegiatan mereka.

Namun, entah mengapa, kita tetap merasa sendirian.

Kita ingin menceritakan sesuatu, tetapi bingung harus memulai dari mana.

Kita ingin mengatakan bahwa hari ini terasa berat, tetapi takut dianggap terlalu banyak mengeluh.

Kita ingin berbicara tentang sesuatu yang mengganggu pikiran, tetapi khawatir orang lain tidak benar-benar tertarik mendengarkannya.

Akhirnya, kita memilih menjawab, "Tidak apa-apa."

Lalu melanjutkan kegiatan seperti biasa.

Besok pagi, kita kembali bekerja, belajar, menjalankan tanggung jawab, dan berinteraksi dengan orang-orang di sekitar.

Dari luar, kehidupan tampak berjalan normal.

Tidak ada yang mengetahui bahwa di balik percakapan yang kita lakukan setiap hari, ada bagian dari diri kita yang jarang mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengan jujur.

Pengalaman seperti ini tidak selalu berarti seseorang tidak memiliki teman. Kesepian juga dapat dialami oleh orang yang memiliki keluarga, pasangan, pekerjaan, dan lingkungan sosial yang luas.

Sebab memiliki banyak orang di sekitar kita tidak otomatis berarti merasa dekat dengan mereka.

Kita bisa berada di tengah keramaian tanpa merasa ditemani, sebagaimana kita bisa berada dalam kesunyian tanpa merasa kesepian.

Mungkin persoalannya bukan semata-mata berapa banyak orang yang kita kenal, melainkan seberapa jauh kita merasa dapat menjadi diri sendiri ketika bersama mereka.

Kita Berbicara Banyak, tetapi Tidak Selalu Saling Mengenal

Kehidupan modern memberi kita banyak kesempatan untuk berkomunikasi.

Kita bisa menghubungi seseorang yang tinggal ribuan kilometer jauhnya.

Kita bisa mengetahui kabar teman lama tanpa harus bertemu.

Kita bisa mengikuti kehidupan seseorang melalui foto dan video yang dibagikan setiap hari.

Secara teknis, berhubungan dengan orang lain menjadi jauh lebih mudah.

Namun, komunikasi dan kedekatan bukanlah hal yang sama.

Kita dapat mengetahui seseorang baru saja berlibur, tetapi tidak mengetahui bahwa ia sedang menghadapi persoalan keluarga.

Kita dapat melihat teman memperoleh pekerjaan baru, tetapi tidak mengetahui kecemasan yang ia rasakan ketika harus memulai kehidupan di tempat berbeda.

Kita dapat membaca banyak unggahan seseorang, tetapi tidak pernah mendengar apa yang sebenarnya sedang ia pikirkan.

Kita mengetahui bagian-bagian kehidupannya yang terlihat, tetapi tidak selalu mengenal manusia di balik semua itu.

Hal yang sama mungkin terjadi pada diri kita sendiri.

Kita membagikan kabar baik, pencapaian, kegiatan, dan pengalaman yang menyenangkan. Sementara itu, bagian kehidupan yang lebih rumit sering kita simpan sendiri.

Bukan karena kita selalu ingin berpura-pura.

Kadang kita hanya ingin menjaga privasi.

Kadang kita tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaan sendiri.

Kadang kita belum menemukan orang yang cukup dipercaya untuk mendengarkan.

Akibatnya, hubungan tetap berjalan, tetapi tidak selalu berkembang menjadi kedekatan yang lebih dalam.

Kita saling mengetahui kabar, tetapi belum tentu saling memahami.

Kita saling mengirim pesan, tetapi belum tentu menyediakan ruang untuk percakapan yang sungguh-sungguh.

Dan kita bisa menghabiskan banyak waktu bersama tanpa pernah membicarakan sesuatu yang benar-benar penting bagi kehidupan kita.

