Menjadi Orang Baik Bukan Berarti Harus Selalu Mengalah
Ada saatnya kita perlu memahami orang lain. Namun, ada pula saatnya kita harus berani mengatakan tidak, tanpa kehilangan rasa hormat dan kemanusiaan.
Ketika Kebaikan Berubah Menjadi Beban
Ada orang yang selalu berusaha memenuhi permintaan orang lain.
Ketika saudara meminta bantuan, ia mengusahakannya.
Ketika teman meminjam uang, ia merasa tidak tega menolak.
Ketika rekan kerja meminta tolong menyelesaikan tugasnya, ia bersedia, meskipun pekerjaannya sendiri belum selesai.
Ketika keluarga menginginkan sesuatu, ia berusaha memenuhi, sekalipun harus menunda kebutuhan pribadi.
Dari luar, orang seperti ini terlihat baik. Ia mudah dimintai bantuan, tidak banyak membantah, dan sebisa mungkin menghindari pertengkaran.
Namun, ada bagian kehidupan yang mungkin tidak terlihat.
Ia pulang dengan tubuh lelah.
Pekerjaannya sendiri tertunda.
Penghasilannya semakin sulit diatur karena terlalu sering membantu orang lain.
Waktu istirahatnya berkurang.
Dan ketika akhirnya merasa kewalahan, ia justru menyalahkan diri sendiri karena mulai merasa kesal kepada orang-orang yang selama ini dibantunya.
Ia bertanya dalam hati, mengapa saya merasa lelah melakukan kebaikan?
Mengapa saya mulai kecewa ketika bantuan saya tidak dihargai?
Mengapa saya sulit mengatakan tidak, padahal saya tahu bahwa saya sebenarnya tidak sanggup?
Pertanyaan-pertanyaan itu layak direnungkan.
Sebab membantu orang lain merupakan tindakan yang baik, tetapi tidak setiap permintaan harus dipenuhi. Memahami keadaan seseorang tidak berarti kita harus mengambil alih seluruh tanggung jawabnya.
Ada perbedaan antara membantu karena mampu dan membantu karena takut dianggap tidak baik.
Ada perbedaan antara mengalah untuk menyelesaikan persoalan dan mengalah karena merasa tidak memiliki hak untuk menyampaikan keberatan.
Dan ada perbedaan antara menjaga hubungan dengan penuh kasih sayang dan mempertahankan hubungan dengan mengorbankan diri sendiri tanpa batas.
Kebaikan seharusnya lahir dari kesadaran dan kepedulian, bukan dari ketakutan bahwa kita akan kehilangan penerimaan jika sesekali berkata tidak.
Kita Ingin Disukai, Lalu Takut Mengecewakan
Keinginan untuk diterima merupakan bagian yang wajar dari kehidupan sosial.
Kita ingin menjadi anak yang membanggakan orang tua, pasangan yang dapat diandalkan, teman yang menyenangkan, dan rekan kerja yang mudah diajak bekerja sama.
Kita tidak ingin mengecewakan orang yang menyayangi kita.
Kita juga tidak ingin dianggap egois ketika menolak permintaan bantuan.
Masalahnya muncul ketika penerimaan orang lain menjadi ukuran utama untuk menentukan apakah tindakan kita benar.
Kita mulai mengatakan ya meskipun sebenarnya ingin mengatakan tidak.
Kita menyetujui sesuatu meskipun memiliki keberatan.
Kita menyembunyikan perasaan agar tidak menimbulkan ketegangan.
Kita membiarkan seseorang melewati batas yang seharusnya dijaga karena takut hubungan akan berubah jika kita berbicara jujur.
Lama-kelamaan, kita mungkin terlihat semakin mudah menyenangkan orang lain, tetapi semakin sulit memahami kebutuhan sendiri.
Kita mengetahui apa yang diinginkan keluarga, teman, pasangan, dan rekan kerja. Namun, ketika ditanya apa yang sebenarnya kita butuhkan, kita justru kebingungan menjawab.
