Terlalu Sibuk Menilai Hidup Orang Lain, Sampai Lupa Memperbaiki Diri Sendiri

Kadang-kadang, kita begitu mudah melihat kekurangan orang lain karena belum cukup berani memeriksa apa yang perlu diperbaiki dalam diri sendiri.

Kita Selalu Punya Sesuatu untuk Dikomentari

Perhatikan percakapan sehari-hari di sekitar kita.

Ada orang yang baru membeli mobil, lalu muncul komentar bahwa ia sedang pamer kekayaan.

Ada seseorang yang memilih hidup sederhana, lalu dianggap tidak memiliki ambisi.

Ada anak muda yang belum menikah, kemudian ditanya mengapa terlalu lama memilih.

Ada pasangan yang menikah pada usia muda, lalu diperingatkan bahwa mereka belum cukup matang.

Seseorang bekerja keras, dianggap terlalu mengejar dunia.

Seseorang lebih banyak beristirahat, dianggap malas.

Seseorang sering membagikan pencapaian, dianggap mencari perhatian.

Seseorang jarang berbicara tentang dirinya, dianggap tidak memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan.

Seolah-olah apa pun pilihan seseorang, selalu ada sudut pandang yang bisa digunakan untuk menyalahkannya.

Kita hidup di tengah masyarakat yang penuh dengan penilaian. Sebagian diperlukan untuk menjaga kehidupan bersama. Kita memang perlu membicarakan perilaku yang merugikan, mengkritik kebijakan yang tidak adil, dan mengingatkan ketika seseorang melakukan kesalahan.

Namun, ada perbedaan antara menilai tindakan yang memiliki akibat nyata dan merasa berhak mengomentari setiap pilihan hidup orang lain.

Tidak semua hal yang berbeda dari kebiasaan kita merupakan kesalahan.

Tidak semua keputusan yang tidak kita pahami merupakan keputusan yang buruk.

Dan tidak semua kehidupan harus mengikuti ukuran yang kita gunakan untuk diri sendiri.

Persoalannya, kita terkadang terlalu cepat memberikan penilaian sebelum memahami keadaan.

Kita melihat hasil, tetapi tidak mengetahui prosesnya.

Kita mendengar cerita, tetapi tidak mengetahui seluruh latar belakangnya.

Kita melihat keputusan seseorang, tetapi tidak mengetahui pertimbangan yang membuatnya memilih jalan tersebut.

Lalu, dengan informasi yang terbatas, kita menyusun kesimpulan seolah-olah telah memahami semuanya.

Mungkin kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: apakah kita benar-benar sedang berusaha memahami orang lain, atau sekadar ingin merasa bahwa cara hidup kita lebih baik daripada cara hidup mereka?

Mengapa Kehidupan Orang Lain Begitu Menarik untuk Dibicarakan?

Ada sesuatu yang membuat kehidupan orang lain mudah menarik perhatian kita.

Kita ingin tahu siapa yang berhasil.

Siapa yang gagal.

Siapa yang menikah.

Siapa yang bercerai.

Siapa yang penghasilannya meningkat.

Siapa yang kehilangan pekerjaan.

Siapa yang membeli rumah.

Siapa yang sedang menghadapi masalah.

Rasa ingin tahu terhadap kehidupan sosial sebenarnya bukan sesuatu yang selalu buruk. Manusia hidup bersama orang lain, dan memahami keadaan sekitar dapat membantu kita belajar, membangun hubungan, serta mengambil keputusan.

Kita bisa belajar dari pengalaman orang lain tanpa harus mengalami semua kesalahan yang sama.

Kita bisa mengambil inspirasi dari seseorang yang berhasil melewati kesulitan.

Kita juga bisa memahami persoalan sosial melalui cerita orang-orang di sekitar kita.

Namun, rasa ingin tahu dapat berubah menjadi kebiasaan yang tidak sehat ketika kehidupan orang lain terus menjadi bahan perbandingan, bahan gosip, atau ukuran untuk menentukan harga diri kita sendiri.

