Teman Lama yang Tak Lagi Sama

Ada masa ketika kita dan seorang teman begitu dekat, sampai rasanya dunia hanya berisi dua orang: aku dan kamu. Kita tahu kebiasaan kecil masing-masing. Tahu makanan favoritnya. Tahu cerita cintanya. Bahkan tahu nada suaranya saat sedang tidak baik-baik saja.

Dulu, percakapan bisa berlangsung berjam-jam tanpa terasa. Duduk di bangku sekolah, di warung kopi sederhana, atau di sudut trotoar kota—apa pun bisa jadi bahan cerita. Kita tertawa pada hal yang sama. Mengeluh pada orang yang sama. Bermimpi tentang masa depan yang terasa luas dan belum terbagi ke banyak arah.

Lalu hidup berjalan.

Tanpa ada pertengkaran besar. Tanpa drama. Tanpa kata putus. Hubungan itu perlahan berubah.

Pesan yang dulu dibalas dalam hitungan detik, kini berhari-hari. Ajakan bertemu yang dulu spontan, kini harus menunggu jadwal kosong. Kita mulai tidak tahu kabar terbarunya, kecuali dari potongan media sosial. Ia pindah kota. Kita pindah kesibukan. Ia punya lingkaran baru. Kita pun begitu.

Tidak ada yang salah. Tidak ada yang jahat.

Hanya saja, kedekatan ternyata juga bisa usang—bukan karena rusak, tetapi karena jarang dipakai.

Kadang kita bertemu lagi, setelah sekian lama. Duduk berhadapan seperti dulu. Wajahnya masih sama. Tawa itu masih ada. Tapi ada jeda yang dulu tidak pernah terasa. Percakapan jadi hati-hati. Tidak lagi sepadat dulu. Kita seperti dua orang yang saling mengenal… namun tidak lagi saling mengetahui.

Di situ sering muncul rasa aneh: rindu pada seseorang yang masih hidup.

Bukan karena ia pergi, melainkan karena versi dirinya yang kita kenal dulu tidak lagi utuh hadir hari ini. Dan mungkin, ia pun merasakan hal yang sama pada kita.

Seiring waktu, kita belajar bahwa tidak semua hubungan berakhir dengan konflik. Ada juga yang berakhir dengan jarak. Dengan perubahan. Dengan kehidupan yang membawa masing-masing ke arah berbeda.

Dan itu tidak selalu tragis.

Sebab pernah dekat pun sudah menjadi bagian berharga dari hidup. Tidak semua orang ditakdirkan berjalan sampai akhir bersama kita. Sebagian hanya berjalan pada musim tertentu—cukup lama untuk meninggalkan jejak, namun tidak untuk menetap selamanya.

Maka ketika kita mengenang teman lama yang kini terasa asing, mungkin yang sebenarnya kita rindukan bukan hanya dirinya, tetapi juga diri kita yang pernah ada bersamanya.

Karena pada akhirnya, beberapa pertemanan memang tidak hilang—ia hanya tinggal sebagai kenangan tentang dua orang yang pernah sangat sama, sebelum hidup membuat mereka berbeda.

Post a Comment for "Teman Lama yang Tak Lagi Sama"