Kita terlalu sibuk menyesuaikan diri hingga kehilangan kesempatan untuk mengenali batas kemampuan.
Tentu saja, kehidupan bersama membutuhkan kompromi. Kita tidak mungkin selalu mendapatkan apa yang kita inginkan. Ada kewajiban yang harus dijalankan, janji yang perlu dipenuhi, dan pengorbanan yang memang menjadi bagian dari hubungan yang sehat.
Namun, kompromi berbeda dari penghapusan diri.
Kompromi berarti mempertimbangkan kepentingan bersama.
Menghapus diri berarti terus-menerus menempatkan kebutuhan sendiri di urutan terakhir, bahkan ketika keadaan sudah tidak sehat.
Kita perlu belajar bahwa mengecewakan seseorang sesekali tidak otomatis berarti kita telah berbuat salah.
Seseorang mungkin kecewa karena kita tidak bisa meminjamkan uang.
Rekan kerja mungkin kurang senang karena kita menolak mengambil alih tugasnya.
Keluarga mungkin tidak langsung memahami keputusan kita untuk beristirahat ketika mereka menginginkan bantuan.
Perasaan kecewa mereka tetap layak dihormati. Namun, perasaan itu tidak otomatis menjadikan keputusan kita keliru.
Kita dapat memahami kekecewaan orang lain tanpa harus selalu mengubah keputusan demi menghilangkannya.
Erich Fromm: Cinta Membutuhkan Penghormatan
Dalam The Art of Loving, Erich Fromm membahas cinta sebagai kemampuan yang melibatkan perhatian, tanggung jawab, penghormatan, dan pengetahuan.
Pemikiran ini membantu kita melihat bahwa kasih sayang bukan sekadar keinginan untuk membuat orang lain senang.
Mencintai seseorang juga berarti menghormati keberadaannya sebagai manusia yang memiliki kebutuhan, kemampuan, dan kebebasan.
Dalam hubungan keluarga, misalnya, orang tua dapat mencintai anak tanpa harus menentukan seluruh pilihan hidupnya.
Pasangan dapat saling mendukung tanpa menganggap bahwa salah satu pihak harus selalu mengalah.
Teman dapat saling membantu tanpa menjadikan bantuan sebagai alat untuk mengendalikan keputusan satu sama lain.
Penghormatan menjadi penting karena manusia bukan benda yang keberadaannya hanya ditentukan oleh kegunaan bagi orang lain.
Kita tidak seharusnya menilai seseorang hanya dari seberapa banyak ia dapat membantu.
Seseorang tetap memiliki martabat ketika sedang tidak mampu memberikan apa-apa.
Ia tetap layak dihormati ketika perlu beristirahat.
Ia tetap berhak memiliki waktu pribadi, bahkan ketika orang-orang di sekitarnya sedang membutuhkan perhatian.
Hal yang sama berlaku bagi diri kita.
Jika kita menganggap orang lain berhak memiliki keterbatasan, mengapa kita begitu sulit menerima keterbatasan sendiri?
Jika kita memahami bahwa teman bisa lelah, mengapa kita merasa bersalah ketika membutuhkan istirahat?
Jika kita menerima bahwa keluarga tidak selalu dapat memenuhi setiap permintaan, mengapa kita menganggap diri sendiri harus selalu tersedia?
Mungkin kita perlu belajar menerapkan penghormatan yang sama kepada diri sendiri dan orang lain.
Bukan dengan menempatkan diri di atas orang lain, melainkan dengan menyadari bahwa kebutuhan kita juga merupakan bagian dari kenyataan yang perlu dipertimbangkan.
Kebaikan yang sehat tidak menuntut satu pihak terus-menerus menghilang agar pihak lain merasa nyaman.
Ada Perbedaan antara Ikhlas dan Tidak Berani Menolak
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menggunakan kata ikhlas untuk menggambarkan kesediaan membantu tanpa mengharapkan balasan.
