Ayah yang Diam, Tapi Selalu Ada
Ayah tidak banyak bicara.
Tidak pandai merangkai kata.
Tidak sering bilang sayang.
Kadang kita bahkan lupa, kapan terakhir ia memeluk kita.
Atau bertanya, “kamu capek ya?”
Ayah memang begitu.
Diam.
Keras.
Seolah jauh.
Waktu kecil, kita lebih dekat pada ibu.
Kalau jatuh, kita lari ke ibu.
Kalau takut, kita panggil ibu.
Kalau sedih, kita cari ibu.
Ayah?
Ada di luar rumah.
Bekerja.
Pergi pagi.
Pulang malam.
Kita hanya tahu suaranya di ruang depan.
Batuk kecilnya.
Suara sandal yang diseret pelan.
Atau bunyi kunci saat pintu dibuka.
Lalu kita tidur lagi.
Dulu kita kira ayah tidak peduli.
Tidak peka.
Tidak mengerti dunia kita.
Sampai suatu hari kita mulai dewasa.
Mulai mengerti harga barang.
Mulai tahu lelahnya kerja.
Mulai paham arti tanggung jawab.
Baru terasa, ayah selalu ada.
Ia tidak hadir dalam kata.
Ia hadir dalam biaya sekolah.
Dalam sepatu baru di tahun ajaran.
Dalam lampu rumah yang selalu menyala.
Dalam dapur yang tidak pernah benar-benar kosong.
Ia tidak bertanya banyak.
Tapi diam-diam tahu kebutuhan kita.
Tidak memeluk sering.
Tapi memastikan kita aman.
Cintanya tidak terdengar.
Tapi terlihat.
Di telapak tangan yang kasar.
Di punggung yang makin bungkuk.
Di rambut yang diam-diam memutih.
Di wajah yang lelah, tapi tetap pulang.
Ayah jarang bilang rindu.
Tapi selalu menanyakan:
“Sudah makan?”
“Uang cukup?”
“Kapan pulang?”
Kalimat sederhana.
Tapi di dalamnya ada penjagaan.
Ada kekhawatiran.
Ada cinta yang tidak pernah belajar diucapkan.
Dan kita baru sadar,
bahwa selama ini ayah tidak pernah benar-benar jauh.
Ia hanya mencintai dengan cara yang sunyi.
Suatu hari nanti, saat kursinya kosong di rumah,
saat tidak ada lagi suara batuk di ruang depan,
saat pintu terbuka tanpa sosok yang kita tunggu—
kita akan mengerti:
ayah memang jarang berkata “aku sayang kamu,”
karena sepanjang hidupnya… ia memilih menunjukkannya.

Post a Comment for "Ayah yang Diam, Tapi Selalu Ada"