Mengapa Kita Begitu Sulit Mengakui Kesalahan, Bahkan Ketika Kita Tahu Bahwa Kita Salah?
Kadang-kadang, yang paling sulit bukan menemukan kebenaran, melainkan menerima kenyataan bahwa selama ini kita mungkin berdiri di sisi yang keliru.
Ada Saat Ketika Kita Tahu, tetapi Tidak Mau Mengakuinya
Pernahkah kita mengalami sebuah percakapan yang sebenarnya sudah selesai, tetapi masih terus berlanjut di dalam pikiran?
Kita sedang berdebat dengan seseorang. Kita menyampaikan pendapat dengan penuh keyakinan. Kita memberikan alasan. Kita membantah pendapat lawan bicara. Kita bahkan mungkin merasa telah memenangkan perdebatan itu.
Namun, beberapa jam kemudian, ketika suasana sudah tenang, kita mulai memikirkan kembali apa yang terjadi.
Kita membuka informasi yang sebelumnya belum sempat diperiksa.
Membaca ulang pesan yang dipertukarkan.
Mengingat kembali alasan yang disampaikan orang tersebut.
Lalu perlahan-lahan kita menyadari sesuatu.
Mungkin dia benar.
Mungkin argumennya lebih kuat.
Mungkin selama ini kita hanya melihat persoalan dari satu sisi.
Kita sebenarnya sudah mengetahui bahwa pendapat kita perlu diperbaiki.
Tetapi ada sesuatu yang menahan kita untuk mengakuinya.
Kita membayangkan bagaimana reaksi orang lain jika kita menarik perkataan sendiri. Kita khawatir dianggap tidak konsisten. Takut kehilangan wibawa. Takut terlihat kurang pintar. Takut orang yang berbeda pendapat dengan kita merasa menang.
Akhirnya, kita memilih diam.
Atau lebih buruk lagi, kita mencari alasan baru untuk mempertahankan pendapat yang sebenarnya sudah kita ragukan.
Kita mengubah pembicaraan.
Mencari kesalahan kecil dalam argumen lawan.
Mengalihkan perhatian kepada persoalan lain.
Semua dilakukan agar kita tidak perlu mengucapkan satu kalimat sederhana:
"Ternyata saya keliru."
Mengapa kalimat sesederhana itu bisa terasa begitu berat?
Mungkin karena yang sedang kita pertahankan bukan lagi kebenaran, melainkan gambaran tentang diri sendiri.
Kita Ingin Benar karena Ingin Dianggap Berharga
Sejak kecil, kita sering menerima penghargaan ketika memberikan jawaban yang benar.
Di sekolah, jawaban benar mendapatkan nilai baik.
Dalam perlombaan, pemenang mendapatkan penghargaan.
Dalam pekerjaan, orang yang dianggap kompeten biasanya memperoleh kepercayaan lebih besar.
Semua itu wajar. Kita memang perlu belajar, mengembangkan kemampuan, dan berusaha melakukan sesuatu dengan benar.
Namun, tanpa disadari, kita kadang membawa kebiasaan tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari.
Kita mulai merasa bahwa menjadi benar berarti menjadi lebih berharga.
Sebaliknya, melakukan kesalahan terasa seperti ancaman terhadap harga diri.
Ketika seseorang mengoreksi pendapat kita, kita tidak selalu mendengar koreksinya sebagai informasi.
Kita mendengarnya sebagai penilaian terhadap diri kita.
Ketika seseorang menunjukkan kekeliruan kita, kita merasa seolah-olah seluruh kemampuan kita sedang dipertanyakan.
Padahal, dua hal itu berbeda.
Seseorang dapat keliru dalam satu persoalan tanpa menjadi manusia yang tidak berharga.
Seseorang dapat salah mengambil keputusan tanpa berarti seluruh kehidupannya adalah kegagalan.
Seseorang dapat belum memahami sesuatu tanpa kehilangan martabatnya.
Kesalahan adalah sesuatu yang kita lakukan atau yakini. Kesalahan bukan keseluruhan diri kita.
Perbedaan ini tampak sederhana, tetapi sangat menentukan cara kita menghadapi kritik.
Jika kita menganggap kesalahan sebagai ancaman terhadap identitas, kita akan berusaha menyembunyikannya.
Namun, jika kita memahami kesalahan sebagai bagian dari proses belajar, kita memiliki ruang untuk memperbaikinya.