Ikhlas merupakan nilai yang penting. Banyak tindakan baik memang menjadi lebih bermakna ketika dilakukan tanpa menuntut pujian atau keuntungan pribadi.
Namun, kita perlu berhati-hati agar kata ikhlas tidak digunakan untuk membenarkan semua bentuk pengorbanan.
Seseorang yang membantu tetangganya ketika sedang mampu melakukan sesuatu yang baik.
Seseorang yang berbagi penghasilan untuk membantu keluarga juga dapat melakukan tindakan yang mulia.
Namun, jika seseorang terus memberikan uang sampai kebutuhan dasar keluarganya sendiri terbengkalai, persoalannya perlu dipertimbangkan lebih jauh.
Jika seseorang terus mengambil alih pekerjaan orang lain sampai tugas dan kesehatannya sendiri terganggu, ia perlu mengevaluasi keadaan.
Jika seseorang selalu menerima perlakuan buruk dengan alasan harus sabar, kita perlu bertanya apakah kesabaran tersebut sedang membantu menyelesaikan persoalan atau justru membuat perlakuan buruk terus berlangsung.
Kita tidak dapat menilai keikhlasan seseorang hanya berdasarkan seberapa besar pengorbanannya.
Kita juga tidak boleh menyimpulkan bahwa orang yang menolak membantu pasti tidak memiliki kepedulian.
Ada orang yang ingin membantu tetapi tidak mampu.
Ada orang yang mampu membantu dalam satu hal, tetapi tidak dalam hal lainnya.
Ada orang yang perlu menolak karena sedang memiliki tanggung jawab yang tidak dapat ditinggalkan.
Dan ada keadaan ketika menolak permintaan justru merupakan keputusan yang lebih bertanggung jawab.
Misalnya, seseorang yang harus membayar kebutuhan pendidikan anak mungkin tidak dapat meminjamkan uang dalam jumlah besar kepada kerabat. Ia tetap bisa menawarkan bantuan lain, membantu mencari solusi, atau menjelaskan keadaan keuangannya dengan jujur.
Menolak satu bentuk bantuan tidak selalu berarti menolak orang yang membutuhkannya.
Begitu pula, menjaga batas dalam hubungan tidak otomatis berarti berhenti menyayangi.
Keikhlasan bukan kewajiban untuk mengatakan ya kepada setiap permintaan. Keikhlasan juga dapat hadir ketika kita membantu dengan kemampuan yang nyata dan menerima bahwa kemampuan itu memiliki batas.
Mengapa Kita Merasa Bersalah Ketika Berkata Tidak?
Bagi sebagian orang, menolak permintaan terasa seperti tindakan yang kejam.
Mereka membayangkan bahwa orang lain akan kecewa, menjauh, atau menilai mereka secara negatif.
Perasaan itu bisa semakin kuat jika sejak kecil mereka terbiasa mendapat penghargaan ketika selalu menurut.
Anak yang patuh dipuji.
Anak yang mempertanyakan sesuatu dianggap membantah.
Anak yang mengungkapkan keberatan diminta diam.
Dalam lingkungan seperti itu, seseorang mungkin belajar bahwa menjaga hubungan berarti tidak boleh menimbulkan ketidaknyamanan bagi orang lain.
Ketika dewasa, ia membawa keyakinan tersebut ke dalam berbagai hubungan.
Ia merasa harus menyenangkan semua orang.
Ia menghindari percakapan sulit.
Ia memilih menanggung beban sendiri daripada mengambil risiko membuat orang lain kecewa.
Namun, kita perlu membedakan antara rasa bersalah karena benar-benar melakukan kesalahan dan rasa tidak nyaman karena mulai melakukan sesuatu yang berbeda dari kebiasaan lama.
Jika kita berbohong, mengingkari janji, atau sengaja menyakiti orang lain, rasa bersalah dapat menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki.
Tetapi jika kita menolak permintaan yang memang tidak mampu dipenuhi, perasaan bersalah tidak otomatis menunjukkan bahwa keputusan tersebut salah.