Kita merasa lebih baik ketika melihat seseorang mengalami kegagalan.

Kita merasa tertinggal ketika melihat orang lain mencapai sesuatu yang belum kita miliki.

Kita merasa lebih benar ketika menemukan kesalahan orang yang berbeda pandangan.

Dalam keadaan seperti itu, perhatian kita tidak lagi digunakan untuk memahami kehidupan. Perhatian tersebut menjadi alat untuk mengukur posisi diri sendiri.

Kita tidak cukup hanya ingin mengetahui bagaimana orang lain hidup.

Kita ingin memastikan bahwa kehidupan kita lebih baik daripada kehidupan mereka.

Padahal, kebahagiaan yang dibangun di atas perbandingan semacam itu sangat rapuh. Selalu ada orang yang lebih kaya, lebih terkenal, lebih pintar, atau lebih berhasil menurut ukuran tertentu.

Jika harga diri kita bergantung pada posisi relatif terhadap orang lain, kita akan terus membutuhkan seseorang untuk dibandingkan.

Dan ketika perhatian terlalu banyak diarahkan ke luar, kita bisa kehilangan kesempatan untuk memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam diri sendiri.

Kita Mengetahui Kesalahan Orang Lain, tetapi Sering Tidak Mengenali Kesalahan Sendiri

Ada kecenderungan yang menarik dalam cara manusia menilai perilaku.

Ketika melihat orang lain melakukan kesalahan, kita sering berfokus pada sifat atau karakter orang tersebut.

Seseorang terlambat, lalu kita menyebutnya tidak disiplin.

Seseorang gagal menyelesaikan pekerjaan, lalu kita menganggapnya tidak kompeten.

Seseorang berbicara dengan nada tinggi, lalu kita menyimpulkan bahwa ia tidak mampu mengendalikan emosi.

Namun, ketika kita sendiri melakukan hal serupa, penjelasan yang muncul bisa sangat berbeda.

Kita terlambat karena jalanan macet.

Kita tidak menyelesaikan pekerjaan karena terlalu banyak tanggung jawab.

Kita berbicara dengan nada tinggi karena sedang kelelahan atau menghadapi tekanan.

Tentu saja, keadaan memang dapat menjelaskan mengapa seseorang bertindak dengan cara tertentu. Konteks penting untuk memahami perilaku manusia secara adil.

Masalahnya muncul ketika kita memberikan konteks kepada diri sendiri, tetapi tidak bersedia mempertimbangkan konteks yang mungkin dihadapi orang lain.

Kita mengetahui kesulitan yang kita alami, tetapi hanya melihat tindakan orang lain dari permukaan.

Kita mengenal alasan di balik keputusan sendiri, tetapi menganggap keputusan orang lain sebagai bukti kelemahan karakternya.

Akibatnya, kita lebih mudah memaafkan diri sendiri dan lebih cepat menghukum orang lain.

Ini bukan berarti kita harus berhenti mengkritik perilaku yang keliru. Ada tindakan yang memang perlu dipertanggungjawabkan, terutama jika merugikan orang lain.

Namun, kita perlu membedakan antara mengkritik sebuah tindakan dan menganggap diri kita memiliki pemahaman lengkap tentang keseluruhan pribadi seseorang.

Seseorang bisa melakukan kesalahan tanpa seluruh dirinya dapat diringkas menjadi kesalahan tersebut.

Dan kita pun demikian.

Kita ingin orang lain memahami keadaan yang melatarbelakangi kesalahan kita. Barangkali, kita perlu belajar memberikan kesempatan yang sama kepada mereka.

Socrates dan Pentingnya Memeriksa Diri

Dalam dialog Apology karya Plato, Socrates digambarkan sebagai seseorang yang mempertanyakan keyakinan dan pemahaman orang-orang di sekitarnya. Ia menguji berbagai klaim pengetahuan dengan pertanyaan, bukan sekadar menerima apa yang dianggap benar oleh masyarakat.