Erich Fromm: Kedekatan Membutuhkan Kemampuan untuk Mencintai

Dalam The Art of Loving, Erich Fromm memandang cinta bukan sekadar perasaan yang datang dengan sendirinya. Cinta juga berkaitan dengan kemampuan yang perlu dikembangkan melalui perhatian, tanggung jawab, penghormatan, dan pengetahuan terhadap orang lain.

Gagasan ini membantu kita memahami bahwa kedekatan tidak cukup dibangun melalui frekuensi pertemuan atau jumlah percakapan.

Kita perlu memberi perhatian.

Kita perlu berusaha memahami.

Kita perlu menghormati bahwa orang lain memiliki pikiran, perasaan, dan pengalaman yang tidak selalu sama dengan kita.

Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini terdengar sederhana.

Ketika seseorang bercerita, kita mendengarkan tanpa segera mengalihkan pembicaraan kepada pengalaman sendiri.

Ketika teman mengungkapkan kesulitan, kita tidak langsung membandingkannya dengan masalah orang lain.

Ketika seseorang memiliki pandangan berbeda, kita mencoba memahami alasan di balik pandangannya sebelum memberikan penilaian.

Ketika orang yang kita sayangi melakukan kesalahan, kita tetap dapat mengkritik tindakannya tanpa merendahkan seluruh dirinya.

Semua itu membutuhkan perhatian yang nyata.

Kita tidak selalu bisa memberikan waktu sebanyak yang diinginkan orang lain. Kita juga memiliki tanggung jawab, keterbatasan, dan persoalan sendiri.

Namun, kedekatan membutuhkan sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh komunikasi yang cepat: kesediaan untuk hadir dan memperhatikan manusia di hadapan kita.

Mungkin karena itu, seseorang dapat merasa sangat dekat dengan teman yang hanya sesekali ditemuinya, tetapi merasa jauh dari orang yang setiap hari berada di ruangan yang sama.

Yang membedakan bukan selalu jarak fisik.

Melainkan kualitas perhatian yang diberikan dalam hubungan tersebut.

Mengapa Kita Takut Memperlihatkan Diri yang Sebenarnya?

Kedekatan mengandung risiko.

Ketika kita mulai terbuka kepada seseorang, kita memberi kesempatan kepada orang itu untuk mengenal bagian diri yang tidak selalu kita banggakan.

Kita mungkin terlihat kuat dalam pekerjaan, tetapi sebenarnya takut gagal.

Kita mungkin sering memberikan nasihat kepada orang lain, tetapi masih kebingungan menghadapi persoalan sendiri.

Kita mungkin tampak bahagia, tetapi sedang mengalami masa yang sulit.

Memperlihatkan sisi-sisi seperti itu membutuhkan keberanian.

Kita tidak tahu apakah orang lain akan memahami.

Kita tidak tahu apakah cerita kita akan diterima dengan baik.

Kita tidak tahu apakah sesuatu yang kita sampaikan dalam kepercayaan akan tetap dijaga.

Karena itu, banyak orang memilih memperlihatkan bagian diri yang lebih mudah diterima.

Kita berusaha terlihat baik-baik saja.

Mengatakan bahwa semuanya berjalan lancar.

Menghindari pembicaraan yang terlalu pribadi.

Menertawakan sesuatu yang sebenarnya menyakiti hati.

Ada kalanya pilihan tersebut memang diperlukan. Tidak semua orang layak mengetahui seluruh kehidupan pribadi kita. Menjaga batas juga merupakan bentuk kedewasaan.

Namun, jika kita terus-menerus menyembunyikan setiap kesulitan, kita bisa kehilangan kesempatan untuk membangun hubungan yang lebih bermakna.

Orang lain hanya mengenal versi diri kita yang selalu siap.

Versi yang mampu menyelesaikan masalah.

Versi yang tidak banyak mengeluh.

Versi yang selalu memiliki jawaban.

Padahal, kita juga membutuhkan ruang untuk menjadi manusia biasa: seseorang yang kadang bingung, takut, kecewa, dan membutuhkan bantuan.

Kita tidak harus menceritakan semuanya kepada semua orang.