Mungkin kedewasaan dimulai ketika kita tidak lagi membutuhkan semua pendapat kita dianggap benar agar tetap bisa menghormati diri sendiri.
Mengapa Orang Pintar Pun Bisa Sulit Mengakui Kesalahan?
Kita sering mengira bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin mudah ia menerima koreksi.
Sayangnya, kenyataan tidak selalu demikian.
Orang yang berpendidikan tinggi tetap bisa mempertahankan pendapat yang keliru.
Seorang ahli tetap bisa salah membaca keadaan.
Seorang pemimpin tetap bisa mengambil keputusan yang buruk.
Seseorang yang banyak membaca tetap bisa menolak informasi yang bertentangan dengan keyakinannya.
Pengetahuan memang dapat membantu kita memahami persoalan. Namun, pengetahuan tidak otomatis menghilangkan kepentingan pribadi, rasa takut, atau kebutuhan untuk mempertahankan harga diri.
Bahkan, orang yang sangat terampil berargumentasi terkadang memiliki lebih banyak cara untuk membela pendapatnya sendiri.
Ia bisa menemukan alasan yang terdengar masuk akal.
Menggunakan istilah yang rumit.
Mengutip berbagai sumber.
Menyusun penjelasan panjang.
Tetapi semua kemampuan itu belum tentu digunakan untuk mencari kebenaran. Kadang-kadang, kemampuan tersebut justru digunakan untuk melindungi kesimpulan yang sudah telanjur dipilih.
Tentu saja, kita tidak bisa menyimpulkan bahwa setiap orang yang mempertahankan pendapat sedang membela ego. Ada pendapat yang memang layak dipertahankan karena memiliki bukti yang kuat.
Persoalannya adalah apakah kita masih bersedia memeriksa alasan sendiri.
Apakah kita benar-benar menimbang bukti yang tersedia?
Atau kita hanya mencari bukti yang mendukung apa yang sudah kita percayai?
Pertanyaan itu penting karena manusia tidak hanya membutuhkan kemampuan berpikir.
Kita juga membutuhkan keberanian untuk membiarkan pikiran kita dikoreksi oleh kenyataan.
Socrates dan Kesadaran Akan Batas Pengetahuan
Socrates merupakan salah satu tokoh penting dalam tradisi filsafat yang mengajarkan pentingnya memeriksa keyakinan melalui pertanyaan.
Dalam dialog-dialog Plato, Socrates kerap menguji pendapat lawan bicaranya dengan menanyakan definisi, alasan, dan konsekuensi dari apa yang mereka yakini.
Proses itu tidak selalu nyaman. Orang yang semula merasa mengetahui sesuatu bisa menyadari bahwa pengetahuannya ternyata belum cukup kuat.
Di sinilah terdapat pelajaran yang relevan bagi kehidupan kita.
Kadang-kadang, langkah pertama menuju pengetahuan bukanlah memperoleh jawaban baru, melainkan menyadari kelemahan jawaban lama.
Kita mungkin selama ini menganggap diri memahami keadilan, tetapi kesulitan menjelaskan mengapa suatu tindakan adil.
Kita mungkin merasa mengetahui sifat seseorang, tetapi tidak pernah benar-benar memeriksa dasar penilaian kita.
Kita mungkin yakin bahwa keputusan kita paling tepat, tetapi belum mempertimbangkan akibatnya bagi orang lain.
Pertanyaan yang baik dapat membuka kembali persoalan yang sebelumnya kita anggap sudah selesai.
Namun, hal itu hanya mungkin terjadi jika kita bersedia diperiksa oleh pertanyaan tersebut.
Jika setiap pertanyaan dianggap serangan, kita akan selalu sibuk mempertahankan diri.
Sebaliknya, jika pertanyaan dipandang sebagai kesempatan untuk memeriksa pemahaman, kita bisa belajar sesuatu yang sebelumnya tidak kita lihat.
Orang yang bijaksana bukan orang yang tidak pernah memiliki pendapat yang keliru, melainkan orang yang bersedia memeriksa pendapatnya ketika menemukan alasan untuk meragukannya.
Mengapa Kita Lebih Mudah Melihat Kesalahan Orang Lain?
Cobalah perhatikan bagaimana kita menanggapi kesalahan orang lain.
Ketika seorang teman terlambat, kita mungkin menganggapnya tidak disiplin.
Ketika seorang rekan kerja melakukan kekeliruan, kita menganggapnya kurang teliti.
Ketika seorang pemimpin mengambil keputusan buruk, kita mempertanyakan kemampuannya.
