Kita Semua Pernah Merasa Tidak Cukup

Ada fase dalam hidup ketika kita merasa tertinggal.

Melihat orang lain melaju, sementara kita masih berjalan di tempat yang sama.

Teman lama sudah menikah.
Yang lain kariernya naik cepat.
Sebagian terlihat mapan, percaya diri, dan seolah tahu persis arah hidupnya.

Lalu kita diam-diam bertanya pada diri sendiri:
mengapa aku belum sampai di sana?

Perasaan itu jarang diucapkan keras-keras.
Tapi hadir dalam banyak momen kecil.
Saat melihat unggahan keberhasilan orang lain.
Saat reuni yang penuh cerita pencapaian.
Saat keluarga bertanya, “sekarang kerja di mana?”
Atau, “kapan menyusul?”

Bukan iri yang dominan.
Lebih sering, rasa tidak cukup.

Seolah hidup ini perlombaan yang kita jalani tanpa peta.
Dan semua orang tampak lebih dulu menemukan jalannya.

Padahal jika dilihat lebih dekat, setiap orang sebenarnya sedang membawa bebannya masing-masing.
Yang terlihat percaya diri, diam-diam cemas.
Yang terlihat sukses, menyimpan lelah.
Yang terlihat bahagia, tetap punya luka.

Hanya saja, manusia jarang menampilkan retaknya.
Kita terbiasa menunjukkan versi yang sudah rapi.
Yang layak dilihat.
Yang aman dibandingkan.

Akibatnya, kita sering mengukur diri dengan potongan terbaik hidup orang lain.
Lalu menyimpulkan bahwa diri sendiri kurang.

Perasaan tidak cukup itu perlahan bisa menggerus harga diri.
Membuat pencapaian sendiri terasa kecil.
Membuat proses terasa lambat.
Membuat diri sendiri tampak gagal, bahkan saat sebenarnya sedang bertumbuh.

Di titik tertentu, kita mulai belajar sesuatu yang penting:
hidup bukan garis lurus yang seragam.

Ada yang memang cepat di awal.
Ada yang matang di tengah.
Ada yang justru bersinar di akhir.

Tidak semua jalan harus sama.
Tidak semua waktu harus serentak.
Dan tidak semua nilai diri ditentukan oleh kecepatan.

Perasaan tidak cukup sering muncul bukan karena kita benar-benar kurang,
melainkan karena kita terlalu sering melihat keluar,
dan terlalu jarang melihat ke dalam.

Padahal di dalam diri sendiri, selalu ada proses yang sedang berlangsung.
Ada kemampuan yang tumbuh.
Ada ketahanan yang terbentuk.
Ada versi diri yang perlahan menjadi lebih utuh.

Maka ketika rasa tertinggal itu datang lagi, mungkin yang perlu diingat sederhana saja:

hidup bukan tentang siapa yang lebih cepat sampai,
tetapi tentang siapa yang tetap berjalan—
meski pernah merasa tidak cukup.

Post a Comment for "Kita Semua Pernah Merasa Tidak Cukup"