Kita hanya perlu menemukan hubungan yang memungkinkan keterbukaan tumbuh secara wajar, saling menghormati, dan tidak digunakan untuk menyakiti.

Sebab kedekatan bukan berarti tidak memiliki rahasia atau batas pribadi.

Kedekatan berarti kita tidak selalu harus berpura-pura menjadi seseorang yang berbeda agar dapat diterima.

Hannah Arendt dan Pentingnya Dunia Bersama

Dalam The Human Condition, Hannah Arendt membahas kehidupan manusia sebagai makhluk yang hidup bersama orang lain. Ia menaruh perhatian pada tindakan, perkataan, dan ruang bersama tempat manusia menampilkan diri serta berinteraksi dengan sesamanya.

Pemikiran Arendt mengingatkan kita bahwa kehidupan manusia bukan hanya urusan batin yang berlangsung sendirian. Kita juga membutuhkan dunia bersama: ruang tempat kita dapat berbicara, bertindak, mendengarkan, dan hadir di hadapan orang lain.

Dalam kehidupan sehari-hari, ruang bersama itu tidak harus berupa forum besar atau kegiatan resmi.

Ia bisa berupa meja makan keluarga.

Warung tempat beberapa tetangga berbincang pada sore hari.

Perpustakaan kecil.

Kelompok belajar.

Kegiatan warga.

Percakapan dengan rekan kerja setelah menyelesaikan pekerjaan.

Atau pertemuan sederhana dengan seorang teman yang bersedia mendengarkan tanpa tergesa-gesa.

Ruang seperti itu memiliki arti karena manusia tidak hanya membutuhkan akses untuk mengirim pesan. Kita juga membutuhkan kesempatan untuk mengalami kehidupan bersama.

Kita ingin didengar.

Kita ingin gagasan kita dipertimbangkan.

Kita ingin mengetahui bahwa kehadiran kita memiliki arti bagi orang lain.

Namun, ruang bersama tidak akan terbentuk hanya karena banyak orang berkumpul di tempat yang sama.

Sebuah grup percakapan bisa sangat aktif, tetapi anggotanya tetap tidak saling memperhatikan.

Sebuah keluarga bisa makan bersama setiap malam, tetapi setiap orang sibuk dengan dunianya sendiri.

Sebuah komunitas bisa sering mengadakan kegiatan, tetapi tidak memberi ruang bagi anggotanya untuk berbicara dengan jujur.

Karena itu, kita perlu memikirkan kembali bukan hanya seberapa sering kita bertemu, melainkan bagaimana kita menggunakan ruang bersama tersebut.

Apakah kita memberi kesempatan kepada orang lain untuk berbicara?

Apakah perbedaan pendapat selalu berakhir dengan pertengkaran?

Apakah orang yang sedang mengalami kesulitan merasa aman untuk meminta bantuan?

Apakah kita mengenal orang-orang di sekitar sebagai manusia yang memiliki kehidupan rumit, atau hanya sebagai bagian dari peran sosial tertentu?

Kedekatan membutuhkan ruang yang memungkinkan manusia hadir tanpa harus terus-menerus membuktikan bahwa dirinya pantas diperhatikan.

Jangan Terlalu Cepat Menganggap Orang Lain Tidak Peduli

Ketika merasa kesepian, kita terkadang menarik kesimpulan tentang orang-orang di sekitar.

Tidak ada yang bertanya kabar, berarti tidak ada yang peduli.

Pesan kita tidak segera dibalas, berarti kita tidak penting.

Teman tidak menyadari perubahan suasana hati, berarti ia tidak mengenal kita.

Kesimpulan semacam itu dapat muncul ketika kita sedang merasa terluka.

Namun, kenyataan tidak selalu sesederhana itu.

Seseorang mungkin tidak menyadari bahwa kita sedang membutuhkan teman bicara.

Ada orang yang peduli, tetapi tidak pandai menunjukkan perhatian.

Ada teman yang sedang menghadapi persoalannya sendiri.

Ada keluarga yang menganggap kita baik-baik saja karena selama ini kita selalu terlihat mampu mengurus diri sendiri.