Namun, ketika kita sendiri terlambat, kita memiliki banyak penjelasan.
Jalanan macet.
Ada urusan mendadak.
Kita kurang tidur.
Jadwal berubah.
Begitu pula ketika kita melakukan kesalahan. Kita cenderung melihat situasi yang melatarbelakanginya, sedangkan ketika orang lain melakukan kesalahan, kita lebih mudah menilai tindakannya sebagai cerminan sifat mereka.
Ini bukan berarti semua penilaian kita terhadap orang lain pasti salah. Ada perilaku yang memang menunjukkan masalah karakter dan perlu ditanggapi secara serius.
Tetapi kita perlu menyadari bahwa kita tidak selalu memberikan kelonggaran penafsiran yang sama kepada diri sendiri dan orang lain.
Kita mengetahui alasan di balik tindakan kita, tetapi belum tentu mengetahui alasan di balik tindakan mereka.
Kita mengenal pergulatan diri sendiri, tetapi hanya melihat sebagian kecil dari kehidupan orang lain.
Karena itu, sebelum menjadikan kesalahan seseorang sebagai kesimpulan tentang seluruh dirinya, ada baiknya kita berhenti sejenak.
Apa yang sebenarnya kita ketahui?
Apa yang masih berupa dugaan?
Apakah kita sedang menilai tindakannya atau sedang merendahkan orangnya?
Dan jika kita berada dalam situasi yang sama, apakah kita yakin akan mengambil keputusan yang lebih baik?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak mengharuskan kita membenarkan kesalahan orang lain.
Ia hanya membantu kita bersikap lebih adil.
Hannah Arendt dan Tanggung Jawab untuk Berpikir
Dalam Eichmann in Jerusalem dan The Life of the Mind, Hannah Arendt membahas persoalan penilaian, tanggung jawab, serta pentingnya berpikir dalam kehidupan manusia.
Pemikiran Arendt mengajak kita memperhatikan bahwa tindakan manusia tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawab untuk mempertimbangkan apa yang sedang dilakukan dan apa konsekuensinya.
Dalam kehidupan sehari-hari, gagasan ini dapat menjadi pengingat bahwa mengikuti kebiasaan, pendapat kelompok, atau keyakinan yang sudah lama kita pegang tidak membebaskan kita dari tanggung jawab untuk berpikir.
Kita tidak cukup mengatakan bahwa semua orang juga melakukan hal yang sama.
Tidak cukup mengatakan bahwa sejak dahulu kita memang terbiasa begitu.
Tidak cukup mengatakan bahwa keputusan tersebut diambil karena semua orang menyetujuinya.
Kita tetap perlu memeriksa apakah tindakan kita benar, adil, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Ini juga berlaku ketika kita melakukan kesalahan.
Mengakui bahwa sebuah keputusan ternyata keliru bukan hanya persoalan menjaga citra pribadi. Ini merupakan bagian dari tanggung jawab terhadap akibat keputusan tersebut.
Jika kita salah menyampaikan informasi, kita perlu memperbaikinya.
Jika kita membuat keputusan yang merugikan orang lain, kita perlu mempertimbangkan bagaimana memperbaiki dampaknya.
Jika kita menyakiti seseorang melalui perkataan, kita perlu mengakui bahwa niat baik tidak otomatis menghapus akibat buruk.
Dengan demikian, mengakui kesalahan bukan sekadar tindakan emosional.
Ia adalah bagian dari tanggung jawab moral.
Meminta Maaf Tidak Sama dengan Mencari Pembenaran
Ada permintaan maaf yang benar-benar mengakui kesalahan.
Ada pula permintaan maaf yang lebih sibuk menjelaskan mengapa kesalahan itu terjadi.
Kita mungkin pernah mendengar kalimat seperti:
"Maaf kalau kamu tersinggung."
"Saya memang salah, tetapi kamu juga melakukan hal yang sama."
"Saya tidak bermaksud begitu, jadi seharusnya kamu tidak perlu marah."
Dalam beberapa keadaan, konteks memang penting. Niat seseorang juga patut dipertimbangkan.
Namun, penjelasan tentang niat tidak otomatis menyelesaikan persoalan akibat.
Seseorang bisa tidak bermaksud menyakiti, tetapi tetap menyakiti.
Seseorang bisa merasa sedang bercanda, tetapi perkataannya tetap merendahkan.