Tradisi pemikiran ini memberikan pelajaran yang penting bagi kehidupan sehari-hari: sebelum merasa yakin telah memahami orang lain, kita perlu memeriksa dasar penilaian kita sendiri.

Apa yang sebenarnya kita ketahui?

Dari mana informasi itu berasal?

Apakah kita telah mendengar kedua sisi cerita?

Apakah kesimpulan kita didasarkan pada bukti atau hanya pada dugaan?

Apakah kita sedang berusaha mencari kebenaran atau sekadar membenarkan pendapat yang sudah kita miliki?

Pertanyaan semacam ini sederhana, tetapi membutuhkan kerendahan hati.

Kita harus bersedia mengakui bahwa informasi yang kita miliki mungkin belum lengkap.

Kita harus bersedia menerima kemungkinan bahwa penilaian pertama kita keliru.

Dan kita perlu menyadari bahwa pengalaman pribadi tidak selalu cukup untuk menjelaskan pengalaman orang lain.

Misalnya, seseorang mungkin memilih pekerjaan dengan penghasilan lebih kecil karena perlu merawat anggota keluarga.

Orang lain mungkin belum memiliki rumah bukan karena tidak bekerja keras, melainkan karena harus membantu membiayai pendidikan saudara atau menanggung kebutuhan keluarga.

Seseorang mungkin tidak hadir dalam sebuah pertemuan karena sedang menghadapi persoalan yang tidak ingin ia ceritakan kepada banyak orang.

Kita tidak harus mengetahui seluruh kehidupan mereka. Setiap orang berhak memiliki privasi.

Namun, justru karena kita tidak mengetahui semuanya, kita perlu berhati-hati ketika menyusun penilaian.

Sikap kritis tidak hanya diperlukan untuk menguji pendapat orang lain.

Ia juga diperlukan untuk memeriksa pikiran kita sendiri.

Hannah Arendt dan Tanggung Jawab untuk Berpikir

Hannah Arendt, melalui karya-karyanya seperti The Life of the Mind, membahas pentingnya berpikir dan menilai dalam kehidupan manusia.

Pemikirannya mengajak kita memperhatikan bahwa manusia tidak seharusnya hanya mengikuti kebiasaan atau menerima penilaian yang beredar tanpa pemeriksaan.

Dalam kehidupan sosial, pendapat tentang seseorang sering terbentuk melalui cerita yang berulang.

Satu orang menyampaikan dugaan.

Orang lain mengulanginya.

Kemudian semakin banyak orang memperlakukannya sebagai fakta.

Lama-kelamaan, reputasi seseorang bisa dibentuk oleh cerita yang belum tentu benar atau tidak lagi sesuai dengan kenyataan.

Kita mungkin ikut menyebarkan komentar tentang seseorang tanpa pernah berbicara langsung dengannya.

Kita ikut menertawakan kekurangannya karena orang lain melakukannya.

Kita menganggap suatu kelompok memiliki sifat tertentu karena gambaran itu sudah sering kita dengar.

Di sinilah tanggung jawab untuk berpikir menjadi penting.

Kita tidak harus menerima semua pendapat yang beredar.

Kita juga tidak harus ikut memberikan komentar hanya karena sebuah topik sedang ramai dibicarakan.

Kadang, keputusan untuk tidak menyebarkan informasi yang belum jelas merupakan tindakan yang lebih bertanggung jawab daripada ikut menjadi bagian dari keramaian.

Kadang, memilih bertanya sebelum menilai merupakan bentuk penghormatan yang sederhana.

Dan kadang, kita perlu mengakui bahwa kita tidak memiliki cukup informasi untuk menyimpulkan sesuatu.

Mengatakan "saya belum tahu" bukan tanda kelemahan.