Tentu saja, ada pula hubungan yang memang tidak memberikan perhatian yang sehat. Kita tidak perlu terus membenarkan pengabaian atau mempertahankan hubungan yang menyakiti.

Tetapi sebelum menyimpulkan bahwa kita tidak berarti bagi siapa pun, mungkin ada baiknya kita memberi ruang bagi kemungkinan lain.

Kita dapat mencoba menyampaikan kebutuhan dengan lebih jelas.

Menghubungi seseorang yang kita percaya.

Mengajak teman bertemu.

Mengatakan bahwa akhir-akhir ini kita sedang membutuhkan teman bicara.

Meminta bantuan ketika persoalan terasa terlalu berat untuk dihadapi sendiri.

Memulai percakapan bukan berarti merendahkan diri.

Kita tidak harus selalu menunggu orang lain memahami sesuatu yang belum pernah kita sampaikan.

Kadang-kadang, hubungan membutuhkan inisiatif dari kedua belah pihak.

Dan jika upaya tersebut tidak mendapatkan tanggapan yang baik, kita dapat mengevaluasi hubungan itu dengan lebih jernih tanpa langsung menganggap bahwa diri kita tidak layak disayangi.

Kedekatan Tidak Harus Selalu Dibangun melalui Percakapan Besar

Kita sering membayangkan bahwa hubungan yang dalam membutuhkan percakapan yang panjang dan serius.

Padahal, kedekatan juga tumbuh melalui hal-hal kecil yang dilakukan berulang kali.

Mengingat sesuatu yang pernah diceritakan teman.

Menanyakan kabar setelah ia menghadapi peristiwa penting.

Menyediakan waktu untuk makan bersama.

Mendengarkan cerita yang sama tanpa menunjukkan bahwa kita bosan.

Membantu menyelesaikan urusan sederhana.

Mengirim pesan bukan hanya ketika membutuhkan sesuatu.

Menghargai kehadiran orang lain tanpa harus menunggu peristiwa besar.

Perhatian seperti itu mungkin tidak terlihat istimewa.

Tidak selalu layak diunggah ke media sosial.

Tidak selalu menghasilkan cerita yang mengesankan.

Namun, hubungan manusia sering dibangun melalui kebiasaan yang sederhana dan konsisten.

Kita mulai mempercayai seseorang bukan hanya karena ia pernah mengatakan sesuatu yang indah, tetapi karena tindakannya dari waktu ke waktu menunjukkan bahwa ia dapat diandalkan.

Kita merasa dihargai bukan hanya karena menerima hadiah, melainkan karena pendapat kita didengarkan.

Kita merasa dekat bukan hanya karena pernah berbicara selama berjam-jam, tetapi karena ada perhatian yang terus tumbuh setelah percakapan selesai.

Hubungan yang sehat tidak harus selalu ramai.

Ada persahabatan yang terasa dekat meskipun pertemuannya jarang.

Ada keluarga yang tidak banyak mengungkapkan perasaan dengan kata-kata, tetapi menunjukkan perhatian melalui tindakan.

Ada hubungan yang memberi ruang bagi kesunyian tanpa membuat salah satu pihak merasa ditinggalkan.

Yang penting bukan seberapa dramatis sebuah hubungan terlihat, melainkan apakah di dalamnya terdapat perhatian, penghormatan, dan rasa aman yang cukup.

Kita Juga Perlu Belajar Menjadi Teman bagi Orang Lain

Ketika membicarakan kesepian, kita biasanya berfokus pada apa yang tidak kita dapatkan.

Kita ingin lebih diperhatikan.

Ingin didengarkan.

Ingin memiliki seseorang yang memahami keadaan kita.

Keinginan itu wajar.

Namun, ada pertanyaan lain yang juga perlu kita ajukan kepada diri sendiri:

Apakah kita sudah berusaha menjadi orang yang dapat memberikan perhatian seperti yang kita harapkan?

Ketika teman bercerita, apakah kita sungguh-sungguh mendengarkan?