Seseorang bisa merasa telah bertindak demi kebaikan, tetapi keputusan yang diambilnya ternyata merugikan orang lain.
Karena itu, meminta maaf dengan sungguh-sungguh membutuhkan kesediaan melihat pengalaman orang lain, bukan hanya menjelaskan pengalaman diri sendiri.
Kita bisa memulai dengan kalimat yang sederhana:
"Saya memahami bahwa tindakan saya menyakiti kamu. Saya seharusnya tidak melakukan itu."
Setelah itu, kita perlu bersedia mendengarkan.
Tidak selalu membantah.
Tidak langsung menuntut agar dimaafkan.
Tidak menganggap bahwa satu permintaan maaf otomatis menghapus seluruh akibat.
Sebab memulihkan kepercayaan terkadang membutuhkan waktu dan perubahan perilaku yang konsisten.
Permintaan maaf yang tulus bukan cara untuk segera membebaskan diri dari rasa bersalah, melainkan langkah awal untuk bertanggung jawab atas kesalahan.
Ada Perbedaan antara Mengakui Kesalahan dan Merendahkan Diri
Sebagian orang mungkin menghindari pengakuan karena takut kehilangan wibawa.
Mereka khawatir jika sekali saja mengakui kekeliruan, orang lain akan terus meragukan kemampuan mereka.
Kekhawatiran ini dapat terasa nyata, terutama bagi seseorang yang memegang tanggung jawab besar.
Namun, mengakui kesalahan tidak sama dengan mengatakan bahwa semua keputusan kita buruk.
Tidak pula berarti kita harus menerima setiap kritik sebagai kebenaran.
Kita tetap boleh memeriksa kritik, menanyakan bukti, dan mempertahankan pendapat jika alasan kita kuat.
Yang dibutuhkan adalah sikap terbuka terhadap kemungkinan bahwa kita memang keliru.
Seorang pemimpin yang mengakui kekeliruan kebijakan tidak otomatis kehilangan kelayakan memimpin. Ia justru memiliki kesempatan menunjukkan bahwa tanggung jawab lebih penting daripada mempertahankan citra tanpa cela.
Seorang guru yang mengakui bahwa penjelasannya salah dapat memberikan pelajaran penting kepada muridnya.
Seorang orang tua yang meminta maaf kepada anaknya menunjukkan bahwa penghormatan tidak hanya berjalan dari orang yang lebih muda kepada yang lebih tua.
Dan seseorang yang bersedia mengoreksi informasi yang pernah disebarkannya menunjukkan bahwa kebenaran lebih penting daripada keinginan untuk selalu tampak benar.
Tentu saja, pengakuan perlu disertai tindakan. Kata-kata tanpa perbaikan dapat kehilangan makna.
Namun, titik awalnya tetap sama: kita harus berani melihat kesalahan tanpa menganggap bahwa harga diri kita akan hancur karenanya.
Di Media Sosial, Mengubah Pendapat Terasa Seperti Kekalahan
Ada persoalan tambahan dalam kehidupan digital.
Pendapat kita dapat disimpan, dibagikan, dan dilihat kembali oleh banyak orang.
Sebuah komentar yang ditulis dengan tergesa-gesa dapat terus beredar meskipun kita sudah mengubah pandangan.
Sebuah pernyataan yang dahulu kita yakini bisa menjadi bahan perdebatan bertahun-tahun kemudian.
Dalam keadaan seperti ini, mengakui kesalahan dapat terasa semakin berat.
Kita mungkin merasa harus mempertahankan pendapat lama agar terlihat konsisten.
Padahal, konsistensi tidak selalu berarti mempertahankan kesimpulan yang sama dalam segala keadaan.
Ada perbedaan antara konsisten terhadap prinsip dan keras kepala terhadap pendapat.
Prinsip dapat tetap kita jaga, sementara pemahaman kita tentang bagaimana menerapkannya berkembang.
Kita bisa tetap menghargai kejujuran sambil mengubah penilaian tentang sebuah peristiwa setelah menemukan bukti baru.
Kita bisa tetap memegang keyakinan moral sambil mengakui bahwa cara kita memperlakukan seseorang dahulu tidak adil.
Kita bisa tetap memiliki pendirian sambil memperbaiki informasi yang ternyata salah.
Karena itu, mengubah pendapat setelah mendapatkan bukti yang lebih baik tidak selalu menunjukkan kelemahan.
Justru itulah salah satu cara berpikir yang bertanggung jawab.