Kita mungkin hanya sedang belajar menetapkan batas yang sebelumnya tidak pernah kita miliki.
Proses itu bisa terasa asing.
Orang lain mungkin membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri.
Kita sendiri mungkin perlu berlatih menyampaikan keputusan dengan lebih tenang.
Namun, ketidaknyamanan tidak selalu berarti kita sedang melakukan sesuatu yang buruk.
Kadang, ketidaknyamanan muncul karena kita sedang membangun kebiasaan yang lebih sehat.
Tidak Semua Orang Akan Memahami Batas yang Kita Tetapkan
Ketika seseorang selama bertahun-tahun selalu bersedia membantu, orang-orang di sekitarnya mungkin terbiasa mengandalkannya.
Mereka terbiasa bahwa setiap permintaan akan dijawab dengan persetujuan.
Ketika orang tersebut mulai mengatakan tidak, perubahan itu mungkin terasa mengejutkan.
Ada yang memahami.
Ada yang bertanya dengan baik.
Namun, ada pula yang menganggapnya telah berubah menjadi egois.
Situasi seperti ini tidak selalu mudah dihadapi, terutama dalam keluarga besar atau lingkungan sosial yang menjunjung tinggi kebersamaan.
Kita tidak ingin dianggap melupakan keluarga.
Tidak ingin dicap tidak setia kawan.
Tidak ingin hubungan menjadi renggang hanya karena menolak satu permintaan.
Namun, hubungan yang sehat perlu memberikan ruang bagi kenyataan bahwa kemampuan manusia tidak selalu sama dan tidak selalu tersedia setiap saat.
Kita dapat menjelaskan keadaan dengan sopan.
Kita dapat menunjukkan bahwa kita tetap peduli.
Kita dapat menawarkan alternatif jika memang memungkinkan.
Tetapi kita tidak harus menghabiskan seluruh tenaga untuk memastikan bahwa semua orang menyukai keputusan kita.
Ada batas antara menjelaskan keputusan dan terus-menerus membela diri kepada seseorang yang memang tidak bersedia menerima penjelasan.
Kita perlu belajar bahwa tanggung jawab kita adalah menyampaikan keputusan dengan jujur dan menghormati orang lain, bukan mengendalikan seluruh reaksi mereka.
Tentu saja, hal ini tidak berarti kita boleh menggunakan alasan batas pribadi untuk menghindari kewajiban yang sudah disepakati. Jika kita telah membuat janji atau menerima tanggung jawab tertentu, kita tetap perlu mempertimbangkan konsekuensi ketika hendak mengubah keputusan.
Menetapkan batas bukan cara untuk lari dari tanggung jawab.
Justru, batas yang jelas membantu kita mengetahui tanggung jawab mana yang sungguh-sungguh mampu kita jalankan.
Belajar Mengatakan Tidak Tanpa Merendahkan Orang Lain
Menetapkan batas tidak harus dilakukan dengan kasar.
Kita tidak perlu mempermalukan seseorang agar ia memahami bahwa kita sedang tidak bisa membantu.
Kita juga tidak perlu menyusun alasan yang panjang untuk membuktikan bahwa penolakan kita sah.
Sering kali, penjelasan yang sederhana sudah cukup.
Ketika diminta membantu tetapi sedang memiliki banyak pekerjaan, kita bisa mengatakan bahwa saat ini belum mampu mengambil tanggung jawab tambahan.
Ketika seseorang meminta pinjaman uang yang tidak dapat kita berikan, kita bisa menjelaskan bahwa dana tersebut sudah dialokasikan untuk kebutuhan keluarga.
Ketika diajak menghadiri suatu acara tetapi membutuhkan waktu beristirahat, kita dapat menolak dengan sopan tanpa membuat alasan yang tidak benar.
Ketika percakapan mulai berubah menjadi penghinaan, kita dapat mengatakan bahwa kita bersedia melanjutkan pembicaraan jika dilakukan dengan saling menghormati.