Ketika keluarga mengungkapkan masalah, apakah kita memberi ruang sebelum menawarkan nasihat?

Ketika seseorang membutuhkan bantuan, apakah kita berusaha memahami kebutuhannya atau langsung menganggap bahwa ia terlalu bergantung kepada orang lain?

Ketika orang yang kita sayangi memiliki pendapat berbeda, apakah kita tetap menghormatinya?

Kita tidak perlu menjadi penyelamat bagi semua orang.

Kita tidak harus selalu tersedia setiap saat.

Batas pribadi tetap penting, dan setiap orang memiliki kapasitas yang berbeda untuk memberikan dukungan.

Namun, hubungan yang sehat membutuhkan perhatian timbal balik.

Kita tidak dapat terus-menerus berharap dipahami tanpa pernah berusaha memahami.

Kita tidak dapat selalu meminta orang lain mendengarkan jika kita sendiri tidak pernah menyediakan ruang bagi mereka untuk berbicara.

Dan kita tidak dapat membangun kedekatan hanya dengan menunggu seseorang mengambil langkah pertama.

Mungkin, salah satu cara mengurangi kesepian adalah memperbaiki cara kita hadir dalam hubungan yang sudah dimiliki.

Bukan dengan memaksakan kedekatan.

Melainkan dengan memberi perhatian secara tulus, menjaga kepercayaan, dan membiarkan hubungan berkembang melalui pengalaman bersama.

Refleksi Penulis: Saya Tidak Membutuhkan Banyak Orang untuk Merasa Ditemani

Semakin lama saya memikirkan kehidupan manusia, semakin saya menyadari bahwa jumlah hubungan tidak selalu sejalan dengan kedalaman hubungan.

Kita bisa mengenal banyak orang, tetapi hanya memiliki sedikit orang yang benar-benar kita percaya.

Kita bisa sering berbincang, tetapi jarang membicarakan sesuatu yang penting.

Kita bisa mengetahui banyak kabar, tetapi tidak selalu merasa dipahami.

Saya kira, tidak ada yang salah dengan memiliki lingkaran pertemanan yang luas. Hubungan yang beragam dapat memperkaya pengalaman dan membuka banyak kesempatan.

Namun, saya juga merasa bahwa kita tidak perlu menjadikan banyaknya teman sebagai ukuran keberhasilan sosial.

Memiliki satu atau dua hubungan yang sehat, tempat kita dapat berbicara dengan jujur dan saling menghormati, bisa sangat berarti.

Tentu saja, tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk membangun hubungan seperti itu. Ada yang tinggal jauh dari keluarga, bekerja dengan jadwal yang berat, baru pindah ke lingkungan baru, atau sedang menjalani masa kehidupan yang membuatnya sulit bertemu orang lain.

Karena itu, kesepian tidak seharusnya diperlakukan sebagai kegagalan pribadi.

Kadang ia muncul karena keadaan hidup.

Kadang karena hubungan yang berubah.

Kadang karena kita belum menemukan lingkungan yang sesuai.

Dan kadang karena kita sendiri sedang belajar memahami kebutuhan emosional yang sebelumnya tidak pernah benar-benar kita perhatikan.

Saya ingin belajar untuk tidak hanya menambah jumlah percakapan, tetapi juga meningkatkan kualitas kehadiran.

Lebih sungguh-sungguh mendengarkan.

Tidak buru-buru memberikan penilaian.

Tidak menganggap semua masalah harus segera diselesaikan.

Dan berani mengatakan kepada orang yang dipercaya ketika saya sedang membutuhkan teman bicara.

Sebab mungkin, kehidupan sosial yang baik bukanlah kehidupan ketika kita selalu dikelilingi banyak orang.

Melainkan kehidupan ketika kita tidak harus selalu menyembunyikan diri agar dapat diterima.

Penutup: Kita Membutuhkan Hubungan yang Memberi Ruang untuk Menjadi Manusia

Teknologi akan terus berkembang.

Cara manusia berkomunikasi akan berubah.