Kita tidak harus berpura-pura bahwa kita selalu benar pada masa lalu untuk menunjukkan bahwa kita telah belajar pada masa kini.
Mengakui Kesalahan Adalah Cara Memutus Rantai Kesalahan
Ada kesalahan yang sebenarnya dapat diperbaiki dengan relatif mudah.
Sebuah informasi yang keliru dapat dikoreksi.
Sebuah janji yang terlupakan dapat dibicarakan.
Sebuah keputusan yang buruk dapat dievaluasi.
Namun, ketika kita menolak mengakui kesalahan, persoalannya bisa berkembang menjadi lebih besar.
Kita menyusun alasan baru untuk melindungi alasan lama.
Kita menyalahkan orang lain agar tanggung jawab tidak kembali kepada kita.
Kita menutupi kekeliruan dengan tindakan lain.
Akhirnya, energi yang seharusnya digunakan untuk memperbaiki keadaan habis untuk mempertahankan citra diri.
Di tempat kerja, kebiasaan ini dapat membuat masalah terus berulang.
Dalam keluarga, ia dapat membuat luka menjadi semakin dalam.
Dalam kehidupan publik, penolakan mengakui kesalahan dapat mengurangi kepercayaan masyarakat.
Sementara itu, pengakuan yang jujur membuka kemungkinan untuk memulai perbaikan.
Tidak semua masalah langsung selesai setelah seseorang mengaku salah. Ada kerugian yang tidak mudah dipulihkan dan ada kepercayaan yang membutuhkan waktu panjang untuk dibangun kembali.
Namun, tanpa pengakuan, kita sering kali bahkan tidak sampai pada langkah pertama.
Kita tidak bisa memperbaiki sesuatu yang terus-menerus kita sangkal.
Refleksi Penulis: Saya Juga Tidak Selalu Mudah Mengaku Salah
Saya kira, salah satu hal yang perlu kita pelajari sepanjang hidup adalah menerima bahwa diri kita tidak selalu sebaik yang kita bayangkan.
Kita bisa memiliki niat baik tetapi mengambil keputusan yang buruk.
Bisa merasa sedang membela kebenaran tetapi ternyata kurang memahami persoalan.
Bisa bermaksud menolong tetapi tidak mendengarkan kebutuhan orang yang ingin kita bantu.
Bisa merasa bersikap adil tetapi ternyata memberikan penilaian yang berbeda kepada orang yang kita sukai dan orang yang tidak kita sukai.
Menyadari hal-hal itu memang tidak selalu nyaman.
Ada rasa malu.
Ada penyesalan.
Ada keinginan untuk menjelaskan bahwa sebenarnya kita tidak bermaksud demikian.
Namun, saya semakin merasa bahwa kehidupan akan sulit berkembang jika kita terus berusaha mempertahankan gambaran bahwa diri kita selalu benar.
Kita tidak harus membenci diri sendiri untuk mengakui kesalahan.
Kita juga tidak harus menganggap semua keputusan masa lalu sebagai sesuatu yang buruk.
Kita hanya perlu cukup jujur untuk melihat apa yang perlu diperbaiki.
Mungkin inilah salah satu bentuk kerendahan hati yang paling nyata: bukan terus-menerus mengatakan bahwa kita memiliki banyak kekurangan, melainkan bersedia mengubah tindakan ketika menyadari bahwa tindakan kita memang perlu diubah.
Sebab kerendahan hati yang tidak memengaruhi perilaku hanya akan menjadi kata-kata.
Bagaimana Belajar Mengakui Kesalahan?
Kita tidak perlu menunggu melakukan kesalahan besar untuk melatih kebiasaan ini.
Mulailah dari hal-hal kecil.
Ketika salah menyampaikan informasi, perbaiki tanpa mencari alasan yang tidak perlu.
Ketika memotong pembicaraan seseorang, akui bahwa kita belum memberinya kesempatan menjelaskan.
Ketika membuat janji yang tidak dapat dipenuhi, sampaikan keadaan sebenarnya dan bertanggung jawablah atas akibatnya.
Ketika mendapatkan kritik, jangan langsung menerima semuanya, tetapi jangan pula langsung menolaknya.
Tanyakan bagian mana yang memiliki dasar kuat.
Periksa kembali fakta yang tersedia.
Jika ternyata kritik itu benar, gunakan kesempatan tersebut untuk memperbaiki diri.
Kita juga perlu belajar meminta maaf tanpa menuntut orang lain segera memaafkan.