Justru ada kejujuran intelektual di dalamnya.

Kita tidak wajib memiliki pendapat tentang setiap persoalan.

Kita tidak harus mengomentari setiap pilihan hidup orang lain.

Dan kita tidak perlu menjadikan setiap perbedaan sebagai kesempatan untuk membuktikan bahwa diri kita lebih benar.

Media Sosial Membuat Penilaian Menjadi Lebih Cepat

Media sosial memberi kita akses kepada begitu banyak potongan kehidupan manusia.

Kita melihat pencapaian, perjalanan, pekerjaan, hubungan, pendapat, dan berbagai peristiwa yang dialami orang lain.

Namun, apa yang terlihat di layar biasanya hanya sebagian dari kehidupan mereka.

Kita melihat foto seseorang sedang menikmati liburan, tetapi tidak mengetahui berapa lama ia menabung untuk perjalanan itu.

Kita melihat seseorang memperoleh pekerjaan baru, tetapi tidak mengetahui berapa banyak penolakan yang pernah ia alami.

Kita melihat sebuah keluarga tampak bahagia, tetapi tidak mengetahui persoalan yang mereka selesaikan secara pribadi.

Kita melihat seseorang menyampaikan pendapat dengan percaya diri, tetapi tidak mengetahui seluruh proses belajar yang membentuk pemikirannya.

Tentu saja, tidak semua unggahan merupakan gambaran yang tidak utuh dengan sengaja. Orang memang memilih bagian kehidupan yang ingin dibagikan. Itu hak mereka.

Namun, kita perlu menyadari bahwa informasi yang terbatas tidak selalu cukup untuk menyusun penilaian yang menyeluruh.

Masalah lainnya adalah kecepatan.

Kita dapat memberikan komentar dalam hitungan detik.

Membagikan informasi sebelum memeriksa kebenarannya.

Menyimpulkan karakter seseorang berdasarkan satu potongan video.

Bahkan ikut mempermalukan seseorang sebelum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Dalam keadaan seperti ini, kemampuan untuk menunda penilaian menjadi semakin berharga.

Tidak semua hal perlu segera dikomentari.

Tidak semua kesalahan orang lain harus dijadikan tontonan.

Dan tidak semua informasi yang membuat kita marah layak langsung kita sebarkan.

Sebelum memberikan penilaian, kita bisa bertanya apakah komentar kita membantu memperjelas persoalan atau justru menambah keributan.

Apakah kita sedang berusaha memperbaiki keadaan atau sekadar menikmati kesempatan untuk merendahkan seseorang.

Pertanyaan itu penting karena tindakan di dunia digital juga memiliki akibat nyata bagi kehidupan manusia.

Mengkritik Tetap Perlu, tetapi Menghina Bukan Keharusan

Membicarakan kebiasaan menilai orang lain bukan berarti kita harus diam ketika melihat kesalahan.

Masyarakat membutuhkan kritik.

Kebijakan yang merugikan publik perlu dipertanyakan.

Perilaku yang menyakiti orang lain perlu dihentikan.

Penyalahgunaan kekuasaan perlu diungkap.

Informasi yang keliru perlu dikoreksi.

Kita tidak boleh menggunakan ajakan untuk tidak menghakimi sebagai alasan untuk membiarkan ketidakadilan berlangsung.

Namun, kritik yang bertanggung jawab berbeda dari penghinaan.

Kritik berusaha menunjukkan apa yang keliru, mengapa hal itu bermasalah, dan apa yang perlu diperbaiki.

Penghinaan lebih sering berusaha menjatuhkan martabat orang yang menjadi sasaran.

Kritik dapat didasarkan pada bukti dan alasan yang bisa diperiksa.

Penghinaan sering kali menggunakan ejekan, label, atau serangan terhadap hal-hal pribadi yang tidak relevan dengan persoalan.