Kita tidak harus mengucapkan semua itu dengan nada marah.
Kita juga tidak perlu menuduh orang lain sebagai penyebab seluruh kesulitan kita.
Tujuannya bukan memenangkan pertengkaran.
Tujuannya adalah menyampaikan kenyataan secara jelas.
Ada beberapa kebiasaan yang dapat membantu.
Pertama, jangan terburu-buru memberikan persetujuan.
Jika permintaan membutuhkan waktu atau biaya yang cukup besar, kita boleh meminta waktu untuk mempertimbangkannya. Tidak semua pertanyaan harus langsung dijawab.
Kedua, jelaskan batas tanpa merendahkan.
Kita dapat mengatakan bahwa kita tidak mampu membantu saat ini tanpa menyebut permintaan orang lain sebagai sesuatu yang bodoh atau tidak masuk akal.
Ketiga, tawarkan alternatif jika memang memungkinkan.
Jika tidak bisa membantu dengan uang, mungkin kita bisa membantu mencari informasi. Jika tidak dapat mengambil alih pekerjaan, mungkin kita bisa memberikan saran tentang cara menyelesaikannya.
Alternatif bukan kewajiban. Kita tidak perlu mencari solusi pengganti setiap kali menolak.
Keempat, konsisten dengan keputusan yang telah dipertimbangkan.
Jika kita sudah mengetahui bahwa suatu permintaan berada di luar kemampuan, jangan terus-menerus mengubah keputusan hanya karena tekanan atau rasa bersalah.
Kelima, tetap terbuka terhadap evaluasi.
Batas yang sehat bukan berarti kita selalu benar. Jika ternyata kita menolak karena salah memahami keadaan atau bersikap tidak adil, kita tetap perlu mengakui dan memperbaikinya.
Dengan demikian, mengatakan tidak bukan tindakan yang bertentangan dengan kebaikan.
Ia dapat menjadi bagian dari cara kita menjaga kejujuran, tanggung jawab, dan hubungan yang lebih seimbang.
Kebaikan yang Tidak Mengharapkan Balasan Tetap Membutuhkan Batas
Ada satu persoalan lain yang perlu kita perhatikan.
Kadang-kadang, kita membantu seseorang dengan harapan yang tidak pernah kita ungkapkan.
Kita berharap ia akan menghargai pengorbanan kita.
Berharap ia akan mengingat bantuan tersebut.
Berharap ketika kita kesulitan, ia akan melakukan hal yang sama.
Harapan itu manusiawi. Dalam hubungan yang dekat, saling membantu memang merupakan bagian dari kehidupan bersama.
Namun, jika seluruh kebaikan kita bergantung pada balasan yang harus diberikan orang lain, kita bisa mudah kecewa.
Kita mulai menghitung berapa banyak yang sudah diberikan.
Membandingkan pengorbanan.
Mengingat bantuan yang dahulu pernah dilakukan.
Lalu merasa marah ketika orang lain tidak membalas dengan cara yang kita bayangkan.
Di sinilah kita perlu membedakan antara membantu dengan tulus dan mengabaikan kebutuhan diri sendiri sambil diam-diam mengharapkan pengakuan.
Jika kita memang tidak mampu memberikan sesuatu tanpa merusak tanggung jawab yang lain, kita perlu jujur tentang keterbatasan tersebut sejak awal.
Jika sebuah bantuan membutuhkan kesepakatan mengenai pengembalian uang atau pembagian pekerjaan, kesepakatan itu sebaiknya disampaikan dengan jelas.
Kejujuran dapat mencegah banyak kekecewaan.
Kita tidak harus mengubah setiap hubungan menjadi transaksi yang kaku. Namun, kita juga tidak perlu berpura-pura bahwa seluruh bantuan tidak memiliki konsekuensi.
Kebaikan yang sehat tetap memperhitungkan kenyataan.