Kita mungkin akan memiliki lebih banyak sarana untuk menghubungi orang lain daripada generasi sebelumnya.

Namun, kemudahan komunikasi tidak otomatis menjamin kedekatan.

Kita tetap perlu belajar mendengarkan.

Belajar memahami perbedaan.

Belajar menghormati batas pribadi.

Belajar meminta maaf.

Belajar menyampaikan kebutuhan dengan jujur.

Dan belajar hadir ketika orang lain membutuhkan perhatian.

Kita juga perlu mengingat bahwa tidak semua kesepian dapat diselesaikan dengan satu percakapan atau satu pertemuan. Ada orang yang membutuhkan waktu untuk membangun kembali kepercayaan. Ada yang perlu mencari lingkungan sosial baru. Ada pula yang memerlukan bantuan profesional ketika kesepian berjalan bersama kesedihan mendalam atau mengganggu kehidupan sehari-hari.

Tidak ada satu cara yang berlaku bagi semua orang.

Namun, kita dapat memulai dari sesuatu yang sederhana.

Menghubungi teman lama bukan hanya ketika membutuhkan bantuan.

Mengajak seseorang berbincang tanpa tujuan tertentu.

Menyisihkan waktu untuk keluarga tanpa terus memeriksa layar.

Menanyakan kabar dan benar-benar mendengarkan jawabannya.

Atau, jika kita sendiri sedang merasa kesepian, mencoba mengatakan kepada seseorang yang dipercaya bahwa kita sedang membutuhkan teman bicara.

Kita tidak harus menunggu sampai merasa benar-benar kuat untuk mengakui bahwa kita membutuhkan orang lain.

Sebab kebutuhan untuk terhubung bukan tanda bahwa kita lemah.

Ia merupakan bagian dari kehidupan manusia.

Pada akhirnya, mungkin yang membuat sebuah hubungan terasa berharga bukanlah seberapa sering kita bertemu atau seberapa banyak pesan yang dipertukarkan.

Melainkan apakah kita merasa dihormati ketika berbicara, didengarkan ketika mengalami kesulitan, dan diterima tanpa harus terus-menerus berpura-pura menjadi seseorang yang sempurna.

Kita tidak membutuhkan semua orang memahami seluruh kehidupan kita.

Itu hampir mustahil.

Kita hanya membutuhkan ruang yang cukup aman untuk berbagi sebagian kehidupan dengan orang-orang yang bersedia hadir secara tulus.

Dan kita juga perlu berusaha menyediakan ruang yang sama bagi mereka.

Sebab di tengah dunia yang semakin pandai menghubungkan manusia melalui teknologi, kita tetap membutuhkan sesuatu yang tidak bisa dijamin oleh koneksi internet: perhatian yang tulus dan kesediaan untuk saling memahami.

Jangan hanya bertanya berapa banyak orang yang dapat kita hubungi.

Tanyakan pula dengan siapa kita dapat berbicara tanpa harus menyembunyikan seluruh kerumitan diri.

Dan lebih dari itu, tanyakan apakah kita sudah menjadi seseorang yang membuat orang lain merasa cukup aman untuk melakukan hal yang sama.

Barangkali, dari sanalah kedekatan yang sesungguhnya mulai tumbuh.

Bukan dari percakapan yang paling ramai.

Melainkan dari kesediaan untuk hadir, mendengarkan, dan memperlakukan manusia lain sebagai manusia yang memiliki kehidupan sedalam kehidupan kita sendiri.


Daftar Bacaan

  1. Fromm, Erich. The Art of Loving: An Inquiry into the Nature of Love. New York: Harper & Brothers, 1956.

  2. Arendt, Hannah. The Human Condition. Chicago: University of Chicago Press, 1958.

  3. Baumeister, Roy F., dan Mark R. Leary. “The Need to Belong: Desire for Interpersonal Attachments as a Fundamental Human Motivation.” Psychological Bulletin, 117(3), 1995, hlm. 497–529.


Post a Comment for "Kita Semakin Terhubung, tetapi Mengapa Semakin Sulit Merasa Dekat?"