Kita bisa mengatakan bahwa sebuah keputusan tidak adil tanpa menyebut orang yang mengambilnya sebagai manusia yang tidak memiliki nilai.

Kita bisa membantah argumen tanpa merendahkan kemampuan intelektual lawan bicara.

Kita bisa menuntut pertanggungjawaban tanpa menyebarkan informasi pribadi yang tidak berkaitan dengan kepentingan publik.

Tentu saja, dalam keadaan tertentu, tindakan yang dilakukan seseorang memang perlu dinilai dengan tegas. Namun, ketegasan tidak mengharuskan kita kehilangan kejernihan.

Justru ketika persoalan sangat penting, kita membutuhkan penilaian yang lebih cermat.

Kita tidak perlu memilih antara menjadi kritis dan menjadi manusiawi. Keduanya bisa berjalan bersama.

Mengapa Memperbaiki Diri Sendiri Terasa Lebih Sulit?

Mengamati kesalahan orang lain terkadang terasa mudah karena kita berdiri di luar persoalan.

Kita tidak menanggung langsung akibat keputusan mereka.

Kita tidak merasakan seluruh tekanan yang mereka alami.

Kita dapat melihat tindakan mereka dari jarak yang membuat penilaian terasa sederhana.

Sebaliknya, memeriksa diri sendiri membutuhkan keberanian untuk menghadapi hal-hal yang mungkin tidak ingin kita akui.

Kita harus bertanya apakah kita pernah bersikap tidak adil.

Apakah kita pernah menghakimi seseorang berdasarkan penampilan.

Apakah kita pernah menyebarkan cerita yang belum jelas.

Apakah kita pernah merasa senang ketika orang lain gagal.

Apakah kita pernah menggunakan kelemahan seseorang untuk merasa lebih unggul.

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu nyaman.

Namun, jika kita tidak pernah mengajukannya kepada diri sendiri, kita mungkin akan terus mengulangi kebiasaan yang sama sambil merasa bahwa masalah selalu berada di luar diri kita.

Memperbaiki diri bukan berarti menganggap diri sendiri selalu salah.

Bukan pula berarti kita harus terus-menerus merasa bersalah.

Memperbaiki diri berarti bersedia melihat tindakan sendiri dengan ukuran yang cukup adil: mengakui kekeliruan, menghargai hal yang sudah dilakukan dengan baik, dan memperbaiki bagian yang memang perlu diperbaiki.

Kita dapat memulai dengan sesuatu yang sederhana.

Ketika ingin mengomentari kehidupan seseorang, tanyakan apakah komentar itu benar-benar diperlukan.

Ketika mendengar cerita buruk tentang orang lain, tanyakan apakah kita mengetahui faktanya.

Ketika merasa lebih baik daripada seseorang, periksa apakah perasaan itu muncul dari rasa syukur atau dari keinginan merendahkan.

Ketika menerima kritik, jangan hanya mencari kesalahan orang yang mengkritik. Periksa juga apakah ada bagian dari kritik itu yang patut dipertimbangkan.

Perubahan seperti ini tidak terjadi dalam satu malam.

Namun, kebiasaan kecil dapat mengubah cara kita berhubungan dengan orang lain.

Kita Tidak Mengetahui Seluruh Perjuangan yang Sedang Dijalani Seseorang

Ada satu kenyataan yang patut kita ingat setiap kali tergoda memberikan penilaian terlalu cepat.

Kita tidak mengetahui seluruh kehidupan orang lain.

Kita tidak mengetahui semua kesulitan yang pernah mereka alami.

Tidak mengetahui pengorbanan yang mereka lakukan.

Tidak mengetahui pilihan-pilihan sulit yang harus mereka ambil.

Dan tidak mengetahui seluruh alasan yang membentuk keputusan mereka.

Tentu saja, ketidaktahuan itu tidak membuat semua tindakan otomatis benar.

Setiap orang tetap bertanggung jawab atas perilakunya, terutama ketika tindakannya merugikan orang lain.