Ia tidak harus menghasilkan keuntungan pribadi, tetapi juga tidak mengharuskan kita menyangkal kemampuan dan kebutuhan sendiri.
Refleksi Penulis: Saya Ingin Tetap Baik Tanpa Kehilangan Kejujuran
Saya kira, salah satu hal yang perlu kita pelajari sepanjang hidup adalah membedakan antara menjadi orang baik dan berusaha terlihat baik di mata semua orang.
Keduanya tidak selalu sama.
Terkadang, keputusan yang paling bertanggung jawab justru membuat seseorang kecewa.
Kita menolak permintaan yang tidak mampu dipenuhi.
Kita menyampaikan keberatan terhadap tindakan yang tidak adil.
Kita berhenti mengambil alih tanggung jawab orang lain.
Kita mengakui bahwa tubuh dan pikiran membutuhkan istirahat.
Kita memilih menjaga keluarga sendiri ketika sumber daya yang tersedia terbatas.
Keputusan-keputusan seperti itu mungkin tidak selalu membuat kita disukai.
Namun, kehidupan tidak mungkin dijalani dengan menjadikan penerimaan semua orang sebagai syarat bagi setiap tindakan.
Saya juga menyadari bahwa menjaga batas bukan berarti menutup diri dari kebutuhan orang lain.
Saya tetap ingin menjadi seseorang yang bersedia membantu ketika mampu.
Saya ingin mendengarkan orang yang sedang kesulitan.
Saya ingin menjaga hubungan dengan keluarga dan teman.
Saya ingin berusaha memahami keadaan orang lain sebelum memberikan penilaian.
Namun, saya juga ingin belajar berkata jujur ketika tidak mampu.
Tidak menjanjikan sesuatu hanya demi menyenangkan seseorang.
Tidak membantu dengan cara yang membuat tanggung jawab lain terbengkalai.
Dan tidak memendam keberatan terlalu lama sampai akhirnya berubah menjadi kemarahan.
Saya tidak selalu berhasil melakukan semua itu.
Kadang, saya mungkin masih merasa bersalah ketika menolak. Kadang, saya mungkin terlalu cepat menyetujui sesuatu sebelum memikirkan akibatnya.
Tetapi mungkin, kedewasaan memang bukan keadaan ketika kita tidak pernah mengalami kesulitan.
Kedewasaan adalah kesediaan untuk memeriksa cara kita bertindak dan memperbaikinya secara bertahap.
Saya ingin tetap memiliki kepedulian tanpa menjadikan diri sendiri korban dari kebutuhan untuk selalu menyenangkan orang lain.
Saya ingin membantu tanpa menganggap bahwa seluruh persoalan orang lain merupakan tanggung jawab saya.
Dan saya ingin memahami bahwa hubungan yang baik tidak hanya membutuhkan kemurahan hati, tetapi juga kejujuran, penghormatan, dan kesediaan untuk membicarakan batas.
Sebab kita tidak akan selalu mampu memberikan semua yang dibutuhkan orang lain.
Namun, kita tetap dapat berusaha memberikan bantuan yang nyata, sesuai kemampuan, dan tidak dibangun di atas kepura-puraan.
Penutup: Kebaikan Tidak Harus Membuat Kita Kehilangan Diri Sendiri
Kita hidup bersama orang lain.
Kita saling membutuhkan.
Ada saat ketika kita harus mengalah, berbagi, mengorbankan waktu, dan membantu seseorang yang sedang mengalami kesulitan.
Tanpa kepedulian semacam itu, kehidupan bersama akan menjadi jauh lebih keras.
Namun, kita juga perlu memahami bahwa setiap manusia memiliki keterbatasan.
Waktu kita terbatas.
Tenaga kita terbatas.
Penghasilan kita terbatas.
Kemampuan kita untuk menyelesaikan persoalan orang lain juga terbatas.
Mengakui kenyataan tersebut bukan berarti menjadi egois.
Justru, kesadaran akan batas kemampuan membantu kita memberikan bantuan dengan lebih bertanggung jawab.