Dan yang tidak kalah penting, kita perlu membiasakan diri mengoreksi pendapat secara terbuka ketika pendapat tersebut sebelumnya telah kita sampaikan kepada orang lain.
Jika kita pernah menyebarkan informasi yang salah, jangan hanya menghapusnya diam-diam apabila orang lain sudah terlanjur menerimanya. Berikan koreksi yang jelas agar mereka juga memiliki kesempatan memperbarui pemahamannya.
Kebiasaan-kebiasaan itu mungkin tidak selalu membuat kita terlihat sempurna.
Namun, tujuannya memang bukan menjadi manusia tanpa kesalahan.
Tujuannya adalah menjadi manusia yang semakin bertanggung jawab terhadap kesalahannya.
Penutup: Tidak Ada Keharusan untuk Selalu Menjadi Orang yang Benar
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mempertahankan satu gambaran tentang diri sendiri.
Bahwa kita pintar.
Bahwa kita berpengalaman.
Bahwa keputusan kita biasanya tepat.
Bahwa kita memahami persoalan lebih baik daripada orang lain.
Semua itu mungkin memiliki dasar. Kita tentu boleh menghargai pengetahuan dan pengalaman yang telah kita kumpulkan.
Namun, tidak ada manusia yang selalu benar.
Kehidupan terlalu luas.
Pengetahuan kita terbatas.
Informasi dapat berubah.
Keadaan tidak selalu dapat diperkirakan.
Dan orang lain mungkin melihat sesuatu yang luput dari perhatian kita.
Karena itu, tidak perlu menjadikan kesempurnaan sebagai syarat untuk menghormati diri sendiri.
Kita boleh salah.
Tetapi kita harus bersedia memeriksa kesalahan itu.
Kita boleh keliru mengambil keputusan.
Tetapi kita perlu belajar dari akibatnya.
Kita boleh memiliki pendapat yang kemudian berubah.
Tetapi kita harus berani menjelaskan mengapa kita mengubahnya.
Dan jika tindakan kita telah menyakiti orang lain, kita perlu berusaha memperbaikinya tanpa menganggap bahwa permintaan maaf menghapus seluruh tanggung jawab.
Pada akhirnya, mungkin ukuran kedewasaan bukanlah seberapa sering kita berhasil membuktikan bahwa orang lain salah.
Melainkan seberapa berani kita memeriksa kemungkinan bahwa diri kita sendiri yang keliru.
Sebab mempertahankan pendapat dapat membuat kita terlihat kuat untuk sementara waktu.
Namun, mengakui kesalahan membutuhkan sesuatu yang lebih dalam: kejujuran, kerendahan hati, dan kesediaan untuk berubah.
Jadi, ketika suatu hari kita menyadari bahwa pendapat kita salah, tidak perlu buru-buru menyusun pembelaan.
Berhentilah sejenak.
Periksa kembali.
Akui jika memang perlu.
Lalu perbaiki apa yang masih bisa diperbaiki.
Kita tidak kehilangan martabat hanya karena mengakui kesalahan.
Justru kita memberi diri sendiri kesempatan untuk menjadi lebih baik daripada sebelumnya.
Sebab manusia yang bijaksana bukanlah manusia yang selalu benar, melainkan manusia yang tidak membiarkan harga dirinya menjadi penghalang bagi kebenaran.
Dan mungkin, salah satu kalimat paling dewasa yang bisa kita ucapkan sepanjang hidup adalah kalimat yang sederhana:
"Saya keliru. Terima kasih sudah mengingatkan. Saya akan memperbaikinya."
Tidak selalu mudah mengucapkannya.
Tetapi dari sanalah perubahan yang sesungguhnya bisa dimulai.
Daftar Bacaan
Plato. Apology. Berbagai edisi dan terjemahan. Dialog ini merupakan salah satu sumber utama untuk memahami cara Socrates menghadapi pertanyaan tentang pengetahuan, kebajikan, dan pemeriksaan terhadap keyakinan.
Arendt, Hannah. Eichmann in Jerusalem: A Report on the Banality of Evil. New York: Viking Press, 1963.
Arendt, Hannah. The Life of the Mind. New York: Harcourt Brace Jovanovich, 1978.
Hamka. Falsafah Hidup. Jakarta: Republika Penerbit, berbagai edisi.

Post a Comment for "Mengapa Kita Begitu Sulit Mengakui Kesalahan, Bahkan Ketika Kita Tahu Bahwa Kita Salah?"