Namun, keterbatasan pengetahuan seharusnya membuat kita lebih berhati-hati, bukan semakin percaya diri dalam menyimpulkan.

Mungkin seseorang sedang berusaha memperbaiki kehidupannya setelah melewati masa yang sulit.

Mungkin seseorang mengambil keputusan yang tidak kita pahami karena memiliki tanggung jawab yang tidak kita ketahui.

Mungkin seseorang belum mencapai sesuatu yang dianggap penting oleh masyarakat karena sedang berjuang memenuhi kebutuhan yang jauh lebih mendasar.

Kita tidak harus mengetahui semua detail kehidupan mereka untuk menghormati martabatnya.

Kita juga tidak perlu menyetujui seluruh pilihan mereka untuk mengakui bahwa manusia lebih rumit daripada penilaian singkat yang kita berikan.

Ada baiknya kita membiarkan sebagian kehidupan orang lain tetap menjadi sesuatu yang tidak kita ketahui.

Tidak semua hal harus kita selidiki.

Tidak semua cerita harus kita komentari.

Dan tidak semua keputusan perlu kita jadikan ukuran untuk menilai kehidupan sendiri.

Refleksi Penulis: Saya Ingin Lebih Sedikit Menghakimi dan Lebih Banyak Memahami

Saya kira, salah satu kebiasaan yang perlu terus kita periksa adalah kecenderungan untuk merasa memahami sesuatu hanya karena kita telah melihat sebagian kecil darinya.

Kita melihat satu tindakan, lalu menyimpulkan karakter.

Mendengar satu cerita, lalu menetapkan siapa yang benar.

Melihat satu pencapaian, lalu menilai keberhasilan seseorang.

Padahal, kehidupan manusia jauh lebih rumit daripada apa yang tampak dari luar.

Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa kita harus selalu berprasangka baik kepada semua orang tanpa pertimbangan. Kita tetap perlu berhati-hati, mengenali perilaku yang merugikan, dan menjaga diri dari hubungan yang tidak sehat.

Namun, saya ingin belajar membedakan antara kehati-hatian dan kebiasaan menghakimi.

Kehati-hatian membantu kita mengambil keputusan yang lebih aman.

Kebiasaan menghakimi membuat kita merasa telah memahami orang lain sebelum benar-benar memeriksa persoalannya.

Saya juga ingin lebih sering memeriksa alasan di balik komentar yang hendak saya sampaikan.

Apakah saya ingin membantu?

Apakah saya ingin memperjelas persoalan?

Apakah saya memiliki informasi yang cukup?

Atau saya hanya ingin merasa lebih baik daripada orang yang sedang dibicarakan?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak selalu menyenangkan.

Namun, barangkali justru itulah manfaat refleksi: memberi kita kesempatan untuk melihat bagian diri yang biasanya tersembunyi di balik keyakinan bahwa kita sedang menilai orang lain dengan benar.

Saya tidak berharap bisa menghilangkan seluruh penilaian. Itu mungkin tidak realistis.

Saya hanya ingin belajar agar penilaian tidak menjadi kebiasaan yang menguasai cara saya memandang manusia.

Sebab kehidupan sudah cukup rumit tanpa harus terus-menerus menjadikan kekurangan orang lain sebagai bahan untuk meninggikan diri sendiri.

Penutup: Perhatian Kita Adalah Bagian dari Kehidupan Kita

Setiap hari, kita memiliki pilihan tentang ke mana perhatian akan diarahkan.

Kita bisa menghabiskan banyak waktu mengikuti kehidupan orang lain.

Membicarakan keputusan mereka.

Membandingkan pencapaian mereka dengan pencapaian kita.

Memperdebatkan pilihan yang tidak kita pahami.

Atau kita bisa menggunakan sebagian perhatian itu untuk mengenali kehidupan sendiri.

Apa yang sebenarnya ingin kita bangun?