Kita tidak harus mengatakan ya kepada semua permintaan.
Kita tidak harus menyetujui setiap pendapat.
Kita tidak harus mempertahankan semua hubungan dengan mengorbankan ketenangan dan martabat sendiri.
Dan kita tidak harus menganggap bahwa setiap kekecewaan orang lain merupakan bukti bahwa kita telah melakukan kesalahan.
Yang perlu kita lakukan adalah memeriksa keadaan dengan jujur.
Apakah kita memang memiliki tanggung jawab yang harus dipenuhi?
Apakah kita mampu membantu tanpa mengabaikan kebutuhan yang lebih mendasar?
Apakah penolakan kita disampaikan dengan hormat?
Apakah ada cara lain untuk membantu?
Dan apakah kita sedang menjaga batas yang wajar atau sekadar menghindari tanggung jawab?
Pertanyaan-pertanyaan itu dapat membantu kita mengambil keputusan yang lebih bijaksana.
Kita mungkin tidak selalu mendapatkan respons yang menyenangkan. Ada orang yang akan memahami, ada yang membutuhkan waktu, dan ada pula yang tetap kecewa.
Namun, kita tidak harus kehilangan kepedulian hanya karena tidak semua orang menyetujui keputusan kita.
Kita juga tidak perlu kehilangan keberanian untuk berkata tidak hanya karena ingin mempertahankan citra sebagai orang baik.
Menjadi baik bukan berarti selalu mengalah. Menjadi baik berarti berusaha melakukan sesuatu yang benar dengan tetap menghormati martabat orang lain, termasuk martabat diri sendiri.
Barangkali, kita perlu mengubah cara memahami kebaikan.
Bukan sebagai kewajiban untuk selalu tersedia.
Bukan sebagai tuntutan untuk menyenangkan semua orang.
Dan bukan sebagai perlombaan untuk menunjukkan siapa yang paling banyak berkorban.
Melainkan sebagai kesediaan untuk hadir ketika mampu, membantu ketika diperlukan, berkata jujur ketika memiliki keterbatasan, dan bertindak dengan tanggung jawab ketika harus mengambil keputusan sulit.
Kita boleh peduli tanpa mengambil alih seluruh beban.
Boleh mencintai tanpa mengendalikan.
Boleh menghormati tanpa selalu menyetujui.
Dan boleh menolak tanpa menghina.
Pada akhirnya, hubungan yang sehat bukan hubungan ketika tidak pernah ada penolakan atau kekecewaan.
Hubungan yang sehat adalah hubungan yang memberi ruang bagi setiap orang untuk menyampaikan kebutuhan, menjaga batas, dan tetap saling menghormati ketika keinginan mereka tidak selalu sama.
Jadi, jika hari ini Anda merasa lelah karena terus berusaha memenuhi harapan semua orang, mungkin ada baiknya berhenti sejenak.
Periksa apa yang benar-benar menjadi tanggung jawab Anda.
Pahami apa yang masih mampu Anda lakukan.
Dan beranilah menyampaikan batas dengan jujur.
Anda tidak harus menjadi manusia yang selalu menyenangkan semua orang untuk menjadi manusia yang baik.
Sebab kebaikan yang matang bukan hanya tentang seberapa banyak kita bersedia memberikan sesuatu kepada orang lain, melainkan juga tentang bagaimana kita memberi tanpa kehilangan kejujuran, tanggung jawab, dan kemanusiaan.
Daftar Bacaan
Fromm, Erich. The Art of Loving: An Inquiry into the Nature of Love. New York: Harper & Brothers, 1956.
Brown, Brené. The Gifts of Imperfection. Center City, Minnesota: Hazelden, 2010.
Rosenberg, Marshall B. Nonviolent Communication: A Language of Life. Encinitas, California: PuddleDancer Press, berbagai edisi.

Post a Comment for "Menjadi Orang Baik Bukan Berarti Harus Selalu Mengalah"