Kebiasaan apa yang perlu diperbaiki?

Hubungan mana yang perlu dirawat?

Pengetahuan apa yang masih perlu dipelajari?

Tanggung jawab apa yang selama ini kita tunda?

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak selalu menghasilkan jawaban yang mudah. Memperbaiki kehidupan sendiri membutuhkan waktu, kesabaran, dan kesediaan menghadapi kenyataan yang terkadang tidak menyenangkan.

Namun, di sanalah kita memiliki ruang untuk bertindak secara nyata.

Kita tidak dapat menjalani kehidupan orang lain untuk mereka.

Kita tidak dapat menentukan seluruh keputusan mereka.

Kita juga tidak dapat memastikan bahwa semua orang akan memilih jalan yang kita anggap benar.

Yang bisa kita lakukan adalah menyampaikan kritik ketika diperlukan, memberikan bantuan ketika mampu, menjaga batas ketika dibutuhkan, dan menghormati hak orang lain untuk menjalani kehidupan yang berbeda.

Sementara itu, kita tetap bertanggung jawab atas pilihan kita sendiri.

Jangan sampai kita mengetahui begitu banyak kekurangan orang lain, tetapi tidak pernah menyediakan waktu untuk memperbaiki kekurangan sendiri.

Jangan sampai kita begitu cepat menemukan kesalahan orang lain, tetapi selalu memiliki alasan ketika kesalahan yang sama terjadi pada diri kita.

Dan jangan sampai perhatian kita habis untuk membandingkan kehidupan, hingga lupa membangun sesuatu yang benar-benar berarti.

Sebab kehidupan kita terlalu berharga jika seluruhnya dihabiskan untuk menilai kehidupan orang lain.

Kita boleh belajar dari orang lain.

Boleh mengkritik tindakan yang keliru.

Boleh memperjuangkan keadilan.

Namun, kita juga perlu memiliki kerendahan hati untuk mengakui bahwa pengetahuan kita terbatas dan pemahaman kita dapat berubah.

Barangkali, dunia tidak membutuhkan lebih banyak orang yang selalu merasa paling benar.

Dunia membutuhkan lebih banyak orang yang berani berpikir dengan jernih, mengkritik dengan bertanggung jawab, dan memperbaiki diri tanpa harus merendahkan orang lain.

Maka, sebelum kembali memberikan penilaian kepada seseorang, cobalah berhenti sejenak.

Periksa apa yang kita ketahui.

Pertimbangkan apa yang belum kita pahami.

Dan tanyakan kepada diri sendiri apakah ada sesuatu yang lebih berguna untuk kita lakukan.

Mungkin kita tidak perlu memberikan komentar.

Mungkin kita perlu mencari informasi yang lebih lengkap.

Mungkin kita perlu menyampaikan kritik dengan cara yang lebih baik.

Atau mungkin, untuk hari ini, kita hanya perlu kembali mengerjakan hal-hal yang menjadi tanggung jawab kita.

Sebab pada akhirnya, kedewasaan tidak diukur dari seberapa cepat kita menemukan kekurangan orang lain.

Kedewasaan tumbuh ketika kita mampu melihat kekurangan itu tanpa kehilangan keadilan, dan ketika kita berani memeriksa diri sendiri dengan kejujuran yang sama.


Daftar Bacaan

  1. Plato. Apology. Berbagai edisi dan terjemahan. Dialog ini merupakan salah satu sumber utama untuk memahami pemeriksaan terhadap klaim pengetahuan dan keyakinan.

  2. Arendt, Hannah. The Life of the Mind. New York: Harcourt Brace Jovanovich, 1978.

  3. Fromm, Erich. The Art of Loving: An Inquiry into the Nature of Love. New York: Harper & Brothers, 1956.


Post a Comment for "Terlalu Sibuk Menilai Hidup Orang Lain, Sampai Lupa Memperbaiki Diri Sendiri"